JAKARTA – Pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) ditargetkan akan memasuki babak baru pada tahun ini dimana potensi cadangan yang sudah ditemukan bakal di POP-kan atau Put On Production atau usaha untuk memproduksikan migas dari sumur temuan eksplorasi dengan tie-in ke fasilitas produksu yang sudah ada di sekitarnya.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan langkah ini diambil untuk memastikan cadangan MNK yang ada di wilayah Rokan. Dia menuturkan Pertamina memang telah melakukan pemboran dua sumur eksplorasi MNK di Rokan. “Rokan masih eksplorasi lanjut tp belum POD rencana mau di POP kan dulu,” kata Djoko kepada Dunia Energi, Rabu (22/7).

Lebih lanjut Djoko menuturkan eksplorasi akan tetap dilanjutkan dengan pengeboran. Menurut dia sumur MNK di Rokan sempat dites dan mampu mengalirkan 500 barel per hari (BOPD) minyak. “segera, kan ngebor eskplorasinya sudah dapat 500 bopd saat dites, tinggal di POP-kan,” ujar Djoko.

Boleh jadi ini merupakan salah satu upaya SKK Migas dan PHR untuk menggenjot produksi minyak blok Rokan. Seperti diketahui produksi minyak Rokan tidak kunjung optimal sejak pergantian tahun lantaran berbagai insiden yang terjadi mulai dari kebakaran yang melanda pipa yang alirkan gas untuk pembangkit listrik. Selanjutnya pembangkit listrik Rokan yang dikelola PLN MCTN alami kerusakan turbin. Hal itu membuat ribuan pompa angguk di Rokan tidak bekerja.

Proyek MNK di Blok Rokan tengah menjadi sorotan dan showcase bagi investor migas global. Pemerintah juga sedang mematangkan regulasi khusus berupa kontrak MNK untuk menarik minat perusahaan energi raksasa dalam menggarap potensi besar tersebut.

SKK Migas memang mendorong Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) untuk merealisasikan pemboran paling tidak tiga sumur appraisal pada tahun ini.

Rikky Rahmat Firdaus, Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, pernah menyatakan untuk memperkuat keyakinan keekonomian proyek, PHR diharapkan menambah sumur lanjutan tahun ini. “Minyak non-konvensional tahun ini kami harapkan Pertamina Hulu Rokan menambah 2–3 sumur appraisal untuk meyakinkan kita bahwa sumur-sumur non-konvensional ini memang layak dan ekonomis untuk dikembangkan,” kata Rikky disela DETalk yang digelar Dunia Energi, pada Februari lalu.

Sebelumnya PHR telah melakukan pemboran dua sumur eksplorasi di Kelok dan Gulamo dengan hasil yang menggemberikan dengan ditemukannya kandungan hidrokarbon. Namun demikian, Rikky menegaskan bahwa pengembangan minyak non-konvensional memiliki tantangan teknologi dan operasional yang tidak sederhana.

Dia menjelaskan pengembangan MNK memerlukan penanganan khusus, mulai dari jumlah sumur hingga kebutuhan pendukung lainnya.

“Syarat dari minyak non-konvensional ini adalah banyak sumur, harus ratusan sumur, lalu non-productive time ngebornya cepat, efisien dan efektif, lalu membutuhkan banyak air untuk menginjek fracturing dalam konteks perkahan batuan di dalam sumurnya, lalu juga membutuhkan butiran pasir untuk mengganjal setelah difract, bukan dia nutup, tapi bisa tetap melewatkan fluida non-konvensional,” jelasnya.

Selain itu, ke depan diperlukan dukungan regulasi dan ekosistem yang memadai, termasuk skema kerja sama bagi hasil yang baru sehingga proyek ini bisa masuk dan layak secara keekonomian. “PHR tentunya akan mengusulkan kontrak kerjasama baru di luar yang konvensional yang kita pahami bersama saat ini dengan KBH khusus terkait dengan minyak non-konvensional,” ungkap Rikky. (RI)