JAKARTA – Pengembangan Blok Natuna D-Alpha oleh Nations Petroleum berpeluang melibatkan kerja sama dengan perusahaan lain. Pemerintah masih meyakini pola kerja sama menjadi pilihan utama bagi kontraktor pemenang lelang. Selain itu kerja sama pengelolaan adalah hal yang lazim dalam proyek migas, terutama untuk proyek berskala besar dengan tantangan teknis dan kebutuhan investasi yang tinggi.

Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, Nations Petroleum bersama para pemenang lelang lainnya saat ini masih berada dalam tahap persiapan.

“Nanti ya, nanti kita sampaikan. Karena semuanya yang menang lelang kemarin, sekarang dalam proses persiapan semua,” kata Laode ditemuai di Jakarta, Senin (21/9).

Ketika ditanya apakah Nations Petroleum akan menggandeng perusahaan lain dalam pengelolaan dan pengembangan Natuna D-Alpha, Laode mengatakan pola kerja sama sangat mungkin dilakukan. “Pola-pola kerja sama tentu ada, biasanya sih kalau yang sudah-sudah selalu ada kerja sama,” ujarnya.

Menurut Laode, kebutuhan kerja sama tersebut juga berkaitan dengan perkembangan teknologi dalam pengembangan lapangan migas. Natuna D-Alpha diketahui memiliki tantangan berupa kandungan CO2 yang tinggi, yang membutuhkan teknologi pengolahan khusus.

Namun, Laode menilai kemajuan teknologi membuat sumber daya yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis kini memiliki peluang untuk dikembangkan.

“Sekarang kan teknologi sudah maju, jadi hal-hal yang dulu dirasakan tidak ekonomis, sekarang sudah lebih ekonomis,” katanya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi LNG yang kini memungkinkan pengembangan fasilitas dengan skala lebih kecil melalui konsep mini LNG.

“Dulu kalau kita bilang LNG, kita bicaranya kan 100 mm. Sekarang ada mini LNG, cuma 2 mm. Jadi sekarang teknologi sangat maju,” ujar Laode.

Dengan karakteristik Natuna D-Alpha yang membutuhkan teknologi pengolahan gas serta investasi besar, keterlibatan mitra strategis berpotensi menjadi bagian dari skema pengembangan proyek tersebut. Namun, pemerintah belum mengungkap perusahaan mana yang akan menjadi mitra Nations Petroleum maupun bentuk kerja sama yang akan digunakan.

Nations Petroleum sendiri tercatat merupakan salah satu anak usaha dari Arsari Group, perusahaan yang terafiliasi langsung dengan Hashim Djojohadikusumo, adik presiden Prabowo Subianto. Dalam website resmi Arsari Group terdapat informasi yang menyatakan bahwa “Minyak bumi tetap menjadi sumber daya penting dalam mendorong pertumbuhan Indonesia. Menyadari hal ini, Nations Petroleum berinvestasi pada teknologi ekstraksi dan pemulihan terbaru untuk memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan sumber daya, dan berkontribusi terhadap masa depan energi yang lebih aman dan berkelanjutan”.

Nations Petroleum menjadi pemenang lelang dengan total nilai bonus tanda tangan US$200 ribu dan nilai komitmen pasti mencapai US$103.309.000. Adapun komitmen pasti tersebut diperuntukan untuk berbagai macam kegiatan seperti 3 Paket G&G Study, Akuisisi dan Processing Data Seismik 3D seluas 591 km2, 1 Pilot Unit Design and Engineering, 3 Paket CO2 Integrated Study, 1 Manufacturing, Procurement and Construction, 2 Paket EPC Design Cost, 1 Sumur Appraisal, 1 Sumur Eksplorasi, 1 Paket Operation, Multi-Mode Testing and Monitoring. (RI)