JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO) menegaskan kapasitas terpasangnya belum bertambah bukan karena stagnan, melainkan karena proyek-proyek panas bumi membutuhkan waktu panjang dari eksplorasi hingga komersial.

Direktur Eksplorasi & Development PGE, Edwil Suzandi, menjelaskan, dari fase pengembangan hingga komersial, sebuah proyek panas bumi membutuhkan waktu 3-5 tahun. Berbeda dengan minyak dan gas atau tambang yang hasil pengeborannya bisa langsung terlihat, panas bumi sangat bergantung pada besarnya sumber daya yang terkonfirmasi di suatu area.

“Semua proyek yang kami lakukan adalah proyek jangka panjang. Tidak bisa hari ini kami bekerja, tahun ini juga kami melihat hasilnya,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Kamis(4/11/2026).

Saat ini, PGE menjadi satu-satunya perusahaan panas bumi di Indonesia yang mengoperasikan empat rig pemboran secara paralel. Rig-rig tersebut bekerja untuk mengakselerasi sejumlah proyek dalam pipeline.

Edwil mengungkap sejumlah proyek yang tengah dikebut. Pertama, Gunung Tiga. Proyek eksplorasi ini menargetkan 55 MW. PGE telah menyelesaikan pengeboran 20 sumur dan memulai sisi kontrak. Dengan timeline normal 30 bulan, COD ditargetkan pada 2029-2030, namun tim sedang mengkaji percepatan menjadi 2029.

Kedua, Hululais 1 dan 2. Off-taker PLN sudah menunjukkan kemajuan signifikan. Proses pengadaan untuk kontraktor EPC telah diselesaikan dan ditargetkan COD pada 2028.

Ketiga, Lumut Balai 3 dan 4. Lumut Balai 2 telah COD pada 2025 dan langsung dilanjutkan ke Lumut Balai 3. Saat ini Lumut Balai 3 sudah masuk tahap pengembangan dan persiapan pembangunan power plant. Tender EPC ditargetkan dimulai tahun depan dengan target COD 2030, dengan peluang akselerasi ke 2029.

Sementara Lumut Balai 4 sudah memasuki fase pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan jalan sepanjang hampir 10 km dari titik terakhir Lumut Balai 3. Eksplorasi Lumut Balai 4 ditargetkan rampung seiring pembangunan Lumut Balai 3, sehingga proyek bisa langsung berlanjut.

Keempat, Co-generation. Proyek kerja sama PGE dan PLN ini sudah mencapai kesepakatan substansi PPA. Saat ini masuk tahap finalisasi dan proofreading dokumen. PGE menargetkan PPA ditandatangani pada Desember 2026. Jika terwujud, ini akan menjadi PPA pertama PGE dalam lebih dari 9 tahun.

PGE menargetkan kapasitas terpasang bertambah menjadi 1 GW dalam beberapa tahun ke depan, kemudian naik menjadi 2 GW dalam 5-7 tahun, dan mengejar 3 GW pada tahap berikutnya.

Tiga Strategi Utama

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan ada tiga strategi yang dijalankan perseroan.

Pertama, managing base melalui operational excellence. Aset yang ada harus terus dirawat agar terus menghasilkan revenue secara berkelanjutan.

Kedua, growth strategy, baik organik dari aset eksisting maupun anorganik melalui merger, akuisisi, dan lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru. PGE menyatakan tertarik mengikuti lelang WKP baru selama sesuai dengan strategi, sumber daya, dan keekonomiannya.

Ketiga, Beyond Electricity. PGE tidak lagi hanya fokus menghasilkan listrik bersih, tetapi membangun ekosistem green energy.

Beberapa pilot project yang sedang berjalan:

1. Green Hydrogen dan Green Ammonia. Pilot project green hydrogen di Kamojang ditargetkan commissioning akhir November 2026 dengan kapasitas 100 kg per hari. Setelah proof of concept, PGE mengkaji pengembangan green ammonia. Dari sisi off-taker, green ammonia dinilai tidak bermasalah karena banyak digunakan untuk pupuk dan shipping. Tantangannya adalah keekonomian dan harga pokok produksi.

2. Green Data Center. PGE mengembangkan green data center berbasis panas bumi di Kamojang berkapasitas 5 MW. Konsepnya adalah data center yang disuplai langsung dan murni dari panas bumi, tanpa terkoneksi ke jaringan lain. Saat ini PGE sedang merevisi AMDAL dan mengkaji agar suplai ke data center tidak mengganggu pasokan ke PLN. PGE juga sedang berdiskusi intens dengan para pemain data center sebagai calon off-taker. Jika terealisasi, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan berpotensi pertama di dunia.

3. Pemanfaatan Mineral Ikutan. PGE mengembangkan pemanfaatan silika dari brine panas bumi untuk bubuk pengawet. Bubuk ini terbukti membuat tomat ekspor dari Ulubelu tidak lagi busuk hingga 20-30%, melainkan hampir 100% tahan. Selain itu, PGE juga mengkaji potensi litium dan mengembangkan kopi geothermal yang kini sudah diekspor ke Jepang, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara.

4. New Revenue Lainnya. PGE kini juga menjadi provider teknologi melalui penjualan alat ukur Flow2Max yang sudah digunakan di 6 negara, serta mengomersialkan laboratoriumnya.

Edwil menegaskan, ketergantungan pada single off-taker PLN membuat pertumbuhan panas bumi tidak bisa melesat. Karena itu PGE mulai membuka pasar di luar PLN melalui industrialisasi panas bumi, mulai dari green hydrogen, green ammonia, hingga green data center.

“Kalau kita hanya mengandalkan single market, pertumbuhannya pasti tidak akan bergairah, bisa jadi akan melandai,” ujarnya.

Dengan strategi tersebut, PGE berharap tidak hanya menjaga keandalan operasional, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru di luar listrik, sekaligus mempercepat pengembangan potensi panas bumi Indonesia.(RA)