Dunia Energi Logo Senin, 17 Desember 2018

Mengukur Rasionalisasi Penerapan B20

Tidak lama pemerintah akan menerapkan B20 untuk solar PSO. Perlu diketahui selama ini Biosolar ini di pasar campurannya tidak konsisten ada yang B5, B10, dan B15. Beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama waktu saya mengikuti rapat di Kementrian Energi dan Sumnerdaya Mineral (ESDM), ada beberapa temuan penggunaaan biosolar.  Pertama, pemakaian biosolar ini akan meningkatkan penggunaan bahan bakar hingga 2,3%, service interval yang semakin singkat dan ada temuan filter men-jelly.

Saya agak sedikit heran ketika pemerintah tetap berkeras agar program ini tetap jalan dimana harga CPO di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000. Kisaran harga ini nantinya malah menambah beban subsidi jika dicampur dengan solar subsidi yang pada saat ini hanya Rp5.150 per liter.

Program B20 ini akan tetap jalan walaupun spesifikasi teknis kendaraan yang beredar pada saat ini B7 dan B10. Agen Pemegang Merk (APM) pun hanya berani menjamin untuk kendaraan keluaran 2016 keatas. Sebagai negara yang menganut sistim kelaikan kendaraan bukan umur kendaraan maka kendaraan yang ada akan menjadi korban dari kebijakan ini khususnya yang belum memiliki spesifikasi yang memadai.

Kendaraan yang tidak FAME/Biodiesel ready itu jumlah nya sangat besar menurut data Kemenperin ada 4,3 juta kendaraan yang harus kita pikirkan nasibnya dari implementasi kebijakan ini. Truk adalah konsumen terbesar biodiesel, jika sampai kendaraan ini banyak yang bermasalah dengan kebijakan pemerintah maka logistik dan transportasi kita akan sangat terbebani ditengah biaya logistik kita yang mahal.

Pemerintah harusnya tidak perlu terlalu terburu buru dalam mengimplementasikan biodiesel. Sampling yang diambil juga hanya di daerah Jabotabek-Jabar selama 4.0000 km menggunakan kendaraan penumpang kecil. Seharusnya sebagai konsumen terbesar dan yang terdampak langsung dengan kebijakan ini maka truklah dan yang usianya bakal terdampak yang dijadikan sampel. Kondisi lingkungan kerjanya juga jauh lebih ekstrim.

Beberapa uji coba dari APM pun menurut saya kurang memadai seperti uji mesin saja dan bukan uji jalan, menggunakan solar yang ada dipasar dimana campuran B20-nya gak konsisten (B5, B10 dan sebagainya). Oleh karena itu, harus kita lakukan kajian sangat mendalam jangan aturan diterbikan kemudian menjadi masalah dicabut lagi. seakan tidak bijak dalam mengeluarkan aturan.

Biodiesel memiliki sifat korosif dan asam sehingga jika tertarik dalam ruang bakar maka lama kelamaan mesin menjadi ngempos dan akan kehilangan tenaga alias rusak. kendaraan yang lama juga tidak  FAME ready dan untuk membuat FAME ready maka karet, hose dan gasket semua harus diganti dengan melakukan modifikasi mesin. kedua tanki solar harus dilapisi anti karat karena sifatnya yang korosif. Jangan lupa ditambahkan water separator filter.

Kendaraan lama sebaiknya diganti sistim fuel delivery dan tankinya karena sifat fame yang membersihkan akan mengangkat residu di dalam tanki dan membawa kotoran tersebut ke ruang bakar. Jika tidak memiliki sisitim penyaringan yang baik akibatnya mesin bisa rusak terlebih jika pemerintah mengimplementasikan tanpa sosialisasi ke semua stakeholder.

Dalam implementasinya FAME/CPO ini memiliki sifat mengikat air. Minyak tidak akan pernah menyatu dengan air. Jaman dahulu yang dicampurkan ke solar itu minyak tanah karena harga minyak tanah yang lebih murah oleh karena itu disiasati dengan sedimenter filter. Celakanya biosolar ini memiliki sifat mengikat minyak dan air sehingga ketiganya bisa tercampur. Saat ini disiasati dengan water separator filter untuk mencegah masuknya air ke ruang bakar.

Padahal, supply chain solar kita ini amat payah. Ada kejadian di Jakarta beberapa waktu lalu entah pemilik pom nya yang nakal atau dari campurannya. sehingga kandungan airnya sangat tinggi dan banyak truk yang rusak pada waktu itu. Sifat biosolar ini banyak dimanfaatkan pom nakal untuk mencampurkan air agar menambah volume. Contoh B20 harusnya 20% FAME 80% solar. Bisa jadi 79% solar 19% Fame dan 2% Air.  Nah, siapa yang memastikan hal ini?

Pada dasarnya spesifikasi teknis itu susah sekali ditawar karena tidak bisa ya tidak bisa kecuali dilakukan modifikasi mesin (upgrade) atau di scrap truknya. Hanya dengan truk yang FAME ready engine kebijakan ini bisa diimplementasi jika kita ingin terus menjalankan program ini demi tercapai kemandirian energi nasional.

Jangan lupa juga sekarang ini jaman permainan tarif barrier sudah tidak jaman walaupun Donald Trump mulai memainkan lagi. Non-tarrif ini dimainkan sama Thailand kepada Kamboja dimana Thailand Euro 4 truknya bisa masuk Kamboja tapi Kamboja Euro 2 truknya tidak bisa masuk Thailand. Sama ekspor Indonesia ke Vietnam terhambat karena masalah emisi. Itu pernyataan Presiden Joko Widodo saat GIIAS. CPO kita juga dihadang masuk Eropa karena issu lingkungan.

Dengan semakin boros 2,3% maka hitungan target emisi kita semua harus dievaluasi. Negara lain men-declare akan lebih cepat mencapai target emisi untuk menurunkan barrier masuk ke negara lain, kita malah menambah barrier karena target emisi kita tidak tercapai. Sudah saatnya kita fokus ke penurunan emisi untuk mengurangi barrier. Mesin-mesin yang ada sekarang pun itu standar Euro 4. Tidak mungkin pabrik terus membuat mesin lama karena tidak akan mencapai economies of scale dan akan malah menjadi biaya tinggi untuk mereka. Anehnya mesin common rail Euro 4 malah di downgrade ke Euro 2 di Indonesia karena masalah kualitas BBM.

Target Emisi kita masih jauh panggang dari api. Dari target presiden sebesar 26% di 2030 saat ini hanya tercapai 2,6% saja. Akan dibutuhkan langkah langkah yang lebih agresif dan nyata karena jika tidak akan lebih banyak ekspor kita yang di-nontarif kan sama negara negara lain karena issue lingkungan dan ujungnya defisit anggaran kita juga semakin lebar karena kita tidak akan dapat dollar.

 

Kyatmaja Lookman

Pengusaha Logistik

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.