JAKARTA – Ketersediaan stok gas akan semakin besar seiring dengan terus ditemukannya cadangan gas. Bahkan berdasarkan neraca gas bumi 2023-2032 terungkap bahwa surplus gas bisa terjadi mulai 2025.

Rizal Fajar Muttaqien, Koordinator Penyiapan Program Migas Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan untuk mengatasi kelebihan pasokan yang sangat berpotensi terjadi mulai 2025 perlu disiapkan calon pembeli gas dari dalam negeri sehingga gas bisa dimanfaatkan tidak langsung dijual atau diekspor.

“Indonesia bakal surplus gas hingga 2035. Pasokan gas nanti ada dari Bontang, Tangguh, serta dari proyek Masela. Ini gasnya bisa juga untuk domestik, terutama pembangkit listrik dan industri,” kata Rizal berbicara pada 10th Indogas and Power 2023: Indonesia Gas Conference and Exhibition di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (14/6).

Konektivitas kini menjadi isu utama dalam penyaluran gas di Tanah Air. Menurut dia, Pemerintah sebenarnya sudah berinisiatif mengisi gap antara sumber pasokan gas dan wilayah yang membutuhkan gas. Ini bisa dilihat dari proyek pipa gas transmisi ruas Cirebon – Semarang (Cisem) yang ditargetkan bisa rampung pada Agustus nanti untuk tahap I. “Sekarang hampir tersambung dari Sumatera hingga ke Jawa,” ujar Rizal.

Kebutuhan gas domestik sebenarnya sudah mengalami pertumbuhan. Penurunan ekspor gas dimulai 2012, sejalan penggunaan gas untuk dalam negeri juga mulai meningkat, namun pertumbuhannya sejak saat itu hanya dikisaran 1% setiap tahunnya. Tahun 2022 dari total produksi gas sebesar 5.474 ribu kaki kubik per hari (MMscfd) 68% di antaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan sisanya sebesar 32% diekspor.

Rayendra Sidik, Kepala Divisi Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi SKK Migas, mengungkapkan berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dalam 15 tahun terakhir penemuan cadangan didominasi oleh temuan cadangan gas bumi. Maka wajar pemerintah fokus terhadap pengembangan proyek – proyek gas, termasuk skema komersialisasinya. Sejak 2013 temuan gas pasti diatas 40% bahkan mulai 2018 temuan gas tidak pernah dibawah 50% jika dibandingkan dengan minyak.

“Reserve yang ditemukan 15 tahun terakhir itu gas. Pengembangan yang ada di SKK Migas juga adalah pengembangan gas,” ujar dia.

Menurut Rayendra dengan besarnya potensi gas yang ada maka penggunananya juga diyakini bisa bertahan dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Apalagi pemanfaatannya tidak hanya untuk pembangkit maupun bahan bakar tapi yang lebih penting untuk industri. Dia mencontohkan industri petrokimia yang sangat dibutuhkan justru lebih banyak dipasok bahan bakunya dari luar negeri atau harus impor, padahal dengan menggunakan sumber daya gas yang ada Indonesia tidak perlu impor produk petrokimia dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Trade Map, Polyethylene (PE) menjadi beban impor terbesar Indonesia untuk produk petrokimia dalam 10 tahun terakhir. Setiap tahun sekitar US$1.500 juta dikeluarkan negara untuk impor PE sebanyak 1.100 Kiloton.
“Kita perlu memonetisasi cadangan gas yang ada. Untuk petrokimia, DME maupun gas to liquid. Kita bisa gunakan cadangan gas untuk menekan impor produk petrokimia,” ujar Rayendra.

Andriah Feby Misna, Direktur Aneka Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, mengungkapkan gas memiliki peran penting termasuk dalam pemenuhan energi di masa depan. Apalagi dengan emisi yang lebih rendah otomatis dengan peningkatan penggunaan gas maka emisi secara keseluruhan juga bisa ditekan.

“Gas bisa memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi. Setelah 2060 memang sudah tidak ada gas dalam RUPTL tapi masih ada untuk transportasi. Untuk industri dan gas ini sumber daya energi yang bersih,” jelas Feby. (RI)