BEKASI – PLN Nusantara Power (PLN NP) meresmikan Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih 3.0 di Unit Pembangkitan (UP) Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8). Dikembangkan secara internal oleh PLN NP, fasilitas ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 70%, mencakup sejumlah equipment, instalasi, serta jasa.
Peresmian dihadiri Direktur Energi Baru Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Ir. Senda Hurmuzan Kanam, M.Sc. EVP Transisi Energi dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Kamia Handayani, Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah, serta jajaran manajemen dan stakeholder terkait.
Ruly Firmansyah, Direktur Utama PLN Nusantara Power mengatakan, pengembangan HRS Merah Putih menjadi bagian dari upaya PLN NP menguasai teknologi hidrogen sekaligus memperkuat kompetensi sumber daya manusia dalam negeri.
“Kita sedang meletakkan fondasi penting bagi terbentuknya ekosistem energi baru di Indonesia. Nama Merah Putih membawa semangat kemandirian dan kebanggaan nasional. Semangat untuk menguasai teknologi, membangun kompetensi, serta menghadirkan solusi energi yang dikembangkan dan dioperasikan oleh putra-putri terbaik bangsa,” ujar Ruly dalam keterangannya, Jumat (14/8).
HRS Muara Tawar merupakan pengembangan generasi ketiga setelah HRS Merah Putih 1.0 di Muara Karang pada 2024 dan HRS Merah Putih 2.0 di Rembang pada 2025. PLN NP juga telah mengembangkan Mobile HRS yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
Fasilitas HRS Merah Putih 3.0 Muara Tawar terintegrasi dengan Green Hydrogen Plant yang memanfaatkan dukungan PLTS dan energi terbarukan tersertifikasi. Fasilitas ini dirancang menghasilkan sekitar 7.9 ton hidrogen per tahun, dengan sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan internal pembangkit dan surplusnya dapat digunakan untuk kebutuhan energi di luar pembangkit.
Muara Tawar dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu pembangkit besar PLN NP dengan kapasitas terpasang 2.725 MW. Ekosistem yang dikembangkan memungkinkan energi terbarukan diolah menjadi hidrogen, kemudian disimpan, dikompresi, dan dimanfaatkan untuk transportasi maupun dikonversi kembali menjadi listrik melalui teknologi fuel cell.
“Melalui ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa hidrogen bukan sekadar komoditas energi masa depan. Hidrogen dapat menjadi penghubung antara pembangkitan energi bersih, penyimpanan energi, penyediaan listrik, dan mobilitas rendah emisi,” kata Ruly.
Senda Hurmuzan Kanam, Direktur Energi Baru Ditjen EBTKE Kementerian ESDM mengapresiasi pengembangan HRS Merah Putih Muara Tawar sebagai langkah nyata memperkuat ekosistem hidrogen nasional. Menurutnya, pengembangan hidrogen perlu berjalan tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga melalui kesiapan industri, infrastruktur, pemanfaatan, dan pasar.
“Pengembangan HRS Merah Putih Muara Tawar menunjukkan bahwa ekosistem hidrogen Indonesia mulai bergerak dari tahap pengembangan teknologi menuju implementasi. Inisiatif seperti ini penting untuk membangun pengalaman, memperkuat kapasitas dalam negeri, sekaligus membuka peluang pemanfaatan hidrogen di berbagai sektor,” ujar Senda.
Pengembangan HRS Merah Putih menjadi bagian dari roadmap PLN NP dalam membangun ekosistem hidrogen terintegrasi, mulai dari produksi green hydrogen, infrastruktur pengisian, kendaraan berbasis hidrogen hingga pemanfaatan hidrogen untuk pembangkitan. PLN NP sebelumnya juga telah mengembangkan delapan Green Hydrogen Plant dan berbagai teknologi pemanfaatan hidrogen.
Peresmian ditandai dengan simulasi pengisian hidrogen dari HRS Merah Putih Muara Tawar ke kendaraan hidrogen, pelepasan uji jalan mobil hidrogen-listrik.
Melalui HRS Merah Putih Muara Tawar, PLN NP terus mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kandungan dalam negeri, serta kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen nasional dan mendukung pencapaian Net Zero Emission 2060.




Komentar Terbaru