BALI – Dari panggung Monumen Operasi Gilimanuk, Bali, Presiden Prabowo Subianto menekan tombol dimulainya megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp, Selasa (25/8).

Di saat yang sama, 1.000 km jauhnya di Pulau Sembur, Batam, lampu untuk pertama kali menyala tanpa henti.

PLTS 1 MWp di Pulau Sembur yang dibangun Pertamina New Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi beroperasi. Warga yang dulu hanya bisa menyalakan genset 3-4 jam di malam hari, kini bisa menikmati listrik 24 jam.

Skema ini jadi percontohan nasional. Menteri ESDM Bahlil dan CEO Danantara Rosan Roeslani yang hadir di Gilimanuk, Bali bersama Presiden Prabowo, melihat langsung bagaimana 100 GWp bisa diurai jadi proyek-proyek berdampak ekonomi langsung ke desa.

Wakil Dirut Pertamina Oki Muraza menyebut ini wujud penguatan koperasi dan pertumbuhan ekonomi desa. Sementara Ditjen EBTKE ESDM menekankan kolaborasi semua stakeholder adalah kunci agar target 2029 tercapai.

“Hari ini kita menyaksikan visi kemandirian energi mulai terwujud,” kata Wakil Dirut Pertamina Oki Muraza dari lokasi Pulau Sembur.

Proyek ini bukan sekadar tiang dan panel surya. Ada BESS 1 MWh, ice maker 4 ton/hari, dan cold storage 5 ton untuk nelayan. Hasil tangkapan ikan tak lagi cepat busuk. Koperasi desa hidup.

Ditargetkan untuk 200 KK dan fasilitas umum, PLTS ini juga menghemat BBM hingga 320 ribu liter/tahun. Setara penghematan Rp3,5 – 5 miliar per tahun.

“Energi bersih harus jadi penggerak ekonomi. Ada cold storage, ada ice maker, ada aktivitas koperasi,” ujar Dirut Pertamina NRE John Anis.

Prabowo menegaskan 100 GWp adalah fondasi bangsa berdiri di atas kaki sendiri. “Dengan 100 GW, kita akan menjadi bangsa yang benar-benar mandiri,” tegasnya.

Groundbreaking Pulau Sembur dimulai Desember 2025. Kini Agustus 2026 sudah commissioning. Ini bukti, kata Dirjen EBTKE, kalau kolaborasi pusat, BUMN, daerah dan koperasi bisa mempercepat transisi energi.(RA)