JAKARTA – Manajemen PT Freeport Indonesia menargetkan kontribusi ke negara yang cukup signifikan dalam bentuk pajak, dividen, maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Dalam proyeksi manajemen dua tahun dari sekarang kontribusi perusahaan bisa tembus US$7 miliar atau sekitar Rp120 triliun. Namun ada syarat yang harus terpenuhi jika memang kontribusinya dikejar sampai sebesar itu
Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, mengungkapkan target itu bisa terpenuhi ketika tambang dan smelter PT Freeport Indonesia sudah 100% pulih dan bisa beroperasi dengan kapasitas penuh.
“Kita lihat begitu masuk sudah kapasitas produksi penuh, kita lihat penerimaan negara akan bisa melebihi US$7 miliar per tahun. Kalau kita rupiahkan, itu kira-kira sekitar Rp120 triliun per tahun, begitu seterusnya, selanjutnya di tahun-tahun ke depan,” kata Tony disela rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa (14/7).
Proyeksi penerimaan negara US$7 miliar dari PTFI sendiri terbagi menjadi US$1,3 miliar PNBP, US$3,1 miliar pajak, dan sekitar US$2,7 miliar dari dividen melalui MIND ID.
Sementara untuk tahun ini, penerimaan negara dari Freeport sebenarnya alami penurunandari realisasi tahun 2025. Freeport menyetor sekitar US$4,3 miliar, terdiri dari US$1,2 miliar PNBP, US$1 miliar dividen, serta US$2 miliar pajak.
“Tahun 2026, penerimaan negara yang terdiri dari pajak, dividen, dan royalti itu memang menurun menjadi US$2,6 miliar dari tahun lalu US$4,3 miliar, dan di dalam sini masih juga akan ada dividen sebesar US$1,1 miliar yang akan diterima oleh pemerintah melalui MIND ID,” ujar Tony.
Sementara setelah 2028, PT Freeport Indonesia memproyeksikan setoran untuk negara masih berada di angka yang sama, yakni US$7,1 miliar, dan melonjak ke level US$8 miliar pada tahun 2030. Berdasarkan data Freeport, angka proyeksi setoran ke negara itu bakal terealisasi dengan asumsi harga tembaga di level US$6 per pound dan harga emas di kisaran US$4.500 per ounce.
Optimisme manajemen Freeport tidak lepas dari akan mulai beroperasinya secara penuh smelter mereka di Gresik dimana tahun ini smelter tersebut akan kembali beroperasi setelah alami gangguan setahun terakhir.
Smelter baru di KEK Gresik memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat sebagai bahan baku utama. Sementara ekspansi PT Smelting yang juga saham kepemilikan dimiliki oleh Freeport meningkatkan kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu ton konsentrat per tahun. Dengan demikian, kapasitas smelter baru dan ekspansi tersebut mencapai total 2 juta ton per tahun.
Ditambah kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebesar 1 juta ton, maka total konsentrat yang dapat dimurnikan di dalam negeri mencapai 3 juta ton per tahun.


Komentar Terbaru