JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina terus menggalakkan cost optimization menjadi salah satu budaya perusahaan melalui program OPTIMUS (Optimization Upstream).

Wiko Migantoro, Direktur Pengembangan dan Produksi Subholding Upstream Pertamina, mengatakan minyak dan gas bumi (Migas) merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan memiliki sifat penurunan produksi secara alamiah. Untuk mengelolanya, diperlukan penggunaan biaya yang efisien dan optimum agar tidak timbul biaya tinggi. Di samping itu, fluktuasi harga komoditas yang disebabkan oleh beberapa faktor di masa transisi energi dan situasi geopolitik memerlukan banyak upaya inovasi dan optimasi di lingkungan PHE.
“Program OPTIMUS adalah inovasi berupa optimalisasi biaya yang menjadi budaya perusahaan dalam mencapai volume produksi yang direncanakan dengan biaya yang lebih rendah,” kata Wiko, Selasa (5/4).

Program OPTIMUS yang telah berlangsung sejak Januari 2021 diluncurkan dengan tujuan menjaga keberlangsungan operasi, kemampuan investasi dan menciptakan laba di Subholding Upstream Pertamina.

Pada tahun 2021, program OPTIMUS berhasil mencatatkan optimasi biaya hingga US$581 juta yang dilakukan di seluruh Regional dibawah pengelolaan Subholding Upstream Pertamina.

Terdapat beberapa program optimasi ABO (Anggaran Biaya Operasi) antara lain seperti penggunaan material ex-WK Terminasi di Regional Sumatera dan Jawa, biaya sewa ESP dengan merubah skema rental ke purchase di Regional Jawa, efisiensi production cost di PIEP non operator di Regional Internasional serta penggunaan chemical untuk waxy crude oil di Regional Indonesia Timur.

Selain itu, pertumbuhan pendapatan tahun 2021 juga diperoleh melalui beberapa program antara lain produksi dan lifting percepatan proyek Marakesh serta tambahan penjualan cargo LNG PHSS dan PHM di Regional Kalimantan. Di Regional Sumatera juga mempunyai program peningkatan pendapatan melalui efek peningkatan lifting dari RKAP. Selain itu, pengembalian pajak sesuai keputusan Mahkamah Agung di Regional Indonesia Timur juga turut menyumbang pertumbuhan pendapatan di lingkungan Subholding Upstream Pertamina.

“Tahun 2022, upaya untuk optimisasi biaya dan pertumbuhan pendapatan terus dilakukan dengan target sebesar US$160 juta. Upaya tersebut dilakukan melalui pembentukan gugus tugas dengan mengedepankan sinergi serta kolaboratif dari berbagai fungsi di Subholding Upstream Pertamina dengan penguatan stream business support. Hingga Februari 2022 Subholding Upstream Pertamina mencatatakan optimasi biaya capai US$19,5 juta,” kata Wiko.(RA)