CILEGON – Ketergantungan Indonesia terhadap pipa impor untuk sektor migas dan panas bumi mulai dijawab.

PT Artas Energi Petrogas bersama Inerco resmi menggelar soft launching pabrik pipa seamless (tanpa kampuh) pertama di Indonesia di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026).

Selama ini, kebutuhan pipa nasional yang mencapai 600.000 ton per tahun masih banyak dipenuhi dari impor pipa mentah atau green pipe oleh trader Oil Country Tubular Goods (OCTG). Kehadiran pabrik ini menjadi langkah konkret substitusi impor dan penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Soft launching dihadiri pengembang panas bumi se-Indonesia, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Staf Ahli Menteri ESDM Anwar, hingga lembaga sertifikasi TKDN. Mereka menyaksikan langsung proses pembakaran baja billet menjadi pipa seamless buatan dalam negeri yang telah mengantongi sertifikasi internasional API 5L, API 5CT, dan API Q1.

Pakar Panas Bumi sekaligus Dosen Magister EBT Universitas Darma Persada, Riki F. Ibrahim, menilai pemerintah harus berpihak pada produsen lokal.

“Jangan adu pabrikan lokal dengan trader impor. Jika prioritas hak impor diberikan kepada yang punya pabrik di Indonesia, nilai tambah akan maksimal tinggal di dalam negeri,” tegas mantan Dirut PT Geo Dipa Energi (2016-2022) itu.

Menurutnya, kehadiran pabrik ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal TKDN dan agenda hilirisasi yang digenjot Menko Hilirisasi yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Riki yang juga Ketua Pjs Dewan Pengawas METI menambahkan, kepastian pasar dari pemerintah akan menjadi kunci tumbuhnya investasi hilirisasi.

“Kalau dialog seperti ini sering dilakukan, hilirisasi akan tumbuh masif. Pengusaha butuh kepastian bahwa investasinya akan diserap pasar nasional,” ujarnya.

Dari sisi pelaku usaha, perusahaan EPC dan pengembang panas bumi menyambut positif. Dengan supervisi Kementerian ESDM, kualitas dan ketersediaan pasokan dinilai lebih terjamin dibanding impor.

Manajemen Artas dan Inerco juga menegaskan agenda jangka pendek mereka adalah memproduksi baja billet secara mandiri. Langkah ini dinilai realistis mengingat melimpahnya bahan baku bijih besi dan coking coal di Indonesia.(RA)