JAKARTA – Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) menyelenggarakan ABII Annual Member Gathering 2026 sebagai forum strategis yang mempertemukan pemerintah, BUMN, pelaku industri, akademisi, mitra internasional, dan anggota ABII untuk mendorong kolaborasi dalam pengembangan biochar, carbon removal, serta pertanian cerdas iklim di Indonesia.
Mengusung tema “Advancing Indonesia’s Biochar Carbon Removal & Climate-Smart Agriculture”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempercepat pengembangan ekosistem biochar nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi karbon global. Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ABII dan IDSurvey.
Kerja sama ini bertujuan mengembangkan standar biochar nasional, membangun laboratorium biochar bertaraf internasional, memperkuat sistem pengujian dan pemantauan mutu, serta mengembangkan skema sertifikasi yang akan meningkatkan kredibilitas biochar Indonesia di pasar nasional maupun internasional.
Hashim Djojohadikusumo, Ketua Umum ABII menegaskan bahwa pengembangan biochar bukan hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga merupakan peluang strategis bagi Indonesia dalam membangun sektor pertanian dan ekonomi karbon.
“Biochar bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangun ekonomi karbon yang berdaya saing global. Kolaborasi adalah kunci agar potensi ini dapat diwujudkan secara nyata,” ujarnya di Jakarta, Kamis malam (20/8).
Hashim mengungkapkan, permintaan terhadap biochar sangat tinggi saat ini. Namun, hanya sedikit negara yang benar-benar bisa memasoknya.
“Kita tidak memiliki banyak pasokan, tapi semua orang ingin membeli biochar kita. Bahkan konsumen Jepang dan perusahaan Jepang ingin membeli biochar kita. Arab Saudi juga menginginkan biochar kita, mereka ingin menanam miliaran pohon di gurun dan iklim yang sangat kering, sehingga mereka membutuhkan retensi kelembapan yang dapat diberikan oleh biochar kita,” jelas Hashim.
Kerja sama antara ABII dengan IDSurvey menjadi sangat penting. Sebab, jika suatu produksi biochar bisa memenuhi suatu standar terutama IDSurvey, maka suatu produk bisa dikenal sebagai produk berkualitas baik dan terpercaya.
“Kita harus memproduksi, dan harus memproduksi dengan kualitas yang tepat. Mari kita jaga kualitasnya. Itulah mengapa saya rasa produk dari Indonesia dikenal sebagai produk berkualitas baik,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ABII mencatat perkembangan yang signifikan terhadap ekosistem biochar Indonesia. Dari yang sebelumnya masih berada pada tahap riset dan proyek percontohan, biochar kini telah berkembang menjadi sebuah ekosistem yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan pengguna, serta mulai membangun keterhubungan antara pasar biochar fisik dengan pasar karbon.
Jumlah fasilitas produksi biochar juga terus meningkat dan telah berkembang ke sedikitnya enam provinsi baru, menunjukkan bahwa industri ini mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang.
Phil Rickard, Executive Director ABII, menyampaikan bahwa perkembangan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang selama ini bersama-sama membangun fondasi industri biochar Indonesia.
Dia menuturkan dalam beberapa tahun terakhir, ABII telah menyaksikan biochar berkembang dari sebuah teknologi menjadi sebuah industri, dan kini menuju sebuah ekosistem. “Melalui kolaborasi dengan pemerintah, BUMN, mitra internasional, dan seluruh anggota ABII, kami percaya Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemimpin biochar dan carbon removal di tingkat global,” kata Phil.
Selain memperkuat industri biochar, ABII juga terus mendorong penerapan biochar pada sektor pertanian melalui kerja sama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam pengembangan Climate-Smart Agriculture, termasuk integrasi biochar dengan praktik Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi emisi metana.
ABII aktif mendukung penyusunan roadmap biochar nasional, pemetaan industri, pengembangan metodologi proyek, serta implementasi Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai bagian dari penguatan tata kelola karbon Indonesia.
Phil menegaskan, kolaborasi bersama IDSurvey menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur mutu biochar Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.
Arisudono Soerono, Direktur Utama IDSurvey, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas dan kepercayaan terhadap biochar Indonesia.
“IDSurvey menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah penting untuk memperkuat infrastruktur mutu biochar Indonesia. Pengembangan laboratorium dan standar nasional yang kredibel akan meningkatkan kepercayaan pasar serta mendukung daya saing biochar Indonesia di tingkat internasional,” jelas Arisudono.
Dia menerangkan, perkembangan industri biochar tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi. Industri ini juga memerlukan konsistensi kualitas, metode pengujian yang dapat diperbandingkan, serta standar yang memperoleh kepercayaan dari pasar global.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, asosiasi, serta lembaga yang mampu memberikan pemastian terhadap kualitas, kepatuhan terhadap standar, dan keberlanjutan produk.
“Ke depan, perkembangan kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan pasar karbon akan semakin memperkuat hubungan antara agenda lingkungan dan kegiatan ekonomi,” kata dia.
Arisudono menegaskan, sebagai Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pemastian atau Testing, Inspection, and Certification (TIC) + Classification & Statutory, IDSurvey Group yang beranggotakan Biro Klasifikasi Indonesia, SUCOFINDO, dan Surveyor Indonesia, memiliki kapabilitas untuk mendukung ekosistem biocharm
Dukungan awal IDSurvey difokuskan pada pengembangan kapabilitas dan fasilitas laboratorium, penguatan metode pengujian dan standardisasi, konsultansi dan lembaga validasi verifikasi proyek karbon, serta pengembangan skema sertifikasi dan kompetensi teknis.
“Bersama ABII, IDSurvey berkomitmen mempersiapkan kapabilitas laboratorium dan skema sertifikasi untuk memperoleh endorsement dari World Biochar Certification (WBC),” ujarnya.
Menurutnya, endorsement WBC tersebut diharapkan dapat memperkuat kredibilitas hasil pengujian, memberikan keyakinan atas kualitas biochar dalam setiap transaksi terurama kepercayaan pasar global, serta mendukung terbentuknya ekosistem trade atau perdagangan biochar yang lebih terjamin.
“Pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir, tetapi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing industri biochar nasional,” ungkap Arisudono.




Komentar Terbaru