DI TENGAH perburuan menemukan cadangan minyak dan gas bumi baru yang semakin kompleks, tantangannya bukan hanya soal seberapa dalam sebuah sumur dibor. Jauh sebelum mata bor menembus lapisan bumi, ada pekerjaan yang menentukan ke mana pengeboran harus diarahkan yaitu membaca dan memetakan apa yang tersembunyi di bawah permukaan. Di situ lah teknologi seismik memainkan peran yang sangat penting.
Sudah bukan rahasia umum lagi salah satu syarat utama untuk bisa mengejar peningkatan produksi adalah harus ditemukannya cadangan migas. Untuk itu sejak beberapa tahun belakang kegiatan “perburuan” cadangan migas terus diperbanyak. Untuk tahun ini Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mematok adanya peningkatan kegiatan dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu. Misalnya saja studi G&G (Geology & Geophysics) jika dibandingkan tahun 2025 itu realisasinya 162 kegiatan maka tahun 2026 naik menjadi 180 kegiatan.
Kemudian untuk studi G&G open area tahun ini direncanakan ada empat kegiatan dan survei seismik 2D tahun ini ditargetkan mencapai 3.882 km atau meningkat drastis dibandingkan tahun lalu hanya 419,84 km. Selanjutnya untuk kegiatan seismik 2D open area direncakan sepanjang 6.000 km naik signifikan dibandingkan tahun lalu hanya 2.817 km.
Kemudian untuk survei seismik 3D pada tahun lalu tercatat dilakukan seluas 2.574 km2 dan untuk target tahun 2026 seluas 6.173 km2. Untuk survei seismik 3D open area, tahun lalu samak sekali tidak dilakukan namun unutuk tahun ini targetnya mencapai 9.896 km2.
Sebagai industri yang penuh dengan ketidakpastian, paling tidak dibutuhkan kemungkinan perkiraan yang mendekati akurat untuk menilai kondisi di dalam perut bumi. Data di bawah permukaan tanah menjadi semacam peta, petunjuk arah investasi. Semakin baik kualitas data yang diperoleh, semakin kecil pula ketidakpastian.
Ketidakpastian yang terpampang nyata itu ternyata bisa dimaknai sebagai sebuah peluang oleh PT Elnusa Tbk dengan menyediakan layanan jasa untuk mengurangi ketikdakpastian di industri migas melalui penerapan inovasi dan teknologi.
Jika ditarik jauh ke belakang, inovasi ada dalam DNA Elnusa. Itu bisa dilihat saat berdiri tahun 1969 ketika namanya masih PT Electronika Nusantara yang fokus di dunia Marine Electronic Services, kemudian mengembangkan bisnis baru tahun 1974, yakni avionic atau sistem komunikasi pesawat. Lalu, apa masih ingat dengan produk pencarian informasi paling populer medio 80-90an Yellow Pages? Ya, ternyata Elnusa ada dibaliknya. Revolusi dalam teknologi tidak hanya sampai disitu karena setahun kemudian atau tahun 1976 televisi berwarna pertama bermerek Elnusa lahir.
Tahun 1984 pengembangan bisnis berlanjut dengan inisiasi layanan jasa workover dengan pendirian anak usaha PT Elnusa Workover Services (EWS). Unit bisnis lainnya juga terus dikembangkan, hingga tahun 1986 Fuel & Chemical (sekarang PT Elnusa Petrofin) sukses mengolah premium menjadi Premix 94. Tahun 1997 Elnusa saat itu membagi bisnis yang ada dalam anak perusahaan menjadi dua dan menjadikan dua holding yaitu PT Elnusa dan PT Elnusa Harapan. PT Elnusa kemudian menjadi PT Elnusa Tbk yang kita kenal sekarang ini, sedangkan PT Elnusa Harapan pada tahun 2004 menjadi PT Pertamina Patra Niaga. Akhir tahun 2007 Elnusa memutuskan merger beberapa anak perusahaan baik horizontal maupun vertikal. Hingga tahun 2008 Elnusa memutuskan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) yang jadi gerbang pembuka bagi Elnusa memberikan kepercayaan publik dalam menjalankan bisnisnya.
