BANDUNG – Jerman membidik pasokan mineral kritis dari Indonesia untuk menopang industri berteknologi tinggi. Upaya itu ditandai dengan kunjungan delegasi Kementerian Federal Riset, Teknologi, dan Antariksa Jerman (BMFTR) ke Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN di KST Samaun Samadikun, Bandung, Jumat (19/6).
Delegasi yang dipimpin Ludwig Kammesheidt diterima langsung Kepala PRSDG BRIN, Iwan Setiawan. Pertemuan ini menjadi langkah awal kemitraan strategis Indonesia-Jerman di bidang riset georesources.
Iwan Setiawan menyebut kebutuhan Jerman akan mineral kritis terus melonjak seiring pertumbuhan industri teknologi tinggi. “Pertemuan ini dilatarbelakangi kebutuhan Jerman sebagai negara maju akan sumber daya geologi, terutama mineral kritis seperti _Rare Earth Elements_ (REE), nikel, aluminium, silikon, dan lainnya guna memperkuat rantai pasok industri berteknologi tinggi melalui kemitraan dengan negara kaya sumber daya mineral seperti Indonesia,” kata Iwan.
Indonesia dinilai punya potensi besar sebagai pemasok mineral strategis dunia. Namun tantangan utamanya adalah teknologi ekstraksi yang efisien dan ramah lingkungan untuk mengolah mineral bernilai tinggi dari endapan laterit, seperti REE, indium, galium, vanadium, titanium, besi, hingga silikon.
Iwan menegaskan kolaborasi ini sejalan dengan agenda nasional hilirisasi. Indonesia tengah bertransformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah lewat pembangunan smelter dan fasilitas pemurnian di dalam negeri.
“Kegiatan ini dan kerja sama yang akan dilakukan mendukung cita-cita pemerintah terkait ketahanan mineral, hilirisasi, serta penguatan industri pertahanan nasional,” ujarnya.
Ke depan, BRIN dan BMFTR akan menjajaki riset bersama, mobilitas periset, alih teknologi, hingga pengembangan SDM. Fokus penelitian diarahkan ke eksplorasi geologi, pemodelan endapan mineral, dan teknologi pemisahan logam kritis dari laterit nikel maupun bauksit. Kerja sama juga berpotensi membuka riset energi baru berbasis geologi.
Jerman Apresiasi Lab BRIN
Delegasi Jerman turut meninjau fasilitas laboratorium di KST Samaun Samadikun. Mereka mengapresiasi infrastruktur riset BRIN dan optimistis peluang kerja sama bisa diperluas.
“Membangun platform kolaborasi riset georesources, pendanaan, pertukaran pengetahuan, alih teknologi, pengembangan kapasitas, serta pengembangan solusi inovatif untuk tantangan geologi dan sumber daya yang kompleks,” kata Iwan.
Lewat sinergi ini, BRIN dan Jerman diharapkan menghasilkan inovasi teknologi pengelolaan geologi berkelanjutan, memperkuat rantai pasok mineral kritis global, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di industri teknologi tinggi.

Komentar Terbaru