Dunia Energi Logo Senin, 23 Oktober 2017

Success Ratio Pemboran Eksplorasi Pertamina EP Mencapai 80%

Kegiatan pemboran eksplorasi PT Pertamina EP.

JAKARTA – Sepanjang 2008 – 2012 PT Pertamina EP telah melakukan pemboran eksplorasi terhadap 83 sumur. Dari ikhtiar itu, success ratio (peluang keberhasilan memperoleh cadangan minyak dan gas yang ekonomis, red) anak usaha PT Pertamina (Persero) ini mencapai 80%.

Seperti diungkapkan Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina EP, Doddy Priambodo, Pertamina EP mempunyai total luas wilayah kerja hingga 138.611 kilometer persergi (Km2) yang terbentang dari barat (Sumatera Utara) hingga timur Indonesia (Papua).

Namun dari total luas wilayah kerja itu, hanya 65% atau 90.745 Km2 yang termasuk “Active Area” (wilayah yang bisa digarap, red). Sedangkan 18% lainnya atau 24.947 Km2 adalah wilayah yang akan di-relinquish (dilepaskan, red). Bahkan 17% sisanya atau 22.920 Km2 merupakan wilayah tanpa data.

Dari keseluruhan wilayah kerja yang dikelolanya, sepanjang 2008 – 2012 Pertamina EP telah melakukan pemboran eksplorasi (pencarian dan pembuktian potensi cadangan minyak dan gas, red) pada 83 sumur. “Dari total pemboran 83 sumur itu, success ratio kami mencapai 80%,” tutur Doddy di Jakarta, Kamis, 7 Maret 2013.

Lebih detail ia merinci, dari pemboran 83 sumur itu, 80%-nya atau 66 sumur berhasil menemukan cadangan minyak dan gas (migas) yang ekonomis. Untuk saat ini ada yang sudah berproduksi sebanyak 26 sumur, 17 sumur dalam tahap rencana produksi, sembilan sumur dalam tahap pengembangan, dan 14 sumur sedang dievaluasi.

“Sayangnya 17 sumur lainnya dry hole atau tidak menemukan cadangan minyak dan gas yang ekonomis untuk diproduksikan. Hal ini merupakan bagian dari risiko eksplorasi hulu migas,” terangnya.

Satu hal yang menggembirakan bagi Doddy, ialah pada 2012 Pertamina EP berhasil mencapai kemajuan kinerja eksplorasi yang signifikan. Diantaranya penemuan sumberdaya minyak terbesar dalam 10 tahun terakhir, di sumur Akasia Besar (ASB)-1. Sumur ini dibor pada 2012, dengan sumberdaya kontijen sebesar 110 MMBOE (Million Million Barrel Oil Equivalen/Juta Barel Setara Minyak).

Masih pada 2012, kegiatan eksplorasi Pertamina EP juga berhasil menemukan sumberdaya gas terbesar di sumur Benggala (BGL)-1. Sumur ini terletak di Cekungan Sumatera Utara, yang mulai dibor pada Juli 2012 dengan sumberdaya kontijen 367 BCFG dari 10 DST yang sudah selesai.

Mencatat Sejarah Baru

Masih di tahun yang sama, Pertamina EP berhasil melakukan Survey Seismik 3D (tiga dimensi) yang terluas sepanjang sejarah eksplorasinya. Survey seismik 3D itu dilakukan pada Wilayah Kerja Akasia Bagus (ABG) sepanjang 2011-2012, dengan total luas 1.012 Km2 dan durasi waktu pengerjaan yang lebih cepat 3 bulan dari rencana awal, tanpa kecelakaan kerja.

Sepanjang 2012, Pertamina EP juga melakukan kegiatan Survey Seismik 2D (dua dimensi) Offshore (lepas pantai) pada Wilayah Kerja Offshore Matindok, di Cekungan Banggai Sulawesi. Survey seismik 2D ini juga merupakan yang terpanjang dalam sejarah eksplorasi Pertamina EP, dengan total panjang lintasan 3.060 Km selama 40 hari pada Oktober 2012, dan tanpa kecelakaan kerja.

Pada 2012, Pertamina EP juga berhasil melakukan produksi tercepat (hanya 7 bulan) pasca penemuan cadangan. Produksi tercepat itu berlangsung di sumur Pondok Berkah (PDB)-1, yang cadangannya ditemukan pada Oktober 2011. Sumur PDB-1 mulai berproduksi pada Mei 2012.

“Tahun lalu, kami juga berhasil melakukan “Play Eksplorasi Baru” pada sumur Benggala (BGL)-1, guna membuktikan kandungan hidrokarbon pada Fm Tampur dan Fm Parapat, di Cekungan Sumatera Utara. Eksplorasi di sumur Hibiscus Selatan (HBS)-1 juga membuktikan kandungan hidrokarbon pada Fm Gumai, Cekungan Sumatera Selatan,” terang Doddy lagi.

(Abraham Lagaligo/ abrahamlagaligo@gmail.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)