Roda bisnis tidak selalu diatas, Elnusa sempat berada di bagian terbawah. Tahun 2011 manajemen melakukan turn around akibat berbagai kejadian yang sebabkan kerugian besar perusahaan. Perubahan diawali dengan perubahan logo, visi misi dan strategi perusahaan pada 2013.
Tahun 2019 Elnusa mulai serius masuk ke bisnis hulu migas dan langsung jadi aktor utama dibalik eksplorasi survei seismik 2D terbesar sepanjang sejarah dengan luas area yang di seismik sepanjang 32 ribu km dan melalui 29 cekungan di sepanjang perairan dari Sabang hingga Marauke. Kapal survei seismik yang melakukannya adalah Elsa Regent milik Elnusa yang juga merupakan kapal eksplorasi pertama yang dimiliki oleh Pertamina. Selanjutnya Elnusa memasuki babak baru setelah resmi menjadi bagian Subholding Upstream Pertamina pada akhir tahun 2021.
Tahun 2023 lalu Elnusa semakin menancapkan eksistensinya di sektor hulu migas dengan berbagai layanan jasa yang mencakup banyak kegiatan eksplorasi dan produksi migas. Periode transformasi yang matang membuat Elnusa paham betul membaca peluang ke depan. Termasuk ketika memilih untuk lebih serius dalam berekspansi di eksplorasi migas.
Elnusa membuka tahun 2026 dengan gelontorkan investasi baru. Sebuah anomali boleh dibilang ditengah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian apalagi sektor migas yang sangat dipengaruhi juga oleh kondisi geopolitik global.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia tentu masih memiliki wilayah frontier dengan kondisi geografis dan geologi yang beragam. Apalagi dari kajian perburuhan cadanagan migas kini bergerak ke wilayah-wilayah frontier itu. Tentu kebutuhan terhadap teknologi tersebut semakin besar. Di waktu yang sama Indonesia punya kepentingan untuk bisa tetap mempertahankan bahkan meningkatkan produksi migas. Jadi tidak ada cara lain selain menambah cadangan migas yang siap diproduksikan. Tantangan memang besar, tidak bisa dipungkiri.
ELSA memilih berinvestasi strategis melalui pengadaan 25.000 unit STRYDE Range+ nodes dengan daya tahan operasional lebih panjang. Investasi itu diperkuat dengan STRYDE Nimble System dan STRYDE Mini System.
Kombinasi dual-platform tersebut memberikan fleksibilitas dalam merancang sekaligus menjalankan survei. Pekerjaan dapat dilakukan secara simultan, sementara pemanfaatan sumber daya dapat dioptimalkan untuk survei seismik 2D maupun 3D.
Ini bukan sekadar penambahan perangkat. Di baliknya terdapat upaya untuk menjawab tantangan yang semakin nyata dalam aktivitas eksplorasi, terutama di kawasan Indonesia Timur yang digadang-gadang bakal jadi episentrum baru bisnis migas tanah air setelah bertahun-tahun berada di bagian barat.
Meskipun diyakini masih memiliki potensi cadangan sedemikian besar, tapi kawasan Indonesia bagian timur dikenal memiliki keragaman struktur geologi, medan menantang, serta akses yang terbatas. Karena itu, pendekatan teknologi tidak bisa dibuat seragam. Sistem berskala besar dapat digunakan untuk survei seismik 3D pada area luas. Sementara itu, sistem portabel dapat dimanfaatkan untuk survei 2D, pengujian parameter, maupun survei awal di wilayah dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Sumber : Elnusa, Diolah : Dunia Energi
Dengan kemampuan tersebut, Elnusa menargetkan kualitas data seismik berdensitas tinggi, waktu akuisisi yang lebih cepat, sekaligus biaya operasi yang lebih efisien.
