TANGERANG – Perusahaan minyak nasional atau National Oil Company (NOC) kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai mesin penerimaan negara, tetapi juga memikul tanggung jawab besar menjaga ketahanan energi nasional. Bukan hal mudah karena dihadapi dengan isu transisi energi dan gejolak geopolitik global.

Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina, mengatakan pemerintah menempatkan perusahaan energi nasional sebagai pilar utama ekonomi sekaligus penjaga keamanan pasokan energi. Dengan adanya peran ganda NOC maka strategi investasi sektor migas harus tetap dijalankan seiring transisi energi yang sedang berlangsung. Gas bumi di sini akan mengambil peranan lebih besar.

“Selain menjadi mesin pendapatan, tugas kedua kami adalah menjaga ketahanan energi, dan tugas ketiga yang tak kalah penting adalah menciptakan multiplier effect atau efek pengganda ekonomi,” kata Oki disela Plenary Special Session – Global Challenges: NOC’s At The Heart Of Energy Resilience pada IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).

Oki menilai gas alam akan memainkan peran penting sebagai energi transisi karena mampu menyediakan energi yang lebih rendah emisi namun tetap kompetitif secara ekonomi. Pertamina pun aktif mengembangkan proyek-proyek gas strategis, termasuk proyek Masela bersama Petronas dan INPEX dengan nilai investasi sekitar US$20 miliar.

Ia juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasokan energi domestik. Saat ini kapasitas kilang nasional mencapai sekitar 1 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari.

“Artinya terdapat kesenjangan sekitar 400 ribu barel per hari. Karena itu kami menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.

Di sisi lain, Oki menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan korporasi dalam mendukung pengembangan energi nasional. Menurutnya, sinkronisasi kebijakan fiskal, target ekonomi, hingga regulasi energi menjadi faktor penting agar investasi tetap menarik sekaligus mampu menjaga ketahanan energi.

“Sebagai korporasi, kami tetap membutuhkan tingkat pengembalian investasi yang sehat,” katanya.

Sementara itu, Mohd Redhani Abdul Rahman, VP International Assets Petronas, mengatakan NOC saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat kondisi global. Menurut dia, NOC harus mampu menyeimbangkan nilai bisnis, keamanan pasokan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan.

“Sebagai NOC, tentu kami ingin menciptakan nilai dari sumber daya yang dimiliki. Namun yang lebih penting, kami harus memastikan keamanan pasokan energi bagi negara, memastikan energi tetap terjangkau, dan juga berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, stabilitas regulasi dan fleksibilitas kebijakan fiskal akan menjadi faktor utama dalam menarik investasi energi yang kini dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan permintaan energi dunia.

“Petronas sendiri telah beberapa kali berevolusi dalam model fiskal dan kontrak, mulai dari sistem konsesi, PSC, hingga berbagai skema fiskal baru,” jelas Redhani . (RI)