Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Proyek Pengembangan Gas Matindok Gunakan Teknologi Ramah Lingkungan

BANGGAI – PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, dalam pengembangan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) menggunakan teknologi oksidasi dengan bantuan bakteri i untuk mengkonvensi H2S menjadi elemental sulfur yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan zat kimia. Selain itu, proyek mulai berperan dalam akselerasi pembangunan daerah dengan penyerapan tenaga kerja lokal, pelatihan, dan pengembangan masyarakat lewat Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

“Keberadaan Bioreactor tersebut merupakan bagian dari fasilitas produksi pengolahan asam sulfat (H2S) menjadi Sulfur. Sampai dengan saat ini, PT Pertamina EP merupakan satu-satunya perusahaan di indonesia yang menggunakan teknologi oksidasi dengan bantuan bakteri,” tutur Project Controller Proyek Pengembangan Gas Matindok, M Rully Yasradi, Sabtu (4/6).

Proyek Pengembangan Gas Matindok yang berlokasi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, terdiri dari Central Processing Plan (CPP) Donggi dan CPP Matindok. Menurut Rully, Bioreaktor digunakan untuk dua CPP tersebut.  “Selain di CPP Donggi, keberadaan Bioreactor ada juga di CPP Gundih, Jawa Tengah,” katanya.

Pekerja Pertamina EP melakukan pengontrolan fasilitas pengolahan gas Donggi.

Pekerja Pertamina EP melakukan pengontrolan fasilitas pengolahan gas Donggi.

Pengembangan gas di Sulawesi Tengah merupakan proyek yang penting  karena akan mempertahankan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara pengekspor LNG terbesar di dunia. Pembangunan PPGM diyakini bakal meningkatkan kontribusi sektor minyak dan gas bumi dalam menyumbangkan devisa bagi negara dan kemungkinan sebagian untuk substitusi bahan bakar minyak dalam negeri.

CPP Donggi sejak Mei tahun ini mulai menyalurkan gas  sebanyak 50 juta kaki kubik per hari (MMSCFD)  kepada PT Donggi Senoro LNG (DSLNG).  Gas ini berasal dari delapan sumur di struktur Donggi. Ke depan, CPP Donggi masih dimungkinkan untuk mendapatkan gas dari struktur Minahaki. Pembangunan CPP Donggi menghabiskan anggaran sekitar US$300 juta tersebut dilakukan PT Rekayasa Industri (Rekind) sejak 2012.

“Pembangunan fasilitas produksi sudah 98,83%. Akhir tahun ini diperkirakan sudah full operated oleh Pertamina EP,”  tutur Rully. Dia menambahkan proses pembangunan CPP Donggi tersebut melibatkan sedikitnya 2.000 orang tenaga lokal yang berasal dari Kabupaten Banggai.

Sementara  pembangunan CPP Matindok dengan kapasitas 55 MMSCFD sejak 2014 digarap kontraktor konsorsium PT Wijaya Karya (Wika) dan PT Technip Indonesia . Proyek senilai US$234 juta tersebut  diperkirakan baru akan beroperasi (on streaming)  pada kuartal IV 2016. Menurut Rully, dari 55 MMSCFD gas yang dihasilkan CPP Matindok sebanyak 35 MMSCFD akan disalurkan kepada Donggi-Senoro LNG dan 20 MMSCFD sisanya untuk PT PLN (Persero).

Selain berperan dalam ketahanan energi nasional, Proyek Pengembangan Gas Matindok secara langsung telah berkontribusi pada pembangunan daerah. Saat ini, tercatat sedikitnya total 68 orang tenaga operator yang berasal dari Kabupaten Banggai. Dari 68 orang tersebut, sebanyak 36 orang bekerja sebagai operator di CPP Donggi, dan 32 orang sisanya bekerja sebagai operator di CPP Matindok.

Operator putera daerah tersebut merupakan rekrutmen langsung Pertamina EP di sejumlah sekolah menengah atas di Banggai. Setelah melewati seleksi, mereka diwajibkan menempuh pendidikan selama setahun di Cepu. “Seleksinya sangat ketat. Tapi saya beruntung bisa masuk,” tutur Sutiono, lulusan Jurusan Otomotif SMK Toili pada 2013, yang saat ini menjadi operator di CPP Donggi.

Sebagai upaya melestarikan keanekaragaman hayati di sekitar daerah operasi perusahaan, Pertamina EP berkolaborasi dengan BKSDA Sulawesi Tengah dalam mengelola Suaka Margasatwa Bakiriang. Salah satu program unggulannya adalah konservasi  burung Maleo (Macrochepalon Maleo). Pada 25 Januari 2012, Pertamina EP dinobatkan sebagai Bapak Angkat Pelestarian Satwa Maleo. Saat ini, sudah ada 105 ekor Maleo yang dilepaskan kembali ke habitatnya.

Pada 2016, Pertamina EP membantu melakukan perbaikan sarana kesehatan pada Puskesmas Batui, terutama untuk bangunan dan kelengkapan Unit Gawat Darurat (UGD). Pada Kamis (2/6), dilakukan upacara adat “Naik Rumah” sekaligus peresmian oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai.(LH)

 

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)