Akselerasi dari tahap akuisisi hingga interpretasi data diharapkan mampu mendorong pengambilan keputusan eksplorasi yang lebih cepat, akurat, dan bernilai tambah bagi para pemangku kepentingan.
Investasi teknologi tersebut menemukan pembuktiannya dalam Proyek Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Selat Makassar, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Survei Seismik 3D Offshore Kandawulo yang diselesaikan pada Juli 2026 merupakan bagian dari pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti PHE Jambi Merang (KKPJM) di wilayah terbuka.
Proyek ini menjadi bagian penting dalam mendukung agenda ketahanan energi nasional melalui penyediaan data bawah permukaan berkualitas tinggi untuk mempercepat identifikasi potensi cadangan migas baru.
Skalanya tidak kecil. Survei mencakup area sekitar 2.500 kilometer persegi dengan kedalaman laut mencapai 900 hingga 2.000 meter.
Kondisi tersebut membuat Kandawulo menjadi salah satu survei seismik laut dalam dengan tingkat kompleksitas tinggi di Indonesia. Menggandeng China Oilfield Services Limited (COSL), Elnusa sukses mengerjakan seismik selama 43 hari atau jauh di bawah target pengerjaan selama 85 hari.
Menariknya, kecepatan tersebut tidak mengorbankan aspek keselamatan. Sepanjang pelaksanaan pekerjaan, proyek mencatat 99.120 jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa bagi Elnusa, produktivitas dan keselamatan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan.
Ahmad Najihal Amal VP Exploration Technical Excellence & Coordination Pertamina Hulu Energi (PHE) yang sekaligus sebagai Kepala Teknik Proyek Survei Seismik 3D Kandawulo sukses dilakukan Elnusa dengan Zero Accident dan secara OTOBOSOR (on time, on budget, on schedule dan on return).
“Survei 3D Kandawulo seluas 2500 km2 dapat diselesaikan dalam waktu 43 hari dari target 85 hari (lebih cepat 42 hari) berkat kerja sama dan kolaborasi seluruh Fungsi yang terlibat,” kata Najihal belum lama ini.
Elnusa mengimplementasikan teknologi akuisisi data seismik broadband menggunakan metode Marine Streamer. Teknologi ini memungkinkan pencitraan bawah permukaan dengan resolusi lebih tinggi dan rentang frekuensi yang lebih luas.
Operasi tersebut juga didukung sistem navigasi, positioning, serta quality control yang terintegrasi. Dengan sistem ini, kualitas data dapat dipantau secara real-time sehingga akurasi sekaligus efisiensi operasi dapat ditingkatkan. Tidak berhenti di sana, Elnusa menerapkan konfigurasi slanted tow untuk memperoleh signal-to-noise ratio yang lebih baik.
Sederhananya, semakin baik kualitas sinyal yang diterima, semakin jelas pula gambaran geologi yang dapat dibaca dari bawah permukaan. Kemampuan ini penting karena setiap keputusan eksplorasi selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Data yang lebih baik bakal menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih kuat dan akan berkaitan langsung dengan keputusan investasi migas yang nilainya tidak kecil.
Andri Haribowo, Direktur Operasi Elnusa, mengungkapkan bahwa proyek ini mencerminkan transformasi Elnusa sebagai perusahaan jasa energi berbasis teknologi yang terus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Dia menjelaskan pemanfaatan teknologi seismik broadband dan kapabilitas operasional offshore yang semakin kuat, Elnusa tidak hanya menghadirkan data berkualitas tinggi bagi pelanggan, tetapi juga turut berkontribusi dalam membuka peluang penemuan cadangan migas baru yang dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi Indonesia.
“Proyek Kandawulo menunjukkan bagaimana teknologi dan inovasi dapat menjadi enabler utama dalam mendukung target peningkatan produksi migas nasional,” jelas Andri belum lama ini.

