JAKARTA – Indonesia adalah salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selain dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar minyak jenis solar, kini penelitian pemanfaatan sawit untuk bahan bakar jenis bensin maupun gas alam cair (Liquefied Petroleum Gas/LPG) tengah dikembangkan di Indonesia, salah satunya melalui kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Indonesia yang pertama mengembangkan sawit untuk bensin melalui co-processing. Minyak sawit dicampurkan ke kilang dengan proses cracking, menggunakan katalis merah putih, yang juga merupakan produksi anak bangsa, dan akan menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses,” kata Dadan Kusdiana, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (15/4).

Menurut Dadan, pemanfaatan sawit untuk bensin juga telah dilakukan di beberapa negara, seperti di Amerika, Italia, dan UEA. Namun, yang dikembangkan di negara-negara tersebut adalah membuat pabrik baru yang dapat mengolah langsung sawit dengan bensin sebagai salah satu produknya.

“Yang mereka kembangkan bukan co-processing, tapi standalone, dari sawit menghasilkan bensin. Untuk co-processing ini kami yang pertama,” katanya.

Dadan mengatakan kelebihan lain dari co-processing adalah masih menggunakan kilang exsisting, sehingga diyakini akan lebih hemat dalam proses produksi.

“Yang digunakan adalah kilang eksisting, hanya ditambahkan proses di tengahnya untuk menghasilkan bensin dan LPG,” katanya.

Namun demikian masih belum dapat dipastikan harga jual nantinya bahan bakar yang dihasilkan dari proses co-processing lantaran masih akan tergantung dari harga bahan baku berupa kelapa sawit. “Ada mekanisme yang saling menguntungkan pastinya, bisa melalui intensif atau bentuk lain. Kita tahu hingga saat ini di lapangan¬† kalau harga minyak goreng selalu lebih mahal dari bahan bakar,” kata Dadan.(RI)