JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong kolaborasi antara perusahaan migas nasional dengan perusahaan migas multinasional untuk mengoptimalkan potensi produksi minyak dan gas bumi di Indonesia.
Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM menilai perusahaan migas global memiliki kapasitas teknologi dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan potensi migas nasional, termasuk melalui pemanfaatan teknologi komputasi dalam pengolahan data eksplorasi.
Ia mencontohkan ExxonMobil yang secara global mampu memproduksikan sekitar 4,8 juta barel minyak per hari. Perusahaan tersebut juga disebut memiliki rencana peningkatan produksi hingga sekitar 5,6 juta barel per hari pada 2029-2030.
Menurut dia, perusahaan migas global juga memiliki infrastruktur dan teknologi yang dapat mendukung kegiatan eksplorasi secara lebih cepat dan efisien. Salah satunya adalah penggunaan superkomputer untuk mengolah data dalam jumlah sangat besar.
“Ini sudah tidak manual lagi. Mereka memiliki superkomputer untuk mengolah data-data,” kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (2/10).
Lebih lanjut Yuliot menuturkan, kemampuan komputasi tersebut memungkinkan pengolahan data eksplorasi dalam waktu yang jauh lebih singkat. Ia mencontohkan kapasitas pengolahan data hingga 40 terabyte dalam satu detik.
“Ini membuka kesempatan juga kalau ada wilayah kerja yang kita miliki yang siap kita tawarkan, bagaimana analisa datanya, kemudian bagaimana pembacaan di superkomputer,” katanya.
Ia menggambarkan, apabila data eksplorasi suatu wilayah kerja mencapai sekitar 200 terabyte, dengan kapasitas pengolahan tersebut data dapat diproses dalam hitungan detik.
“Kalau satu wilayah kerja dari hasil eksplorasi datanya sekitar 200 terabyte, berarti paling tidak sekitar lima detik. Paling lama satu menit, data-data sudah bisa keluar,” ujar Yuliot.
Menurut Yuliot, pemanfaatan teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produksi migas nasional. Pemerintah sebelumnya menargetkan peningkatan produksi minyak hingga mencapai 1 juta barel per hari pada 2030.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara perusahaan migas multinasional dengan perusahaan nasional, termasuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam negeri seperti PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
“Yang kita lihat, kolaborasi antara perusahaan-perusahaan multinasional dan juga di dalam negeri ada perusahaan KKKS dalam negeri seperti Pertamina Hulu Energi. Kita akan dorong bagaimana kolaborasi di antara mereka,” katanya.
Yuliot mengatakan, pemanfaatan teknologi dan pengalaman perusahaan global dapat membantu mengoptimalkan potensi wilayah kerja migas yang tersedia di Indonesia.
“Potensi apa yang kita miliki dengan rencana peningkatan produksi sampai dengan tahun 2030 satu juta barel itu, bukannya tidak bisa kita capai. Berarti ini kita memanfaatkannya,” ujarnya. (RI)





Komentar Terbaru