Sumber : Elnusa, Diolah : Dunia Energi
Sepanjang semester I tahun 2026 berbagai pekerjaan “perburuan” cadangan migas dilakukan Elnusa. Selain seismik offshore 3D Kandawulo, kegiatan eksplorasi yang dilakukan mencakup akuisisi 1.757 km² data seismik 3D dan 193 km survei seismik 2D. Selain itu, kegiatan eksplorasi juga meliputi wireline logging pada 662 sumur serta well testing pada 3.855 sumur.
Sejumlah proyek seismik juga dikerjakan, antara lain seismik onshore 2D dan 3D Tedong, seismik onshore 3D Mangatal Juata
Sudah banyak fakta di lapangan menunjukkan kerugian ekonomi maupun operasional akibat pemboran migas yang dilakukan tanpa akurasi data yang mumpuni. Tanpa data seismik berkualitas tinggi, kegiatan pengeboran hulu migas bergeser menjadi spekulasi geologi berbiaya sangat tinggi dan berisiko sangat besar.
Pada tahun 2013, pemerintah sempat merilis data resmi tentang kerugian yang diderita 12 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asing dalam periode 2009 hingga 2013 yang total jumlahnya mencapai US$1,9 miliar di 16 blok eksplorasi. Kala itu beberapa nama besar ikut menelan kerugian akibat eksplorasi yang gagal sebut saja ExxonMobil di Blok Surumana dan Mandar dengan total biaya yang telah dikeluarkan mencapai US$302 juta akibat dry hole atau sumur kering dan biogenic gas tidak sesuai keekonomian. Marathon di Blok Pasang Kayu dengan biaya yang hagus mencapai US$209 juta akibat dry hole dan masalah teknis. Hess juga tidak luput dari kerugian mencapai US$223 juta setelah eksplorasinya di blok Semai juga dry hole. CNOOC, JAPEX, Murphy Oil, Niko Resources, Talisman, Statoil, Tately hingga dulu masih ada ConocoPhillips juga merasakan kerugian dalam masa eksplorasi.
Dalam Jurnal Analisis Kegagalan Struktural Seismik berjudul Integrated dry hole, seismic, and structural analysis improves hydrocarbon exploration in the Egyptian Northern Red Sea basin dibahas secara detail kegagalan sumur eksplorasi akibat integrasi data bawah permukaan yang kurang akurat, kebocoran sesar (seal breach), dan perangkap struktur yang salah terinterpretasi.
Lembaga riset energi seperti S&P Global Commodity Insights dan Wood Mackenzie mencatat biaya rata-rata pemboran satu sumur eksplorasi darat (onshore) berkisar US$10-25 juta. Sementara sumur laut dalam (deepwater) atau laut sangat dalam (ultra-deepwater) bisa melebihi US$100 juta per sumur karena mahalnya tarif sewa kapal bor (drillship). Belum lagi dengan biaya Sewa Rig berkisar antara US$50.000 – US$300.000 per hari. Jadi bisa dibayangkan kerugian yang sangat besar akan dialami kontraktor yang gagal dalam masa eksplorasi sehingga persiapan melalui pengumpulan data-data melalui survei seismik sebelum pemboran sumur migas dilakukan sangat amat penting.
Kemampuan Geoscience & Reservoir Services Mumpuni
Dalam “berburu” cadangan migas tidak hanya tentang peralatan survei yang mengirimkan data perut bumi tapi setiap detail data yang sudah diakuisisi atau didapatkan juga perlu diproses lebih lanjut. Inilah kelebihan Elnusa yang memiliki kapabilitas geosains terintegrasi. Data diproses menggunakan metode Pre Stack Time Migration yang akan berlangsung sekitar enam bulan setelah proses akuisisi.
Rantai pekerjaan membentang dari laut hingga meja interpretasi. Dimulai dari akuisisi, pengolahan, sampai menghasilkan data yang dapat digunakan untuk membantu pengambilan keputusan berinvestasi lebih lanjut. Di balik teknologi dan angka-angka pencapaian tersebut, ada pengalaman panjang yang menjadi fondasinya.
