JAKARTA — Penggunaan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) Bukit Tua milik KKKS Petronas resmi diperpanjang paling tidak hingga 10 tahun ke depan. Perpanjangan kontrak ini menjadi langkah krusial untuk memastikan produksi minyak dan gas bumi tetap berlanjut demi pengembangan sejumlah lapangan baru di wilayah Selat Madura.
Penandatanganan kontrak dihadiri Menteri Keuangan Negara Sabah Malaysia yang juga Timbalan Menteri II sekaligus Ketua Dewan Pengarah SMJ Energy, Datuk Seri Panglima H. Masidi Hajun, Presiden Direktur Petronas, Kepala SKK Migas beserta jajaran, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Djoko Siswanto Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan perpanjangan kontrak dilakukan agar produksi migas dari wilayah kerja Petronas tetap berkesinambungan.
“Alhamdulillah, kemarin tanggal 10 Juli 2026 telah dilaksanakan penandatanganan perpanjangan kontrak FPSO Bukit Tua KKKS Petronas. Perpanjangan ini dilakukan agar produksi minyak dan gas tidak ada jeda untuk berhenti dan sebagai jaminan keberlangsungan produksi migas dari proyek-proyek pengembangan lapangan Petronas yang saat ini sedang dilakukan konstruksinya seperti Lapangan Hidayah, Barokah, dan Bukit Panjang yang terletak di sekitar FPSO Selat Madura,” kata Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Sabtu (11/7).
FPSO Bukit Tua sendiri telah beroperasi selama 11 tahun dengan catatan keselamatan yang sangat baik, yakni mencapai 2,7 juta jam kerja tanpa kecelakaan. Selain menjamin keberlanjutan produksi, kontrak baru tersebut juga memberikan efisiensi biaya karena nilai sewa FPSO lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya.
Djoko menambahkan FPSO tersebut dimiliki bersama oleh Pemerintah Negara Bagian Sabah melalui Kementerian Keuangan Negara Sabah Malaysia dan perusahaan nasional Indonesia. Dengan diperpanjangnya kontrak, hubungan kerja sama kedua negara di sektor energi diharapkan semakin erat.
Tak hanya itu, Pemerintah Sabah juga menawarkan peluang kerja sama pengembangan wilayah kerja migas yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, seperti Blok Ambalat serta Blok Ligitan-Sipadan.
FPSO Bukit Tua memiliki kapasitas produksi hingga 25.000 barel minyak per hari (BOPD) dan 60 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), sehingga menjadi fasilitas penting dalam mendukung produksi migas di kawasan Selat Madura selama satu dekade ke depan.
“Mohon doa agar FPSO ini dapat beroperasi dengan aman, lancar, dan selamat selama 10 tahun ke depan,” ungkap Djoko. (RI)


Komentar Terbaru