DENPASAR – Program Desa Energi Berdikari (DEB) berbasis urban farming yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) di Bali sukses mencuri perhatian delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Model pemberdayaan masyarakat berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) ini dinilai unik dan berpotensi diadopsi oleh National Oil Company (NOC) negara-negara tetangga.

‎Ketertarikan tersebut mengemuka saat para delegasi meninjau langsung kawasan DEB Uma Palak Lestari di Denpasar Utara, Bali. Konsep penggabungan transisi energi bersih dan ketahanan pangan dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal.

‎”Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan estimasi biaya hingga potensi pendapatan petani untuk dipelajari,” ujar Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) dalam keterangannya, Sabtu (31/10).

‎Keunggulan utama model DEB Pertamina terletak pada nilai multiplier effect yang tinggi. Kelompok Usaha Bersama (KUB) petani lokal mampu menghasilkan pendapatan (revenue) hingga lebih dari 32.500 Dolar AS per tahun.

‎Program yang mengoptimalkan lahan seluas 10 hektar ini dikelola oleh 35 anggota kelompok tani dan memberi dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar.

‎Tingginya pendapatan petani didorong oleh pemilihan komoditas premium, yakni beras jenis Mentik Susu. Beras ini memiliki nilai jual tinggi di pasar berskala high-end karena memiliki indeks glikemik rendah serta kandungan serat yang tinggi.

‎Perubahan signifikan ini dirasakan langsung oleh para penggerak di tingkat tapak. I Made Darayasa (62), Pekaseh (Ketua) Subak Sembung, bersama Wayan Sukadana (47), Ketua Komunitas Umepala Lestari, mengungkapkan bahwa kehadiran Pertamina menjadi solusi atas kendala klasik petani seperti kelangkaan air dan mahalnya biaya operasional.

‎Melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), yang memadukan kincir air (mikrohidro) dan panel surya, petani di wilayah hilir kini tidak lagi kesulitan air saat musim kemarau. Aliran sungai ditarik untuk mengairi sawah, sekaligus menyuplai penerangan jalan usaha tani seluas 10,26 hektar tersebut.

‎”Sebelum ada Siuma, kami sering berebut air saat musim kemarau. Sekarang, air (sungai) yang terbuang (mengalir) bisa dinaikkan kembali untuk mengairi sawah,” ungkap Wayan Sukadana.

‎Dari sisi finansial, elektrifikasi pertanian memberikan penghematan biaya operasional (cost-efficiency) yang masif. Jika sebelumnya pengolahan lahan dan traktor mengandalkan mesin konvensional berbahan bakar solar. Traktor itu mengkonsumsi sekitar 10 liter solar per hari. Kini petani terbantu dengan traktor listrik dengan sistem penggerak bertenaga baterai yang bersumber dari energi surya dan mikrohidro. Para petani tidak lagi terbebani oleh tingginya harga bahan bakar fosil, karena baterai dapat diisi ulang secara mandiri menggunakan pasokan energi bersih tanpa biaya tambahan listrik.

‎Tidak hanya mendongkrak produktivitas pertanian dan pasokan energi mandiri, kawasan Subak Sembung kini bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup. Keberadaan jogging track sepanjang 2,3 kilometer yang dibangun di tengah area persawahan menghadirkan daya tarik wisata tersendiri.

‎Didukung oleh instalasi 43 titik lampu penerangan otomatis yang ditenagai oleh sistem Siuma, kawasan ini aman dikunjungi masyarakat luas baik pada pagi maupun malam hari. Aktivitas rekreasi seperti berjalan santai, berolahraga, hingga memesan sayuran segar langsung dari petani (fresh from the farm), turut menggerakkan roda ekonomi kerakyatan dan mendongkrak pendapatan tambahan kelompok tani dari sektor pariwisata lokal.

‎Pertamina telah mengoperasikan 310 titik Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 desa telah dinyatakan mandiri penuh melalui skema exit strategy dengan masa pendampingan sekitar 3 hingga 5 tahun.

Sementara itu, Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), menekankan bahwa ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan energi untuk generasi mendatang. Simon menambahkan, keberadaan DEB yang diinisiatif Pertamina, mendukung penciptaan nilai ekonomi sekaligus mendorong kemandirian masyarakat di desa.

“Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang,” ujar Simon.