Dunia Energi Logo Selasa, 14 Agustus 2018

Kinerja Jeblok, Alasan Pemerintah Rombak Direksi Pertamina

Kasus tumpahan minyak di teluk Balikpapan menjadi salah satu alasan pemerintah mencopot direksi Pertamina.

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali merombak direksi PT Pertamina (Persero). Penurunan kinerja dalam beberapa waktu terakhir menjadi alasan utama melakukan pencopotan terhadap beberapa direksi.

Fajar Harry Sampurno, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, mengatakan pergantian manajemen Pertamina tidak mendadak dan telah berdasarkan penilaian, baik dari komisaris maupun pemegang saham.

“Komisaris melakukan kajian komprehensif, kemudian menyampaikan kondisi terkini,” kata Fajar usai menggelar konferensi pers di Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (20/4).

Beberapa program serta kejadian yang menjadi bahan penilaian pergantian direksi adalah adanya peristiwa kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kemudian progress pembangunan serta pengembangan kilang yang jalan lambat, insiden tumpahan minyak di Teluk Balikpapan juga menjadi sorotan komisaris dan pemegang saham.

“Kelangkaan BBM,  kejadian di Balikpapan, RDMP belum jadi, ini diharapkan akan mempercepat. Makanya orang-orangnya adalah orang dalam Pertamina,” ungkap Fajar.

Pemerintah telah menunjuk enam direksi baru, Budi Santoso Syarif sebagai direktur pengolahan; Basuki Trikora Putra, direktur pemasaran korporat; Masud Hamid, direktur pemasaran retail; M Haryo Junianto, direktur manajemen aset; Heru Setiawan, direktur megaproyek dan petrokmia; Gandhi Sriwidjojo sebagai direktur infrastruktur dan Nicke Widyawati yang diangkat sebagai pelaksana tugas direktur utama.

Tanri Abeng, Komisaris Utama Pertamina menjelaskan pergantian direksi sebagai kelanjutan dari perubahan nomenklatur Pertamina pada Februari lalu. Sehingga tidak ada kesan mendadak karena memang sudah direncanakan adanya perubahan.

“Intinya ini adalah implementasi dari Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor 39 yang dirumuskan pada 13 Februari tahun ini. Kunci disitu ada perubahan struktur dan nomenklatur, tadinya hanya satu marketing menjadi tiga yaitu marketing korporat, marketing ritel, dan infrastruktur supply chain. Jadi ada tiga struktur baru yang tadinya hanya satu,” kata Tanri.(RI)

Baca juga  Pengusaha SPBU Tambah Nozzle Pertalite dan Pertamax untuk Sesuaikan Permintaan Konsumen

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.