JAKARTA – Lapangan Mako Blok Duyung di Natuna Barat ditargetkan nantinya bisa memproduksi gas mencapai 120 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Pengembangan lapangan Mako baru saja memasuki milestone penting yakni penetapan Final Investment Decision (FID).

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan Proyek ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya gas dari wilayah Natuna dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung peningkatan lifting migas Indonesia.

“Momentum ini menjadi tonggak penting yang menegaskan kesiapan proyek untuk memasuki tahap konstruksi dan eksekusi penuh, dengan produksi 120 MMSCFD guna mendukung peningkatan pasokan gas nasional,” kata Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Selasa (3/3).

Sebagai Informasi Production Sharing Contract (PSC) Blok Duyung diteken tahun 2007. Discovery Gas tahun 2017; POD-1 tahun 2019; Revisi POD-1 tahun 2022, Gas Sales Agreement (GSA) 2025, FID 2026.

Sebelum FID beberapa perjanjian Tie-in Agreement dengan Medco Natuna & Star Energy Natuna terlebih dahulu diselesaikan, dan saat ini sedang konstruksi pipa dari WNTS ke Pulau Pemping yang akan mengalirkan gas dari lapangan Mako.

Adapun Pipa dibangun oleh PT PLN yg di tugaskan oleh Mentri ESDM, pipa ini berkapasitas 300 MMscfd sehingga nantinya DMO Gas dari Para KKKS di laut Natuna dapat juga dialirkan ke Batam via pipa ini. “Pipa ini akan selesai terbangun Juni 2026, setelah 10 tahun mangkrak,” ungkap Djoko.

Lapangan Gas Mako kini menjadi bagian dari investasi strategis yang dikembangkan melalui kerja sama pemerintah, WNEL sebagai operator, dan PT Nations Natuna Barat, entitas dibawah Arsari Group yang dimiliki oleh Hashim S. Djojohadikusumo dan menjadi pemegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung.

Pengembangan Proyek Mako memasuki rangkaian fase utama mulai dari Pre FID pada 2025 hingga mencapai First Gas pada Q4 2027. Kegiatan mencakup engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start up. Proyek ini ditargetkan dapat beroperasi sesuai jadwal untuk mendukung kebutuhan energi nasional. (RI)