Lebih dari lima dekade Elnusa telah berkecimpung dalam penyediaan layanan geosains, survei seismik darat dan laut, pengeboran, hingga berbagai layanan oilfield services. Pengalaman tersebut kini bertemu dengan kebutuhan industri yang berubah.

Sumber : Annual Report Elnusa, Diolah Dunia Energi
Elnusa terus memperkuat kapabilitas Geoscience & Reservoir Services (GRS) untuk mendukung kebutuhan eksplorasi dan industri energi melalui teknologi, inovasi, serta pengalaman operasional yang terintegrasi.
Kemampuannya punya cakupan yang luas mulai dari land seismic, marine seismic, nodal technology, seismic drilling, recording system, Vibroseis, Ocean Bottom Nodes, hingga non-seismic survey. Elnusa didukung lebih dari 100 set perangkat surveying, navigation, dan positioning, lebih dari 250 set seismic drilling, serta lebih dari 25.000 channel recording and cable system.
Untuk sumber getar, Elnusa memiliki sembilan unit Vibroseis EnviroVibe 15.000 lbs yang digunakan untuk mendukung pencitraan bawah permukaan, termasuk pada area pertambangan, sub-volcanic terrain, dan kawasan urban.
Kapabilitas ini juga menjadi ruang bagi Elnusa untuk mengembangkan inovasi salah satunya MiniVibro yang dikembangkan sebagai sumber getar berukuran ringkas untuk kebutuhan geohazard dan geotechnical survey. MiniVibro memiliki kapasitas hingga 4.000 lbs dengan rentang frekuensi 10–200 Hz serta desain yang compact dan maneuverable, sehingga dapat mendukung survei pada area dengan keterbatasan akses.
Pemanfaatan teknologi Vibroseis Elnusa pun tidak berhenti pada kebutuhan survei pencitraan bawah permukaan. Teknologi tersebut juga dikembangkan untuk aplikasi lain, salah satunya melalui pendekatan Vibroseismic EOR. Metode ini dikembangkan sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung peningkatan produksi, dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan.
Vibroseis juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumber getar alternatif dalam survei di wilayah pertambangan batubara, khususnya pada area dengan kompleksitas batuan tertentu. Survei seismik perdana di area konsesi tambang batu bara dilakukan pada tahun 2024 di area PT Wahana Baratama Mining (member of Bayan Group) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Sementara di lautan, perusahaan mengoperasikan satu Indonesian Seismic Vessel. Di sisi teknologi nodal, Elnusa memiliki 2.000 Ocean Bottom Nodes (OBN), 8.000 Onshore SmartSolo Nodes, serta 25.000 Onshore STRYDE Nodes.
Untuk akuisisi data, Elnusa sudah mulai sejak 2005 ketika masih menggunakan Sercel 428 XL dengan kapasitas hingga 20.000 channel dan menjadi bagian dari fondasi kapabilitas akuisisi data seismik Elnusa. Satu dekade kemudian atau tahun 2015, kebutuhan akan sistem yang semakin fleksibel mendorong Elnusa mengadopsi RT 2 Wireless Seismic System berkapasitas 2.000 channel.
Perkembangan berikutnya datang ketika medan operasi semakin menantang. Pada 2021, Elnusa menambah 8.000 channel SmartSolo untuk mendukung kegiatan survei, terutama di area-area remote yang membutuhkan fleksibilitas lebih tinggi dalam penempatan perangkat.
Dengan kombinasi berbagai platform tersebut, Elnusa tidak lagi bergantung pada satu pendekatan. Teknologi dapat disesuaikan dengan medan, desain survei, kebutuhan resolusi data, hingga tingkat aksesibilitas wilayah operasi.
Melalui GRS, Elnusa mengintegrasikan kapabilitas akuisisi, pengolahan, dan pemodelan data untuk menghasilkan high-resolution subsurface insights sebagai dasar dalam memahami kondisi bawah permukaan dan mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan eksplorasi maupun engineering. Pemanfaatan teknologi wireless dan nodal juga memberikan pilihan metode akuisisi yang lebih fleksibel, khususnya untuk wilayah remote dan kondisi lapangan dengan tantangan akses.
