JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi produksi gas nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 6.550 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sementara itu, realisasi penyaluran gas tercatat sebesar 5.207 MMSCFD.

Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas mengatakan kinerja produksi gas nasional menunjukkan tren yang positif dan hampir mencapai target yang ditetapkan dalam APBN 2026.

“Untuk gas, alhamdulillah kita hampir mencapai target. Kita rata-rata sudah mencapai 95 persen dari target APBN, dan ke depan akan terus meningkat mencapai target APBN,” kata Djoko dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI beberapa hari lalu.

Berdasarkan data operasional SKK Migas per 31 Mei 2026, produksi gas pada Januari mencapai 6.459 MMSCFD, meningkat menjadi 6.667 MMSCFD pada Februari. Produksi kemudian tercatat 6.659 MMSCFD pada Maret dan naik menjadi 6.807 MMSCFD pada April sebelum turun menjadi 6.179 MMSCFD pada Mei.

Adapun volume salur gas tercatat sebesar 5.202 MMSCFD pada Januari, meningkat menjadi 5.340 MMSCFD pada Februari, 5.324 MMSCFD pada Maret, dan 5.398 MMSCFD pada April. Pada Mei, volume salur gas mencapai 4.786 MMSCFD.

Djoko menjelaskan sejumlah faktor memengaruhi kinerja produksi gas pada tahun ini. Pada kuartal pertama, terjadi kebocoran pipa milik TGI yang berdampak pada tujuh KKKS pemasok gas, termasuk MEPG, PHE Jambi Merang, dan PetroChina Jabung. Selain itu, kegiatan tripped Train 1, 2, dan 3 di fasilitas BP Berau juga turut memengaruhi produksi gas nasional.

Memasuki kuartal kedua, produksi gas terdampak oleh kegiatan Turn Around (TA) Train 1 BP Tangguh serta pemeliharaan fasilitas yang dilakukan oleh JOB PMTS, HCML, dan MEPN.

Meski menghadapi sejumlah tantangan operasional, SKK Migas optimistis target produksi gas tahun 2026 tetap dapat tercapai. Outlook 2026 menunjukkan produksi gas diproyeksikan mencapai 6.787 MMSCFD, sedangkan volume salur gas diperkirakan mencapai 5.400 MMSCFD.

SKK Migas terus mendorong optimalisasi produksi lapangan gas eksisting, percepatan proyek-proyek strategis hulu migas, serta peningkatan keandalan infrastruktur gas guna menjaga pasokan energi nasional dan mendukung kebutuhan industri maupun pembangkit listrik. (RI)