JAKARTA — PT Medco Energi Internasional Tbk mencatat penurunan signifikan laba bersih pada tahun buku 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, laba bersih Perseroan turun menjadi AS$ 101 juta dari AS$ 367 juta pada 2024.

Penurunan laba tersebut terjadi di tengah kinerja operasional yang relatif stabil, bahkan cenderung meningkat di sejumlah lini bisnis. Namun, sejumlah faktor eksternal dan non-operasional menjadi penyebab utama tergerusnya keuntungan perusahaan.

“Laba bersih sebesar AS$ 101 juta dibandingkan AS$ 367 juta pada 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari Amman Mineral Internasional, penurunan nilai aset non-kas, biaya pengeboran dry hole di PSC Beluga, serta melemahnya harga komoditas,” tulis keterangan resmi perusahaan dikutip (2/4).

Sepanjang 2025, harga minyak rata-rata tercatat turun sekitar 15% dari US$ 78 per barel menjadi US$ 67 per barel. Sementara itu, harga gas juga melemah dari US$ 7,0 menjadi AS$ 6,8 per mmbtu. Kondisi ini turut menekan profitabilitas, meskipun EBITDA tetap terjaga di level US$ 1,264 miliar atau relatif sama dengan tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, MedcoEnergi justru mencatatkan kinerja positif. Produksi minyak dan gas meningkat menjadi 156 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), didorong oleh produksi perdana dari Lapangan Terubuk dan Forel serta kinerja kuat di Oman Block 60. Bahkan, pada akhir tahun, tingkat produksi sempat melampaui 170 mboepd.

Di segmen ketenagalistrikan, penjualan listrik mencapai 4.371 GWh, dengan sekitar 25% berasal dari energi terbarukan. Perseroan juga melanjutkan ekspansi proyek pembangkit, termasuk panas bumi dan tenaga surya.

Di tengah tekanan laba, struktur keuangan perusahaan mengalami peningkatan utang. Total utang konsolidasi naik menjadi AS$ 3,646 miliar, antara lain untuk mendukung akuisisi FPSO Marlin Natuna serta pengembangan proyek energi baru dan terbarukan. Meski demikian, rasio utang bersih terhadap EBITDA masih berada di level 2,0x, dalam kisaran target perusahaan.

Likuiditas perusahaan tetap terjaga dengan posisi kas sebesar AS$ 633 juta pada akhir 2025. MedcoEnergi juga tetap membagikan dividen sebesar AS$ 80 juta, meningkat 19% dibandingkan tahun sebelumnya.

Roberto Lorato, CEO MedcoEnergi menyatakan bahwa secara keseluruhan perusahaan tetap mencatatkan kinerja yang kuat. “Pada tahun 2025 kami membukukan kinerja yang kuat bagi Perusahaan dan pemegang saham. Total imbal hasil pemegang saham tahunan mencapai rekor 27%,” ujar Robert0, Kamis (2/4).

Memasuki 2026, MedcoEnergi menargetkan peningkatan produksi minyak dan gas menjadi 165–170 mboepd serta penjualan listrik sebesar 4.550 GWh. Perusahaan juga menyiapkan belanja modal lanjutan untuk menjaga pertumbuhan operasional di tengah dinamika harga energi global.