JAKARTA – Upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional membutuhkan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) yang mampu menjaga sekaligus meningkatkan produksi. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga kemampuan mengubah potensi menjadi cadangan, proyek, investasi, hingga produksi.

Andre Wijanarko, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mengatakan penguatan ekosistem hulu migas menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan energi nasional. Menurut dia, upaya menutup kesenjangan produksi membutuhkan kepastian kebijakan, daya saing investasi, serta kemampuan eksekusi yang kuat.

“Kita tidak cukup hanya berbicara tentang menemukan cadangan. Kita harus berbicara tentang bagaimana resource menjadi reserve, reserve menjadi project, project menjadi investment, dan investment menjadi production,” ujar Andre pada Simposium IATMI XVIII 2026, Selasa (15/9).

Ia mengatakan, pada setiap tahapan tersebut terdapat tantangan yang harus diselesaikan, mulai dari regulasi, keekonomian proyek, teknologi, infrastruktur, hingga proses pengambilan keputusan. Karena itu, menurut Andre, ekosistem industri harus mampu memberikan tiga hal utama, yakni kepastian, daya saing, dan eksekusi.

“Kepastian agar investor memiliki kejelasan dan keyakinan terhadap arah kebijakan, regulasi, serta keekonomian proyek. Daya saing agar proyek-proyek migas Indonesia mampu bersaing dalam menarik modal, teknologi, dan talenta terbaik. Dan yang tidak kalah penting adalah eksekusi,” katanya.

Menurut dia, penguatan industri hulu juga tidak terlepas dari agenda pemerintah untuk membangun ketahanan dan swasembada energi nasional. Semangat tersebut sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional dan mendorong kemandirian ekonomi.

Dalam konteks hulu migas, kata Andre, agenda tersebut perlu diterjemahkan melalui peningkatan eksplorasi, percepatan pengembangan lapangan, penciptaan iklim investasi yang kompetitif, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sumber daya manusia.

“Semangat itu harus diwujudkan melalui kemampuan kita mengoptimalkan sumber daya nasional, memperkuat produksi dalam negeri, dan membangun ekosistem energi yang mampu menopang kebutuhan pembangunan nasional,” ujarnya.

Andre menilai perluasan peluang eksplorasi menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan sumber pertumbuhan produksi baru. Karena itu, perkembangan penambahan dan penawaran Wilayah Kerja (WK) migas baru menjadi bagian relevan dalam upaya menutup gap produksi nasional.

Menurut dia, WK baru tidak semata-mata berarti penambahan wilayah kerja atau acreage. Pembukaan peluang tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi investasi baru, kegiatan eksplorasi, pemanfaatan teknologi, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri penunjang, hingga penambahan sumber produksi migas nasional.

“Namun, membuka peluang baru hanyalah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikonversi menjadi cadangan, dikembangkan menjadi proyek, dan pada akhirnya menghasilkan produksi yang nyata,” kata Andre.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, investor, akademisi, dan asosiasi profesi agar peluang investasi dan eksplorasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan produksi.

Dalam hal ini, IATMI, kata Andre, memiliki peran untuk mempertemukan pengalaman, kompetensi, inovasi teknologi, dan gagasan para profesional dengan kebutuhan industri serta kepentingan nasional.

“Sebagai asosiasi profesi, IATMI memiliki tanggung jawab untuk mempertemukan pengalaman, kompetensi, inovasi teknologi, dan gagasan para profesional dengan kebutuhan industri dan kepentingan nasional,” ujarnya.

Ia berharap forum Simposium IATMI XVIII 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat mendorong lahirnya langkah konkret untuk memperkuat industri migas nasional.

Simposium IATMI XVIII 2026 mengangkat tema “Migas Indonesia di Era Transformasi Energi: Beradaptasi, Berkolaborasi, dan Memimpin” dengan subtema “Membangun Ketahanan Energi Nasional melalui Teknologi, SDM, dan Kapabilitas Nasional”.

Salah satu agenda utama dalam simposium tersebut adalah Executive Plenary Session dengan tema “Menutup Gap Produksi Indonesia: Apakah Ekosistem Kebijakan dan Investasi Kita Sudah Siap?”. Sesi tersebut mempertemukan perspektif pemerintah, badan usaha, investor, dan pemangku kepentingan industri untuk membahas tantangan produksi serta investasi hulu migas.

Pembahasan tidak hanya mencakup target produksi, tetapi juga financial solutions, major discoveries, transformasi digital, business judgment, kepastian hukum, hingga keberlanjutan industri energi.

Selain itu, rangkaian simposium mencakup special session, technical session, Student Paper Competition, dan IATMI Talent Development Program. Lebih dari 100 technical paper dan 36 e-poster juga dipresentasikan dalam forum tersebut.

Andre mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting karena ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan investasi saat ini, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang akan melanjutkan industri energi nasional.

“Kita juga sedang mempersiapkan siapa yang akan melanjutkannya di masa yang akan datang,” katanya.

Saat ini IATMI memiliki 18.921 anggota yang terdiri atas 11.659 profesional, 642 akademisi, dan 6.620 mahasiswa. Komposisi tersebut, menurut Andre, menunjukkan pentingnya peran asosiasi dalam mempertemukan pengalaman industri, pengetahuan akademik, serta energi generasi muda.

Ia berharap Simposium IATMI XVIII 2026 dapat mempertemukan gagasan dengan keputusan, keputusan dengan investasi, dan investasi dengan produksi.

“Semoga dari forum ini lahir langkah-langkah nyata untuk memperkuat industri migas, menutup gap produksi, serta mewujudkan ketahanan dan swasembada energi Indonesia yang tangguh, kompetitif, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Andre.