Eksplorasi migas semakin menuntut data yang lebih presisi. Wilayah pencarian cadangan baru semakin menantang. Biaya dan waktu operasi harus semakin efisien. Pada saat yang sama, aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan tidak bisa ditawar.
Karena itu, investasi Elnusa pada teknologi seismik bukan hanya tentang membeli peralatan baru. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat kemampuan perusahaan dalam menjawab tantangan eksplorasi migas generasi berikutnya.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menilai Indonesia membutuhkan perusahana jasa migas yang berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana dalam melakukan eksplorasi. Kehadiran perusahaan seperti Elnusa bisa mendukung program pemerintah yang tengah mendorong pencarian cadangan migas di wilayah-wilayah baru potensial. “Saya kira sudah tepat Elnusa berinvestasi untuk dukung jasa eksplorasi,” kata Djoko kepada Dunia Energi, Selasa (8/9).
Ke depan dia berharap Elnusa bisa menambah kemampuannya dalam kegiatan eksplorasi di wilayah migas laut dalam. “Elnusa bisa beli kapal Seismik yang bisa laut dalam, drillling ship untuk ngebor eksplorasi laut dalam,” ujar Djoko.
Sementara itu, Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, komoditas dan mata uang yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures menilai sudah tepat jika Elnusa juga mulai berfokus terhadap eksplorasi migas dengan menambahkan hal-hal baru karena saat ini memang Indonesia sedang kekurangan energi yang cukup besar. “Harus diingat bahwa Indonesia melakukan impor itu 1,5 juta barel per hari. Artinya apa? Bahwa kebutuhan minyak mentah ya di dalam negeri cukup tinggi sedangkan produksinya itu hanya 602 ribu barel per hari,” jelas Ibrahim kepada Dunia Energi, Senin (7/9).
Menurut Ibrahin kondisi tersebut bisa dilihat sebagai kesempatan terbaik bagi Elnusa untuk melakukan eksplorasi. Apalagi pemerintah dalam kunjungan ke Rusia, salah satunya adalah melakukan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha minyak dan gas bumi di Rusia untuk melakukan eksplorasi di dalam negeri. “Kenapa? Kita harus tahu bahwa Indonesia itu kaya dengan migas tetapi sampai saat ini belum bisa telah eksplorasi disebabkan oleh biaya yang cukup tinggi,” ungkap Ibrahim.
Selanjutnya Elnusa sendiri adalah salah satu perusahaan plat merah di bawah Pertamina. “yang pasti akan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mendukung peningkatan produksi migas di Indonesia itu lebih baik lagi. Ya jangan hanya bertumpu pada 602 ribu barel per hari,” jelas Ibrahim.
Pada akhirnya, perburuan cadangan migas bukan hanya tentang menemukan minyak dan gas. Ada rangkaian panjang teknologi, data, manusia, keselamatan, dan koordinasi yang menentukan apakah sebuah potensi dapat diterjemahkan menjadi keputusan investasi dan produksi.
Di tengah agenda peningkatan eksplorasi dan ketahanan energi nasional, Elnusa berusaha mengambil posisi di bagian awal dari rantai tersebut, menjadi pihak yang menyediakan data dan teknologi agar apa yang tersembunyi di bawah bumi dapat dibaca dengan lebih jelas.
Dengan dukungan kemampuan operasional, sumber daya manusia yang kompeten, teknologi, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik, Elnusa terus memperkuat posisinya sebagai mitra strategis industri hulu migas. Sebab dalam perburuan migas, menemukan cadangan baru mungkin menjadi tujuan akhirnya. Tetapi untuk sampai ke sana, semuanya berawal dari kemampuan melihat apa yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan. (RI)





Komentar Terbaru