JAKARTA – Peta kepemilikan emiten batu bara raksasa PT Bayan Resources Tbk (BYAN) bakal berubah.
Pendiri Bayan, Dato’ Dr Low Tuck Kwong dan anaknya Elaine Low sepakat mengalihkan 10.000.000.500 saham Bayan kepada PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Kesepakatan itu dituangkan dalam perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) yang diteken 16 September 2026. Laporan resminya disampaikan Direktur Bayan, Jenny Quantero ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (17/9/2026).
“Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Pembeli akan memiliki 10.000.000.500 saham biasa Perseroan,” tulis Jenny.
Manajemen Bayan belum membuka syarat apa saja yang harus dipenuhi Jhonlin Baratama untuk merampungkan akuisisi. Namun ditegaskan transaksi ini tidak akan mengganggu operasional, hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Jika tuntas, ini akan menjadi salah satu akuisisi terbesar di sektor batu bara tahun ini, yang mempertemukan dua taipan besar: Low Tuck Kwong dan Haji Isam.
Berdasarkan data Shareholders Information per 31 Maret 2026, komposisi pemegang saham Bayan Resources:
– Dato’ Dr. Low Tuck Kwong: 13.406.921.870 saham (40,22%)
– Elaine Low: 7.333.833.700 saham (22,00%)
– PT Sumber Suryadaya Prima: 3.333.380.000 saham (10,00%)
– Publik / Masyarakat: 9.259.199.430 saham (27,78%
Bayan Resources tercatat menjadi produsen batubara peringkat 5 teratas di Indonesia, dengan target meningkatkan Proyek Tabang/Pakar agar memproduksi lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026.
Bayan Group merupakan inovator di bidang industri pertambangan batubara di Indonesia dan terus menilik metode dan teknologi baru untuk mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produsen batubara berbiaya terendah di Indonesia.
Bayan Group adalah perusahaan tambang pertama di Indonesia yang memanfaatkan through-seam blasting di tambang Wahana, dan saat ini menggunakan beberapa truk pengangkutan batubara terbesar di Indonesia dengan kapasitas hingga 250 ton. Bayan Group telah menerapkan Fleet Management System (FMS) di lokasi tambang Tabang untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi operasi tongkang.
Bayan Group memiliki beberapa infrastruktur batubara antara lain Balikpapan Coal Terminal, Dermaga Perkasa dan Wahana, serta dua Floating Transfer Barge (KFT). Fasilitas-fasilitas ini mencakup kemampuan untuk membongkar muatan batubara, menimbun batubara, dan memuat kapal pada kecepatan antara 3.000 – 8.000 ton per jam. Sebagian besar fasilitas ini juga dapat mencampur batubara dari berbagai tempat penimbunan (stockpile) dan kualitas.
Untuk mempertahankan posisinya di garis depan industri pertambangan batubara Indonesia, Bayan Group membangun sistem jalan pengangkutan batubara/overland conveyor sepanjang 101 Km yang menghubungkan proyek Tabang dengan fasilitas pemuatan tongkang Muara Pahu – fasilitas pemuatan tongkang baru yang akan memiliki 3 unit pemuat tongkang untuk memenuhi peningkatan produksi yang signifikan hingga lebih dari 60+ mtpa di tahun-tahun mendatang. Jalan pengangkutan batubara sepanjang 101 km ini disejajarkan dengan jalan umum sepanjang 85 km untuk meningkatkan akses masyarakat setempat.(RA)





Komentar Terbaru