JAKARTA — Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan pasokan energi bersih, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan sumber air, keanekaragaman hayati, serta pelestarian warisan budaya di kawasan tersebut.
Ali Ahmudi Achyak, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development (RESSED) Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, mengatakan pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, sosial, tata ruang, dan ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, panas bumi memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi Indonesia karena mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca. Namun, pemanfaatan potensi tersebut harus disertai kajian menyeluruh terhadap karakteristik kawasan.
“Pengembangan proyek panas bumi tidak hanya mengenai potensi listrik yang dapat dihasilkan, tetapi juga mengenai bagaimana seluruh aspek yang terkait dengan kondisi kawasan dipahami melalui proses kajian sebelum memasuki tahapan pengembangan berikutnya,” kata Ali dalam keterangannya, Jumat (9/10).
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah perlindungan sumber air. Mata air, sungai, dan sumber air lainnya di kawasan Gunung Ungaran memiliki fungsi penting bagi kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan keberlangsungan ekosistem.
Ali menjelaskan, kajian awal perlu mencakup kondisi hidrologi dan hidrogeologi, termasuk debit mata air dan sungai, kualitas air, muka air tanah, pola curah hujan, serta pola pemanfaatan air oleh masyarakat.
Data dasar tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi kawasan sebelum kegiatan pengembangan berlangsung sekaligus menjadi acuan pemantauan pada tahapan berikutnya.
Menurut Ali, pendekatan berbasis data diperlukan agar pembahasan mengenai dampak pengembangan panas bumi terhadap sumber air tidak hanya bertumpu pada kekhawatiran atau asumsi, tetapi mengacu pada kondisi hidrologi yang terukur.
Di sisi lain, kebutuhan air untuk mendukung operasi pembangkit juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan. Karena itu, pengelolaan sumber daya air secara terukur dan berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan proyek.
Perlindungan Hutan dan Cagar Budaya
Selain sumber air, pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga perlu memperhatikan tutupan lahan, habitat satwa, serta keanekaragaman tumbuhan di kawasan tersebut.
Kebutuhan pembangunan infrastruktur panas bumi, seperti jalan akses, lokasi pengeboran atau well pad, jaringan pipa, dan fasilitas pendukung, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan di sekitar lokasi.
Ali menilai, perencanaan fasilitas yang adaptif dan pemanfaatan teknologi pengeboran, termasuk directional drilling, dapat memberikan fleksibilitas dalam menentukan desain pengeboran sesuai kondisi reservoir bawah permukaan.
“Pengelolaan kawasan terdampak juga perlu mencakup pemulihan lahan dan revegetasi. Dengan demikian, kebutuhan pengembangan energi dapat direncanakan bersamaan dengan upaya perlindungan ekosistem. Perhatian serupa diperlukan terhadap warisan sejarah dan budaya, termasuk kawasan Candi Gedong Songo yang menjadi salah satu daya tarik wisata di sekitar Gunung Ungaran,” jelas Ali.
Menurut dia, pemetaan kawasan dan kajian yang relevan perlu menjadi bagian dari proses perencanaan. Aspek yang dapat dikaji meliputi arkeologi, getaran, visual lanskap, hidrologi, potensi longsor, serta prosedur penanganan apabila ditemukan benda atau objek yang diduga memiliki nilai budaya selama kegiatan berlangsung.
Penentuan lokasi fasilitas juga perlu mempertimbangkan informasi mengenai zona inti, zona penyangga, dan kawasan pengembangan, disertai koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemanfaatan potensi energi panas bumi dapat berjalan dengan tetap menghormati nilai sejarah, budaya, dan lingkungan kawasan.
Dorong Keterlibatan Masyarakat
Ali menekankan, komunikasi dengan masyarakat perlu dilakukan sejak tahap awal pengembangan. Masyarakat perlu memperoleh informasi mengenai tahapan proyek, potensi manfaat, proses kajian, serta berbagai aspek lingkungan dan sosial yang menjadi perhatian. Sebaliknya, masukan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari proses komunikasi dan pengembangan proyek.
Salah satunya dengan membentuk Forum Pengawasan Lingkungan dan Sosial Gunung Ungaran (FPLSGU). Forum tersebut melibatkan pemerintah pusat, pengembang, pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan, serta pemangku kepentingan cagar budaya.
Forum ini dapat menjadi ruang untuk membahas perkembangan kajian, data lingkungan, masukan masyarakat, dan informasi lain yang berkaitan dengan pengembangan PLTP Gunung Ungaran. Keterbukaan informasi dan komunikasi yang konsisten dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat, terutama sebelum proyek memasuki tahapan pengembangan selanjutnya.
“Kepercayaan tidak hanya dibangun ketika proyek mulai beroperasi, tetapi sejak masyarakat mulai mengenal dan memahami rencana pengembangannya,” ujar Ali.
Ali menilai, keberhasilan pengembangan PLTP Gunung Ungaran tidak semestinya hanya diukur dari kapasitas listrik yang dapat dihasilkan. Jika target kapasitas sekitar 55 megawatt (MW) tercapai, keberhasilan proyek juga perlu dilihat dari kemampuan menjaga sumber air, keanekaragaman hayati, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ia memperkenalkan gagasan “55 MW+0”, yakni konsep pengembangan yang menempatkan target produksi listrik sekitar 55 MW seiring dengan upaya mencegah dampak negatif terhadap fungsi sumber air, biodiversitas, cagar budaya, dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Konsep tersebut menggambarkan pendekatan pembangunan energi yang tidak hanya mengejar tambahan pasokan listrik, tetapi juga memperhitungkan keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Menurut Ali, Indonesia membutuhkan energi bersih dan andal untuk memperkuat ketahanan energi serta mendukung pencapaian target net zero emission (NZE). Pada saat yang sama, masyarakat membutuhkan kecukupan air, lingkungan yang sehat, hutan yang lestari, dan warisan budaya yang tetap terjaga.
Karena itu, pengembangan panas bumi perlu ditempatkan sebagai upaya yang mengintegrasikan kebutuhan energi dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat.
Ali berpandangan, PLTP Gunung Ungaran berpeluang menjadi contoh pengembangan energi terbarukan yang bertanggung jawab apabila prosesnya didukung kajian yang memadai, pemanfaatan teknologi yang tepat, pelibatan masyarakat, serta pengawasan yang terbuka dan konsisten.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan energi, tetapi juga menjaga keberlanjutan kawasan, sumber air, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya bagi generasi mendatang.





Komentar Terbaru