JAKARTA – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penggunaan batu bara yang terus tinggi untuk memenuhi keburu pembangkit listrik yang realisasinya sepanjang Januari-April 2026 sebesar 165,51 Terawatt hour (TWh).
Tri Winarno, Plt. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mengungkapkan produksi listrik masih didominasi oleh pembangkit berbasis batu bara dengan realisasi 107,36 TWh atau 64,87% dari total produksi listrik empat bulan pertama tahun ini.
“Batu bara sekitar 64,87%, lebih besar dari target 62%,” kata Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, Kamis (4/6).
Untuk produksi listrik dari sumber energi fosil lainnya, seperti BBM, tercatat berada di angka 5,59 TWh atau 3,38%, serta gas sebesar 22,94 TWh atau 13,86%, lebih rendah dari target awal sebesar 20%.
Di lain sisi, produksi listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT) berhasil terealisasi sebesar 29,62 TWh. Angka itu setara dengan 17,89% dari total produksi listrik nasional periode Januari-April 2026, serta melampaui target yang ditetapkan 16,46%. Pada tahun 2025 lalu, realisasi produksi listrik dari EBT mencapai 16,31% atau melampaui target 15,9%.
“Ini mencerminkan upaya adanya transisi energi yang terus berjalan, namun masih membutuhkan akselerasi untuk mengurangi dominasi fosil di dalam sistem penaikan listrik nasional,” ujar Tri.
Sepanjang Januari-April 2026 itu mencapai 116,82 TWh, terdiri dari produksi PLN 61,79 TWh dan IPP 55,03 TWh. Kemudian untuk produksi listrik dari Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Sendiri (IUPTLS) di angka 40,29 TWh, serta wilayah usaha lain, termasuk PLN Batam sebesar 8,40 TWh pada empat bulan pertama tahun ini.
Berdasarkan wilayah, Jawa-Bali menjadi titik produksi listrik tertinggi dengan realisasi 87,43 TWh sepanjang Januari-April 2026, terdiri dari batu bara 70,99%, gas 16,66%, EBT 10,01%, serta BBM 2,34%.
Kemudian produksi listrik di Sumatra tercatat di angka 32,42 TWh. Di Tanah Sumatra, produksi listrik yang bersumber dari EBT tercatat cukup signifikan dengan porsi 41,76%, diikuti batu bara 38,40%, gas 17,79%, dan sisanya berasal dari BBM.
Sementara untuk produksi listrik di Sulawesi berada di angka 18,29 TWh dengan porsi batu bara yang masih dominan sekitar 71,26%, sementara kontribusi EBT berada di kisaran 20,59%. Lalu di Kalimantan, produksi listriknya mencapai 9,81 TWh dengan porsi EBT yang mencapai 25,29% dan batu bara 59,99%.
Selanjutnya, produksi listrik di Maluku-Papua sepanjang Januari-April 2026 mencapai 14,96 TWh. Dari angka itu, dominasi batu bara terlihat mencolok dengan persentase 87,99%, sementara porsi EBT hanya 3,67%.
“Maluku-Papua, porsi batu bara masih relatif tinggi, yaitu 87,9%, dipengaruhi oleh industri smelter, dan capaian EBT sebesar 3,67%. Ini mencerminkan bahwa pada wilayah timur Indonesia, ketergantungan pembangkit berbasis batu bara dan BBM masih relatif tinggi,” beber Tri Winarno.
Untuk di Maluku-Papua serta di Nusa Tenggara justru sangat bergantung dengan bahan bakar minyak (BBM) dimana porsi BBM dari total produksi listrik di Nusa Tenggara mencapai 33,71%, sementara batu bara hanya 29,30%, EBT 20,35%, dan gas di kisaran 16,64%.



Komentar Terbaru