Dunia Energi Logo Jumat, 18 Januari 2019

2019 Mulai Produksi Baterai Lithium, Pemerintah Minta Pengembangan Mobil Listrik Dipercepat

JAKARTA – Indonesia segera miliki fasilitas produksi baterai lithium secara mandiri dan akan menjadi yang salah satu yang terbesar di dunia. Baterai lithium merupakan komponen utama dalam kendaraan listrik.

Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Maritim, mengatakan groundbreaking pabrik baterai lithium akan dilakukan pada 2019. “Itu akan jadi pabrik baterai terbesar di dunia,” kata Luhut disela Pertamina Energy Forum di Jakarta, Kamis (29/11).

Indonesia kata dia memiliki sumber daya yang mumpuni untuk menjadi pemain utama dalam bisnis dan industri mobil listrik yang menggunakan baterai lithium. Pasalnya bahan baku utama baterai yakni nikel berlimpah di tanah air.

Indonesia harus menjadi pemain utama lithium baterai, dengan posisi saat ini sebagai produsen nikel terbesar sehingga bisa mengkontrol market dunia. “Sekarang kita masih jadi player,” tukas Luhut.

Menurut Luhut, saat ini pemain utama baterai lithium adalah China. Indonesia harusnya bisa belajar dari China karena sukses memproduksi sekaligus menempatkan diri sebagai pemasok utama baterai untuk kendaraan listrik di dunia.

Sementara pasar baterai lithium yakni Amerika Serikat. Disana pertumbuhan penjualannya sangat positif lantaran adanya insentif dari pemerintah.

Produksi kendaraan listrik sekarang ini didominasi Jepang. Indonesia diminta tidak hanya menonton pertumbuhan mobil listrik, tapi juga ikut menjadi pemain utama.

“Pengembangan baterai listrik menjadi faktor utama keberhasilan mobil listrik. Baterai listrik itu jadi kunci karena akan murah mobilnya. Nikel itu kita yang terbesar di dunia. Jadi sekarang arahnya ke mobil listrik,” ungkap Luhut.

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan mobil listrik bisa jadi solusi untuk membatasi penggunaan energi fosil. Data PT Pertamina (Persero) menyebutkan rata-rata konsumsi BBM Indonesia sekitar 1,3 juta barel per hari (bph), 400 ribu bph diantaranya dibeli Pertamina dari luar negeri alis impor.

Baca juga  PKS: Tarif Listrik 1.300 VA Tidak Perlu Naik

“Kita sangat mendorong industrialisasi untuk membuat kendaraan dari listrik. Kenapa penting, karena listrik dihasilkan dari energi primer yang besar seperti batu bara, gas, geothermal, air tenaga surya, bio massa juga lokal, Arus laut, angin atau wind power supaya bisa diharapkan mengurangi impor BBM ” tandas Jonan.(RI)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.