JAKARTA – Setiap perusahaan energi saat ini dipastikan memiliki strategi untuk terlibat dalam masa transisi energi maupun penurunan emisi karbon. Tidak terkecuali dengan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Namun yang membedakan PHE memiliki program khusus untuk mengajak masyarakat ambil bagian secara langsung menekan emisi karbon melalui pemanfaatan potensi energi di wilayah sekitarnya sekaligus juga memberikan manfaat dari sisi ekonomi.

Arya Dwi Paramita, Sekretaris Perusahaan PHE, menjelaskan bahwa manajemen telah memiliki strategi inisiatif dalam upaya menuju Net Zero Emission (NZE) yaitu transisi gas, dekarbonisasi serta peluang penggunaan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Storage and Utilization (CCUS). Namun ada satu inisiatif tambahan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat yaitu Desa Energi Berdikari (DEB).

“Pendekatan desa energi berdikari di sini kita memberikan awareness bahwa di sekitar mereka ada sumber energi tebarukan yang bisa manfaatkan. Kedua, dari awareness itu mereka bisa memanfaatkan. Ketiga, masyarakat mendapatkan manfaatnya tidak hanya dari sisi mendapatkan energi dengan mudah tapi juga dampak ekonomi,” jelas Arya disela webinar DETalk dengan tema Climate Change Mitigation : Collaborative Strategies for Greener Energy Industry yang digelar Dunia Energi, Selasa (17/10).

Sejauh ini ada 14 lokasi DEB yang memanfaatkan energi surya menghasilkan tenaga listrik sekitar 75,05 kWp dengan pengurangan emisi setara 109.962 ton CO2 per tahun dan dampak efisiensi ekonominya mencapai Rp139 juta per tahun.

Kemudian ada tiga lokasi DEB yang kembangkan biogas dan gas metana dengan total gas yang dihasulkan sebesar 793.795 M3 per tahun. Sementara untuk estimasi pengurangan emisinya 335.580 ton CO2 per tahun dengan total estimasi efisensi mencapai Rp589 juta per tahun.

Ada juga satu DEB hybrid memanfaatkan energi solar dan angin dengan energi yang dihasilkan masing-masing sekitar 0,5 kWp dan estimasi pengurangan emisinya 7,7 ton CO2 dengan estimasi efisiensi ekonominya sebesar Rp7,7 juta per tahun. Serta ada dua lokasi pemanfaatan bioetanol. Produksi bioetanol sendiri sebesar 3.766,5 liter per tahun dengan total estimasi pengurangan emisi sebesar 7.525 ton CO2 per tahun dan efisiensi sebesar Rp18,06 juta per tahun.

“Program-program tersebut di sertifikasi, sehingga para local hero bisa sustain untuk berkembang. Program ini potential economic saving-nya mencapai Rp 757 juta per tahun dengan potensi reduksi emisi 343.219 ton setara CO2 sampai dengan September 2023,” ujar Arya.

Melalui pilar Pertamina NZE dengan goal NZE pada tahun 2060, PHE juga memiliki inisiatif strategis melalui dekarbonisasi bisnis yaitu efisiensi energi, pembangkit listrik ramah lingkungan, pengurangan kerugian (zero flaring rutin), bahan bakar rendah karbon dan lain sebagainya serta pembangunan bisnis baru melalui CCS/CCUS yang terintegrasi.

Menurut Arya, inisiatif dekarbonisasi PHE terlihat pada 2023 dengan menginisiasi terlibat langsung dalam bursa carbon. “Pada 26 September 2023 lalu IDX meluncurkan IDX Carbon yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Dan PHE juga mencatatkan transaksi Perdana dalam perdagangan karbon kredit dimana PHE sebagai pelaku industri hulu migas pertama yang menjadi bagian dalam Bursa Karbon,’’ ungkap Arya.


Pelaku Usaha Sektor Energi Jadi Andalan Tekan Emisi

Di sektor tambang mineral dan batu bara fokus untuk menurunkan emisi dalam kegiatan tambang juga terus dilakukan. Dunia tambang jadi yang paling berkepentingan karena produknya nanti akan dicap ramah terhadap lingkungan atau tidak.

Tonny Gultom, Direktur HSE Trimegah Bangun Persada Tbk, menuturkan kegiatan TBP sudah terintegrasi dari hulu hingga ke hilir karena sudah mampu memproduksikan produk turunan dari nikel. “Dan Kami melakukan penambangan dan operasional dengan tetap memperhatikan kaidah lingkugan yang baik . ada standar pemantauan perairan yang diberlakukan sesuai kebijakan pemerintah. ini kita gunakan untuk lakukan pemantauan baik di wilayah kami maupun perarian laut,” jelas Tonny.

Dalam hal upaya menekan emisi beberapa program juga dijalankan secara berkelanjutan seperti penggunaan solar panel serta secara aktif mengikuti program pemerintah dalam penggunaan biosolar. “Kami implementasikan B35, di beberapa daerah bangun pembangkit listrik tenaga angin. Kami juga lakukan efisiensi terhadap sistem yang ada, “ujar Tonny.

Mochamad Soleh, VP Technology Development PLN Indonesia Power (PLN IP), menuturkan penambahan pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT), co-firing biomassa hingga penggunaan hidrogen dan amonia hingga pemanfaatan nuklir menjadi rencana PLN IP untuk ambil bagian dalam penurunan emisi.

“Jadi tadinya membakar batu bara 100% menjadi biomassa 100%, sehingga bisa lebih hijau. Lalu bisa juga membakar amonia dan hidrogen, jadi fisik PLTU masih bisa digunakan namun bahan bakarnya yang ramah lingkungan bebas karbon itu amonia dan hidrogen ditambah lagi dengan penangkapan karbon dan instalasi baterai,” jelas Soleh.

Sementara itu, Yulia Suryanti, Direktur Mitigas Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyatakan bahwa sektor energi merupakan salah satu sektor penyumbang emisi paling tinggi dibandingkan sektor lain bahkan berdasarkan dokumen Enhanced NDC Indonesia 2022 pertumbuhannya mencapai sejak tahun 2002-2012 sebesar 4,5%. Untuk itu peran para pemangku kepentingan di sektor energi menjadi kunci penting dalam upaya mencapai target NZE.

“Apabila soal sektor energi ketika berbicara perubahan iklim terkait dekarbonisasi melalui efisiensi energi, emisi bahan bakar. 2030 kita tingkatkan komitmen pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89% jika dilakukan secara bussiness as usual bisa Indonesia capai. Tapi kalau ada bantuan internasional bisa mencapai 43,20%,” ungkap Yulia.

Adapun upaya pengurangan emisi di sektor energi melalui penggunaan energi baru terbarukan (EBT) seperti pemanfaatan biofuel, cofiring, biomass dan solar PV. Lalu efisiensi energi melalui kendaraan listrik, manajemen energi mandatori, kompor induksi dan lampu peneragan jalan hemat energi. Kemudian dan bahan bakar rendah emisi pemanfaatan gas lebih banyak serta pemanfaatan clean coal technology pada pembangkit listrik.

“Pemerintah juga mengusung kebijakan energi gabungan dan penerapan sumber energi bersih sebagai arahan kebiajakan nasional menuju jalur dekarbonisasi sektor energi,” kata Yulia.