Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Kilang TPPI Beroperasi Awal Oktober

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menegaskan kilang PT Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) akan dioperasikan kembali pada Kamis (1/10). Kilang yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur, tersebut dapat menopang produksi bahan bakar minyak (BBM) nasional sebesar 100 ribu barel per hari.

“Iya, pada 1 Oktober nanti (kilang TPPI) mulai dioperasikan. Jadi aset yang sudah lama tidak dimanfaatkan ini bisa digunakan kembali,” kata Direktur Pertamina Dwi Soetjipto, di Jakarta, Senin.

Tempat pengolahan minyak ini dibuka kembali setelah statusnya sempat dinonaktifkan akibat kasus korupsi dan pencucian uang dalam penjualan kondensat yang melibatkan TPPI dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada 2009. Kilang yang sempat dioperasikan pada 1 November 2013 sebagai kerja sama pengolahan (Tolling Agreement) antara TPPI dengan Pertamina itu, kemudian disarankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk ditutup, sehingga aset tersebut kembali tidak produktif.

Walaupun ditargetkan sudah dapat berproduksi pada awal Oktober 2015, Dwi menegaskan Pertamina masih perlu menyelesaikan permasalahan administrasi kilang tersebut. “Terkait finalisasi urusan administrasinya nanti kita harapkan bisa segera selesai di pertengahan Oktober,” ujarnya.

Sebelumnya, dia mengungkapkan diaktifkannya kembali kilang TPPI akan menghemat uang negara sebanyak US$10 juta per harinya.

Kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara produksi kilang hanya 800 ribu barel per hari, dan jumlah total impor negara mencapai 700 ribu barel BBM per hari. Dengan adanya kilang TPPI ini, Dwi mengatakan peningkatan produksi BBM nasional dapat mencapai 100.000 barel per hari. Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan pelat merah itu mengurangi permintaan BBM dari luar negeri sebanyak 15%.

Selain itu, keuntungan lain yang diraih dari pengoperasian kilang ini adalah Indonesia dapat menghemat US$10 juta per harinya karena peningkatan produksi BBM tersebut. Pengurangan penggunaan dolar itu kemudian diharapkan dapat berkontribusi memberikan perbaikan nilai tukar rupiah.(AF)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)