JAKARTA – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) menargetkan rerata pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 11,33% dari tahun 2026-2034 mendatang. Hal tersebut ditopang dari transformasi layanan bisnis yang kini sedang diusung manajeman.
Himawan Djatmiko, VP Corporate Secretary & Legal Counsel Pertamina Drilling menyatakan transformasi model bisnis perusahaan akan jadi motor utama dalam rencana manajemen untuk terus tumbuh dan bertransformasi dari sekedar penyedia jasa pengeboran menjadi penyedia solusi proyek terintegrasi atau Integrated Project Management (IPM).
IPM sendiri merupakan solusi end-to-end well construction yang memungkinkan perusahaan menangkap pangsa pasar lebih besar dari belanja hulu migas.
Untuk mendukung seluruh rencana tersebut, Pertamina Drilling secara konsisten terus memperkuat armada rig miliknya. Hingga tahun 2026, perusahaan telah memiliki 58 unit rig.
Aset tersebut terdiri dari 53 rig onshore atau Land Rig Services, 2 unit rig offshore work over, hingga 3 unit rig jack-up melalui skema kemitraan strategis.
“Ke depannya, PDSI bukan hanya urusan mengebor, tapi satu paket mulai dari persiapan lokasi sampai diserahkan kembali ke pemilik wilayah kerja,” ujar Himawan saat berdiskusi dengan awak media di Jakarta, Rabu (22/7).
Dalam road map jangka panjang perusahaan ada target untuk memperkuat posisi di industri jasa energi. Dimana manajemen pada tahun 2026-2034 memproyeksikan pendapatan meningkat 11,33%. Selain itu, Pertamina Drilling juga menargetkan bisa ekspansi dan melakukan pengeboran sumur migas di luar negeri.
“Kami ingin melebarkan sayap sampai ke luar negeri agar bisa membawa uang dari luar masuk ke Indonesia, tidak hanya bermain di kelas lokal,” kata Himawan.
Jika melihat rekam jejak kinerja keuangan Pertamina Drilling, terdapat pertumbuhan positif laba bersih menjadi US$29,61 juta pada 2025 dari tahun sebelumnya yang hanya US$23,89 juta. Pertumbuhan laba bersih itu terjadi di tengah melemahnya total pendapatan PDSI dari US$446,5 juta menjadi US$435,7 juta pada periode yang sama.
Sementara jika ditarik lebih jauh, pertumbuhan pendapatan Pertamina Drilling tercatat berada di kisaran 14,5% per tahun dari 2020 sebesar US$221,1 juta menjadi US$435,7 juta.
Kemudian, laba bersih PDSI sebesar US$29,61 juta juga tercatat mengalami lonjakan 4,6 kali lipat dari tahun 2020 yang hanya US$6,43 juta dengan CAGR di kisaran 36%.
Ke depan, Pertamina Drilling juga membidik pasar energi baru terbarukan dan dekarbonisasi sebagai mesin pertumbuhan baru. Perusahaan bersiap menjadi enabler strategis dalam proyek Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) melalui layanan ICESS.
Selain itu, optimalisasi teknologi hijau seperti Dynamic Gas Blending (DGB) dan Gas to Liquid (GTL) akan diterapkan untuk menciptakan operasi pengeboran yang lebih hemat biaya sekaligus rendah emisi.


Komentar Terbaru