JAKARTA – Ada satu sinyal yang tidak bisa dipalsukan di pasar modal: ketika bosnya sendiri yang merogoh kocek untuk membeli saham perusahaannya.
Itu yang baru saja dilakukan Direktur Utama & CEO PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM/BRMS), Agus Projosasmito.
Pada 4 November 2026, Agus menambah lagi kepemilikannya sebanyak 3.225.000 lembar saham BRMS. Rinciannya, 2.225.000 lembar dibeli di harga Rp308, dan 1.000.000 lembar lainnya diborong di harga Rp310.
Dengan pembelian terbaru ini, Agus kini secara pribadi mengenggam 18.392.300 lembar saham BRMS.
Ini bukan aksi sekali-kali. Agus bukan satu-satunya.
Herwin Wahyu Hidayat, Direktur & Chief Investor Relations Officer BRMS, mengungkapkan ada lima direksi lain yang juga rutin membeli saham BRMS dalam 18 bulan terakhir. Jika ditotal, keenam direksi tersebut, termasuk Agus, kini memegang hampir 26 juta lembar saham BRMS.
Di saat kondisi makro sektor sedang berfluktuasi dan banyak investor ritel cenderung wait and see, jajaran direksi justru melakukan hal sebaliknya: menambah posisi. Mereka tidak hanya bicara soal optimisme di depan publik, tapi mempertaruhkan uang pribadinya sendiri.
Herwin menyebut aksi borong ini sebagai cerminan keyakinan penuh manajemen terhadap fundamental perusahaan.
“Pembelian saham tersebut menunjukkan keyakinan penuh dari manajemen Perusahaan terhadap fundamental kinerja BRMS yang tetap kuat terlepas dari kondisi makro sektor yang sedang berfluktuasi,” ujar Herwin dalam keterangan tertulis, Jumat(6/11/2026)
Dalam bahasa pasar, ini yang disebut skin in the game. Ketika manajemen ikut menanggung risiko yang sama dengan pemegang saham publik, kepentingan mereka menjadi sejajar. Jika harga saham naik, mereka ikut untung. Jika turun, mereka ikut merasakan.
Dan jika direksi yang paling tahu isi dapur perusahaan saja berani menambah saham di harga Rp308-Rp310, pertanyaannya: apa yang mereka lihat yang belum dilihat pasar?
Bagi investor, aksi borong orang dalam ini sering dibaca bukan sebagai jaminan harga akan naik besok, tapi sebagai sinyal bahwa dari dalam, fundamental perusahaan dinilai masih jauh lebih kuat dari apa yang tercermin di harga saat ini.(RA)





Komentar Terbaru