JAKARTA – Hilirisasi nikel tetap jadi motor utama investasi berbasis sumber daya alam pada kuartal I 2026. Sektor ini menyedot Rp41,5 triliun, paling besar dibanding tembaga Rp20,7 triliun dan besi baja Rp17 triliun.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut investasi di industri nikel, tembaga, dan besi baja menyumbang 67% dari total investasi hilirisasi Rp147,5 triliun pada Q1 2026. Nilai itu tumbuh 8,2% secara tahunan dan berkontribusi 30% ke total realisasi investasi nasional.
“Dominasi investasi di sektor mineral menunjukkan hilirisasi nikel masih menjadi motor utama investasi berbasis sumber daya alam,” ujar Rosan dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).
Kuatnya nikel mengerek Sulawesi Tengah dan Maluku Utara ke jajaran 5 besar realisasi investasi. Sulteng bertengger di peringkat 5 dengan investasi Rp32,1 triliun atau 6,4% dari total nasional. Malut menyusul di posisi 6 dengan Rp25,2 triliun atau 5%.
Secara keseluruhan, 75,5% pertumbuhan hilirisasi Q1 2026 terjadi di luar Jawa. Sulteng dan Malut jadi penopang utama lewat hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Selain mineral, investasi hilirisasi Q1 2026 juga mengalir ke perkebunan-kehutanan Rp29,8 triliun, migas Rp17,7 triliun, serta perikanan-kelautan Rp1,7 triliun.


Komentar Terbaru