Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Sinergi 7 BUMN Untuk Proyek Gas Terintegrasi

Komplek LNG Arun yang akan disulap Pertamina menjadi fasilitas regasifikasi.

Komplek LNG Arun yang akan disulap Pertamina menjadi fasilitas regasifikasi.

Untuk pertama kalinya di dunia, bekas kilang LNG diubah menjadi terminal regasifikasi. Diyakini bakal menjadi tulang punggung pasokan gas nasional. Disiapkan investasi hingga USD 570 juta.

Menerawang mata Hari Karyuliarto sesaat setelah meletakkan batu pertama pelaksanaan proyek itu. Di samping Direktur Gas PT Pertamina (Persero) itu berdiri dengan khidmat Direktur Utama PT Rekayasa Industri (Rekin) Mochammad Ali Harsono, Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas) Hendra Jaya, dan Direktur Utama Perta Arun Gas, Teuku Khaidir.

 Ingatan Hari tertuju pada era 40 tahun lalu, ketika Pertamina bersama mitra-mitranya, menandatangani kontrak jual beli Liquefied Petroleum Gas (LNG) yang menjadi cikal bakal bangunan di hadapannya, kilang (Plantsite) LNG Arun, di Lhokseumawe, Aceh Utara.

Dalam hitungan tahun, kilang di hadapannya, yang telah menorehkan sejarah bagi Indonesia, akan berubah menjadi terminal penerima dan pemrosesan LNG menjadi gas kembali (regasifikasi) yang diberi nama “Arun LNG Storage and Regasification Terminal”.

Konversi kilang LNG Arun menjadi terminal regasifikasi tak bisa dihindari, agar fasilitas megah itu tidak mubazir, menyusul menyusutnya cadangan gas Arun.  Hari itu, Sabtu, 9 November 2013, groundbreaking proyek konversi itu dimulai.  

Di pelupuk mata Hari sudah terbayang, bagaimana terminal hasil konversi itu, dalam beberapa tahun ke depan, akan menjadi tulang punggung pasokan gas, sumber energi penggerak denyut nadi ekonomi wilayah Aceh dan Sumatera Utara. “Ini adalah era baru Arun LNG,” ujarnya dengan suara bergetar.

Menahan haru, Hari menambahkan bahwa proyek konversi kilang LNG menjadi terminal regasifikasi di Arun ini, adalah yang pertama di dunia. Proyek ini pun telah melalui beberapa tahapan penting. Setelah diputuskan oleh pemerintah pada 2012, Pertamina menetapkan Final Investment Decision pada Februari 2013, dan menetapkan PT Rekin sebagai pelaksana Engineering, Procurement, and Construction (EPC) pada Maret 2013.

“Dengan peletakan batu pertama hari ini serta kemajuan proyek yang telah dicapai, menunjukkan komitmen kuat Pertamina dan segenap mitranya, untuk dapat menyelesaikan pekerjaan besar ini tepat waktu,” ucap Hari disambut tepuk tangan mereka yang hadir dalam momen peletakan batu pertama itu.

Selain prestisius, lanjutnya, proyek konversi ini juga menantang. Karena keberhasilan proyek ini ditunggu oleh banyak pihak di tanah Air, untuk menjamin pasokan gas pembangkit listrik serta kebutuhan gas pelaku industri di Aceh dan Sumatera Utara. “Terlebih, proyek ini berjalan seiring dengan proyek pipa transmisi gas ‘open access’ Arun-Belawan, yang waktu penyelesaiannya mungkin bersamaan” tukasnya.

Ia menerangkan, proyek “Arun LNG Storage and Regasification Terminal” didesain memiliki kapasitas sebesar 400 MMscfd atau setara dengan 3 juta ton per tahun. Saat ini, proyek tersebut memiliki komitmen pasokan gas 120 MMscfd yang dialokasikan untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero).

“Kami akan terus berupaya mencari tambahan pasokan gas agar kapasitas terpasang dari fasilitas tersebut dapat dioptimalkan,” ujar Hari lagi.

Dikombinasikan dengan proyek pembangunan pipa transmisi gas open access Arun-Belawan, menurutnya Pertamina hingga Oktober 2014 akan menginvestasikan sebanyak USD 570 juta, dengan USD 80 juta diantaranya untuk proyek regasifikasi LNG.

Sementara itu, proyek pipa transmisi gas ‘open access’  Arun-Belawan diperkirakan pada akhir Desember 2013 akan tuntas 50% dari panjang total pipa 340 kilometer, sehingga Pertamina optimistis kedua proyek tersebut akan selesai tepat waktu.

Hari mengaku sangat bangga, lantaran integrasi proyek “Arun LNG Storage and Regasification Terminal” dan pipa transmisi gas ‘open access’ Arun – Belawan dapat terwujud karena adanya sinergi dari tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Yaitu Pertamina, PLN, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Rekin, PTPN 1, PTPN 2, PTPN 3 dan satu BUMD (Badan Usaha Milik Daerah).

“Hal ini tentunya menunjukkan bahwa sinergi positif antara BUMN dan BUMD, akan melahirkan hasil positif bagi semua pihak yang terlibat. Pada akhirnya masyarakat juga yang akan merasakan dampak positif dari keberadaan proyek ini,” ucap Hari dengan senyum sumringah.  

(Abdul Hamid / duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)