Dunia Energi Logo Minggu, 19 November 2017

Cuaca Ekstrim Dongkrak Harga Minyak

Fasilitas produksi minyak.

JAKARTA – Faktor cuaca berupa musim dingin yang cukup esktrim di Benua Amerika dan Eropa, telah mendorong harga minyak mentah dunia terus menuju titik tertinggi. Selain itu, produksi Arab Saudi juga berada di posisi terendah dalam 19 bulan terakhir.

Naiknya harga minyak dunia, tak urung mendorong kenaikan harga rata-rata minyak mentah Indonesia, yang berdasarkan perhitungan Formula Indonesia Crude Price (ICP) telah mencapai USD 111,07 per barel sepanjang Januari 2013.

Seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Senin, 4 Februari 2013, harga rata-rata minyak mentah Indonesia naik USD 4,17 per barel, dibandingkan posisinya pada Desember 2012 sebesar USD 106,90 per barel.

Harga rata-rata minyak Minas/SLC juga telah mencapai USD 115,95 per barel pada Januari 2013, naik USD 6,94 per barel dibandingkan Desember 2012 sebesar USD 109,01 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah dunia sendiri, diakibatkan oleh beberapa faktor. Diantaranya yang paling utama, ialah meningkatnya konsumsi heating oil di Amerika Serikat dan Eropa, akibat musim dingin yang ekstrim beberapa bulan terakhir ini.

Stimulus pasar oleh The Fed juga menjadi salah satu faktor pendongkrak harga minyak. Stimulus itu telah mendorong bangkitnya kegiatan manufaktur, berkurangnya angka pengangguran di Amerika, dan membaiknya pasar perumahan, yang secara bersama-sama mendorong permintaan akan energi.

Lembaga donor internasional, IMF memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi pada 2013 berkisar pada 3,5%, atau naik 0,3% dibandingkan 2012. Pemerintah Jepang menyetujuan paket stimulus sebesar USD 116 miliar untuk memacu kebangkitan ekonomi.

Ekspor produk industri China pada Desember 2012 juga mengalami peningkatan 14,1% dibandingkan November 2012. Kesemuanya ini telah mendorong meningkatnya konsumsi energi dunia, yang sejauh ini masih didominasi oleh minyak.

International Energy Agency (IEA) dan Centre for Global Energy Studies (CGES) juga menyebutkan, permintaan akan minyak di Desember 2012 bertambah 0,11-0,30 juta barel per hari, dibandingkan proyeksi pada bulan sebelumnya.

Secara bersamaan, disebutkan pula produksi minyak dari negara OPEC pada Desember 2012 mengalami penurunan sebesar 0,26-0,55 juta barel per hari, dibandingkan produksi November 2012. Salah satunya penurunan produksi minyak Arab Saudi, yang mencapai titik terendah dalam 19 bulan terakhir.

Secara umum, turunnya produksi minyak dunia didorong oleh gejolak politik yang sedang berlangsung di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara.

Penyebab lain naiknya harga minyak, adalah meningkatnya kapasitas seaway pipeline menjadi 400.000 barel per hari, sehingga diharapkan dapat mengurangi stok minyak mentah di Cushing Oklahoma, Amerika Serikat.

Untuk kawasan Asia Pasifik, kenaikan harga minyak juga disebabkan meningkatnya permintaan jenis direct burning dari Jepang akibat musim dingin dan tingginya permintaan diesel di India.

Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional per Januari 2013:

  1. WTI (Nymex) naik USD 6,45/barel, dari USD 88,25/barel menjadi USD 94,70/barel.
  2. Brent (ICE) naik USD 2,97/barel, dari USD 109,20/barel menjadi USD 112,17/barel.
  3. Tapis (Platts) naik USD 3,18/barel, dari USD 114,80/barel menjadi USD 117,98/barel.
  4. Basket OPEC naik USD 2,59/barel, dari USD 106,55/barel menjadi USD 109,14/barel.

(Abdul Hamid/duniaenergi@yahoo.co.id)

Komentar

  1. Jubah Murah mengatakan:

    Mmm kan ke baik kalau semua blogger camnie… saya
    suka post awak.. tahniah…

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)