INDONESIA adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan bentang luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer persegi. Area ini juga mencakup wilayah lautan di sekitarnya, termasuk zona ekonomi eksklusif, yang secara keseluruhan memiliki total luas wilayah 7,9 juta kilometer persegi. Hamparan ini terbagi dalam tiga zona waktu dari wilayah timur hingga barat.

Industri minyak dan gas di Indonesia telah aktif selama lebih dari 130 tahun, sejak penemuan minyak pertama di Sumatera Utara pada tahun 1885. Sejak terdaftar sebagai anggota OPEC pada 1961, Indonesia menangguhkan keanggotaannya pada tahun 2009 karena penurunan produksi migas selama bertahun-tahun. Pada tahun 2017, industri ini mengalami perubahan sistem kontrak secara signifikan, yaitu beralih dari model Cost-Recovery tradisional menjadi model Gross Split yang baru. Perbedaan mendasar antara kedua Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Cost/PSC) ini adalah bagaimana pemerintah dan perusahaan migas mengambil bagiannya. Dalam skema Cost Recovery PSC, mereka membagi bagiannya dari pendapatan bersih, sedangkan dalam skema Gross Split PSC, mereka membagi pendapatan kotor secara langsung.

Menurut Laporan SKK Migas Tahun 2022, Indonesia memproduksi 612.300 BOPD dan 5.350 MMscfd pada tahun 2022. SKK MIGAS telah memperkenalkan rencana strategis minyak dan gas Indonesia (“IOG 4.0”) yang komprehensif dengan tujuan mencapai tingkat produksi sebesar satu juta BOPD dan 12.000 MMscfd pada tahun 2030.

Pada tahun 2023, terdapat beberapa kegiatan dan proyek utama hulu migas yang bertujuan untuk meningkatkan produksi, di antaranya adalah empat proyek besar yang diperkirakan akan berkontribusi besar terhadap nilai produksi. Proyek-proyek tersebut telah diklasifikasikan oleh pemerintah sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) karena nilai investasinya yang besar.

Gambar 1: Lokasi proyek strategis migas Indonesia tahun 2023.

 

Proyek Jambaran Tiung Biru di Bojonegoro, Jawa Timur – Perkiraan Nilai Investasi: US$1,53 miliar – (PERTAMINA)

Proyek ini meliputi pengeboran 6 sumur produksi gas dan 1 sumur Plug and Abandon (P&A) sementara. Selain itu, proyek ini juga melibatkan pembangunan fasilitas pengolahan gas dengan kapasitas desain 330 MMscfd, serta pengembangan fasilitas pendukung seperti well pad, jalan akses, jaringan pipa produksi (18 inci dan 20 inci) serta pipa gas penjualan & pengukuran.

Proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makassar, Kalimantan Timur – Perkiraan Nilai Investasi: US$6,98 miliar – (ENI)

Sebuah proyek terpadu yang sedang dijalankan untuk mengembangkan 5 (lima) ladang gas laut dalam, dengan kedalaman berkisar antara 975 – 1.785 m. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar gas dalam negeri dan memberikan dukungan kepada Kilang LNG Bontang.

Proyek Abadi di Laut Arafura, Maluku – Perkiraan Nilai Investasi: US$19,8 miliar – (INPEX)

Saat ini, proyek tersebut sedang dalam tahap Front-End Engineering Design (FEED) untuk onshore LNG, Floating Production Storage Offloading (FPSO), Gas Export Pipeline (GEP), dan Subsea Umbilicals, Risers, & Flowlines (SURF). Komponen-komponen ini sedang dalam proses pengadaan. Hal ini adalah langkah penting menuju kemajuan proyek.

Proyek Tangguh Train 3 di Bintuni, Papua Barat – Perkiraan Nilai Investasi: US$8,9 miliar – (BRITISH PETROLEUM)

Proyek ini melibatkan pengembangan dua sumur platform lepas pantai bernama WDA dan ROA. Selain itu, proyek ini juga mencakup pengeboran 10 sumur dan pembangunan train LNG berkapasitas 3,8 juta ton per tahun (Mtpa). Dengan hadirnya Train 3, kilang LNG Tangguh akan mengoperasikan tiga train secara kolektif, sehingga mencapai total kapasitas 11,4 Mtpa.

Pada tahun 2022, Indonesia berhasil menyelesaikan 10 dari 12 proyek sesuai yang tercantum pada peta di bawah. Dua proyek sisanya, yaitu Proyek YY (sedang berjalan) yang dikerjakan oleh kontraktor PHE ONWJ PSC dan Proyek MAC yang dilaksanakan oleh kontraktor Husky CNOOC Madura Ltd PSC, telah menyelesaikan pemasangan anjungan lepas pantai dan sedang menjalani proses pengeboran.

Gambar 2: Proyek minyak dan gas yang beroperasi di tahun 2022 (Laporan SKK MIGAS Tahun 2022).

 

Terkait asuransi energi hulu di Indonesia, pasar asuransi ini terutama mencakup operasi/aset dan proyek konstruksi untuk kegiatan hulu dan hilir berdasarkan skema Cost Recovery atau Gross Split. Kontraktor PSC yang mendapatkan proyek eksplorasi dan eksploitasi blok migas diwakili oleh pihak Tertanggung yaitu SKK MIGAS sebagai perwakilan pemerintah. Konsorsium perusahaan asuransi lokal yang bergerak di bidang hulu energi terdiri dari tujuh perusahaan asuransi untuk aset/operasi dan delapan perusahaan asuransi untuk konstruksi. Keduanya dipimpin oleh perusahaan asuransi lokal.

Perjanjian khusus untuk penempatan risiko telah dibuat dengan pasar reasuransi internasional untuk menutupi potensi risiko. Penempatan risiko di pasar reasuransi diatur oleh pialang reasuransi yang ditunjuk oleh konsorsium asuransi setempat melalui proses tender. Untuk kerugian hilir, terdapat retensi oleh pasar lokal Indonesia dengan jumlah tertentu. Namun, biasanya hanya terdapat sedikit atau bahkan tidak ada retensi untuk risiko hulu.

Meskipun pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengembangkan industri berbasis energi ramah lingkungan di tahun-tahun mendatang, tampaknya bahan bakar fosil, khususnya energi berbasis minyak dan gas, akan terus mendominasi hingga tahun 2040. Dalam konteks ini, pasar asuransi minyak dan gas terus berperan penting dalam pasar energi Indonesia.