JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan dampak terhadap sejumlah kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas). Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) per 3 September 2026, terdapat sembilan KKKS yang berada dalam status siaga hingga tanggap darurat akibat kondisi karhutla di sekitar wilayah operasional.

Dari pemetaan status karhutla seluruh wilayah hulu migas, sebanyak 67 KKKS atau 72% berada dalam kondisi aman, sementara 17 KKKS (18%) berstatus waspada, 8 KKKS (9%) berstatus siaga, dan 1 KKKS (1%) masuk status tanggap darurat.

Status paling serius terjadi di wilayah kerja BP Berau, Perwakilan Pamalu, yang masih dalam kondisi tanggap darurat. Dalam laporan SKK Migas disebutkan, kebakaran berdampak terhadap kegiatan operasi kilang LNG Tangguh. Operasi pemadaman menggunakan helikopter terus dilanjutkan terutama di Cluster 4 atau sekitar kilang LNG Tangguh.

Sementara itu, Kalrez Petroleum di Perwakilan Pamalu berada dalam status siaga. Terdapat titik api di area Bula Tenggara, namun titik api tersebut dilaporkan telah berhasil ditangani.

Di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, sejumlah KKKS juga masih berstatus siaga. Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), misalnya, menghadapi titik api di beberapa area sekitar sumur minyak Mutiara 987, meski titik api tersebut telah berhasil dipadamkan.

Kondisi serupa terjadi di Pertamina EP Zona 9 Sangatta Field. KKKS tersebut masih berada dalam status siaga menyusul keberadaan titik api sebelumnya yang telah berhasil dipadamkan.

Ancaman karhutla juga terpantau di wilayah operasi PT PHR Zona Rokan di Sumatera Bagian Utara. PHR masih mempertahankan status siaga atas titik api yang sebelumnya muncul dan telah berhasil dipadamkan.

Di Sumatera Selatan, Pertamina EP Zona 4 Limau Field melaporkan terdapat dua titik api dengan jarak sekitar 50 meter dari sumur L5a 183, namun kondisi tersebut telah berhasil ditangani.

Sementara Pertamina EP Zona 1 Jambi Field juga tetap dalam status siaga atas titik api sebelumnya yang telah berhasil dipadamkan.

Di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi, ancaman karhutla juga masih dipantau. Pertamina EP Zona 11 Cepu-ADK Field mencatat terdapat empat titik api dengan jarak sekitar 1,81–8,35 kilometer dari sejumlah fasilitas, yakni SPU Ledok, SPU Ngobo, SP 3 Semanggi, CPP Gundih, dan Office Mentul. Titik api tersebut dilaporkan telah berhasil ditangani.

Sedangkan Pertamina EP Zona 11 Sukowati Field masih berstatus siaga karena terdapat titik api berjarak sekitar 3,31 kilometer dari Sukowati Wellpad A, namun juga telah berhasil ditangani.

Papua Jadi Perhatian

Berdasarkan pemetaan SKK Migas, Perwakilan Pamalu menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus. Selain BP Berau yang sudah berstatus tanggap darurat, terdapat Kalrez Petroleum yang berstatus siaga.

Grafik SKK Migas menunjukkan wilayah Pamalu memiliki 5 KKKS dalam kondisi aman, 3 KKKS waspada, 1 KKKS siaga dan 1 KKKS tanggap darurat.

Secara keseluruhan, SKK Migas terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api di sekitar wilayah operasi KKKS. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berpotensi mengganggu kegiatan produksi migas, tetapi juga dapat mengancam keselamatan pekerja, fasilitas produksi dan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Status tersebut menunjukkan bahwa pengendalian karhutla di sekitar wilayah hulu migas masih membutuhkan respons cepat dan koordinasi lintas pihak, terutama di lokasi yang telah masuk kategori siaga dan tanggap darurat. (RI)