Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Harga Gas Jambaran Tiung Biru Disepakati US$7,6 per MMBTU, Pertamina Minta Tambahan Split

JAKARTA – Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) akan segera dilanjutkan menyusul tercapainya kesepakatan harga gas yang dihasilkan antara PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina EP Cepu dengan calon pembeli gas utama,  PT PLN (Persero).
Pemerintah yang menjadi penengah pembicaraan antara kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut akhirnya memutuskan harga gas di plant gate PLN adalah sebesar US$7,6 per MMBTU, Selasa (1/8).
Adriansyah, Direktur Utama Pertamina EP Cepu (PEPC), mengatakan seiring kesepakatan tersebut proyek JTB bisa segera dilanjutkan. Namun demikian PEPC terlebih dulu harus menyusun strategi efisiensi karena harga gas yang disepakati memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi secara masif.
“Benar harga US$ 7,6 per MMBTU di plant gate PLN. Jadi harus super efisien dan kita harapkan ada tambahan insentif dari pemerintah,” kata Adriansyah kepada Dunia Energi,  Selasa (1/8).
Lebih lanjut Adriansyah menuturkan insentif yang dimaksudkan tidak hanya terkait kebijakan fiskal tapi yang utama adalah bagi hasil. Hal ini diperlukan sehingga biaya pengelolaan proyek bisa sesuai dengan perhitungan nilai keekonomian yang dilakukan Pertamina.
“Kita berharap ada perubahan split. Saat ini masih 65% pemerintah dan 35% menjadi milik kontraktor,” ungkap dia.
Pertamina EP Cepu sendiri sebenarnya tidak sendiri dalam pengelolaan proyek di wilayaj Blok Cepu ini. Terdapat Exxonmobil Cepu Ltd yang memiliki saham seimbang dengan PEPC yakni 41,4% serta BUMD 9,2%. Sisanya sebanyak 8% dimiliki anak usaha Pertamina lainnya yakni PT Pertamina EP.
Syamsu Alam Direktur Hulu Pertamina, mengungkapkan keyakinannya untuk bisa mengimplementasikan kesepakatan tersebut, namun tetap harus didukung kebijakan dari pemerintah. Meskipun sebagai perusahaan milik negara yang harus bisa mensupport program pemerintah, Pertamina juga memiliki kewajiban menjaga keberlangsungan suatu proyek yang sudah diamatkan.
“Dengan beberapa optimasi dan efisiensi mudah-mudahan bisa. Tentu Pertamina juga tetap harus menjaga agar proyek ini tetap ekonomis,” tegas Syamsu.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)