JAKARTA – Ribuan desa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) berpotensi segera lepas dari ketergantungan solar dan LPG. Teknologi mini gasifier portabel hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Comestoarra Bentarra Noesantarra (Comestoarra) kini memasuki tahap verifikasi akhir sebelum diproduksi massal.

Kerja sama verifikasi dan penyempurnaan teknologi itu diresmikan lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Jan Setiawan, dan pimpinan Comestoarra, Arief Noerhidayat, Jumat (12/6) di Jakarta. PKS ini menindaklanjuti Nota Kesepahaman yang diteken 3 Oktober 2025.

Berbeda dari gasifikasi konvensional, mini gasifier Comestoarra dirancang portabel dan sudah terintegrasi dengan panel surya plus baterai penyimpan. Sistem hibrida biomassa-surya ini menyasar langsung daerah yang selama ini bergantung pada PLTD dan tabung LPG 3 kg.

“Targetnya jelas, program de-dieselisasi pemerintah. Banyak pulau kecil masih nyala listrik pakai solar. Mini gasifier ini pakai pelet biomassa dari limbah desa, jadi biaya operasi lebih murah dan pasokan bahan baku ada di sekitar warga,” kata Jan Setiawan.

Jan menegaskan BRIN masuk untuk memastikan alat ini lolos standar teknis, andal, dan bisa direplikasi industri nasional. “Jangan sampai alatnya ada, tapi 3 bulan rusak. Harus jadi produk nasional yang siap pakai,” ujarnya.

Anggota Dewan Energi Nasional Bidang Teknologi, Unggul Priyanto, menyebut keunggulan utama ada di multifungsi. “Teknologi gasifikasi sudah proven. Yang beda, alat Comestoarra ini portabel, nyatu dengan surya, dan gasnya bisa buat masak. Jadi satu alat jawab dua kebutuhan: listrik dan pengganti LPG,” kata Unggul.

Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Milton Pakpahan, menilai skema komunal berbasis limbah desa ini paling realistis untuk kepulauan. “Daripada kirim solar terus, lebih baik olah limbah jadi energi di tempat,” ujarnya.

Direktur Energi Baru EBTKE Senda Hurmuzan Kanam menyebut teknologi ini sejalan dengan target bauran EBT sekaligus pengurangan sampah. “Limbah dan residu biomassa yang selama ini jadi masalah, sekarang bisa jadi solusi energi,” kata Senda.

Jan menambahkan, kolaborasi ini memang dirancang menjawab dua isu sekaligus: krisis energi bersih di daerah terpencil dan gunungan limbah biomassa. “Kalau berhasil, kita tekan impor BBM, kurangi subsidi LPG, dan desa punya kemandirian energi,” ujarnya.

Teknologi ini merupakan pengembangan dari TOSS — Teknologi Olah Sampah di Sumbernya — milik Comestoarra yang mengubah sampah organik jadi pelet bahan bakar. Pelet itulah yang kini jadi bahan baku mini gasifier.

BRIN dan Comestoarra menargetkan proses verifikasi, validasi, dan penyempurnaan rampung tahun ini agar teknologi bisa masuk tahap komersialisasi dan diproduksi oleh industri nasional pada 2027.(RA)