JAKARTA – Pasar Indonesia masih tetap menjanjikan untuk baterai kendaraan listrik. Namun jika mau bersaing dengan pasar dunia maka perlu ada dorongan tambahan dari pemerintah.

Aditya Farhan Arif, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menilai Indonesia mempunyai modal besar untuk mengembangkan ekosistem baterai yang terintegrasi, mulai dari bahan baku dasar seperti nikel, aluminium, dan tembaga.

Namun itu saja tidak akan cukup karena diperlukan sektor pengolahan antara atau midstream yang mencakup pengolahan material menjadi bahan kimia dan komponen yang dibutuhkan dalam manufaktur baterai.

“Nikel itu agak sedikit beda, kita sudah ada di downstream-nya sekali dan di upstream, justru tengah-tengahnya yang masih bolong. Dan memang kalau yang di tengah-tengahnya ini itu tantangannya paling besar karena profitabilitasnya paling rendah,” ungkap Aditya ditemui disela Accelerating Growth Through Clean Energy & Industrial Transformation, Selasa (8/9).

Dengan masih belum maksimalnya sektor midstream maka IBC dalam waktu jangka pendek membidik pasar ekspor. Salah satunya dalah India.

Indonesia dinilai memiliki daya saing untuk memasok baterai berbasis nickel manganese cobalt atau NMC ke India. Hal itu disebabkan biaya baterai yang tiba di lokasi tujuan atau landed cost dari Indonesia ke India lebih murah dibanding dari China.

“Ini masalah trade policy. Kalau kita bicara baterainya baterai NMC, maka secara inherent kita memang lebih kompetitif. Jadi dari sisi harga katoda dan semuanya kita bisa lebih kompetitif dibanding negara-negara lain,” jelas Aditya.