JAKARTA – Hilirisasi nikel diklaim telah mengubah Maluku Utara dari daerah penghasil sumber daya alam menjadi salah satu kawasan industri dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengungkap pada tahun 2025 pertumbuhan ekonomi mencapai 34 persen secara tahunan dan pada kuartal I tahun ini sebesar 19,6 persen.

“Hilirisasi telah mengubah perekonomian Maluku Utara secara signifikan,” ungkapnya dalam diskusi “Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku” di Jakarta, Rabu(3/6/2026).

Pengembangan industri hilirisasi nikel telah mendorong investasi, membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur industri, serta menghubungkan Maluku Utara dengan rantai pasok global kendaraan listrik dan baja nirkarat.

Sherly menyebut Maluku Utara telah menjadi salah satu pusat hilirisasi nikel nasional melalui pengembangan kawasan industri seperti Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah yang terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan nikel untuk bahan baku baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik.

Sherly mengatakan saat ini Maluku Utara berkontribusi sekitar sepertujuh produksi nikel global dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Ia menyatakan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara mendorong lebih banyak pelaku UMKM lokal masuk ke rantai pasok industri, mulai dari katering, logistik, jasa perawatan, jasa penatu, hingga penyediaan alat keselamatan kerja.

Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat sektor pertanian dan perikanan agar kebutuhan pangan kawasan industri dapat dipenuhi petani dan nelayan lokal.

Menurut Sherly kebutuhan konsumsi pangan kawasan industri di Maluku Utara mencapai sekitar Rp100 miliar per bulan atau sekitar Rp1,2 triliun per tahun, namun sebagian besar pasokan masih berasal dari luar daerah.

Saat ini, sekitar 20 persen kebutuhan konsumsi kawasan industri tersebut dipenuhi dari produksi lokal. Pemerintah daerah menyiapkan penguatan infrastruktur pertanian dan perikanan untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal secara bertahap. Di sisi sumber daya manusia, pemerintah daerah juga memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik agar masyarakat lokal dapat mengisi lebih banyak posisi teknis dan manajerial di industri hilirisasi.

Lebih lanjut Sherly mengungkapkan pihaknya tengah berdiskusi dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk pengembangan pendidikan vokasi di bidang metalurgi, kelistrikan, dan teknik. Ia berharap pertumbuhan industri hilirisasi ke depan dapat semakin memperkuat ekonomi masyarakat lokal, termasuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM di Maluku Utara.

“Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal,” kata Sherly.