INDRAMAYU – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menegaskan bahwa transformasi dan streamlining di lingkungan Pertamina Subholding Upstream harus menjadi momentum untuk memperkuat kapabilitas strategis Pertamina, termasuk kemampuan pengeboran nasional.
Dalam konteks tersebut, PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dinilai memiliki modal, kompetensi, pengalaman, sumber daya manusia, teknologi, serta skala operasi yang kuat untuk dikembangkan sebagai National Drilling Champion Indonesia.
Penguatan kapabilitas pengeboran tersebut merupakan bagian penting dalam mendukung peningkatan produksi migas, penemuan cadangan baru, keberlanjutan operasi hulu, sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Energi HUT ke-16 Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) yang diselenggarakan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) PDSI, Mundu, Indramayu, Jawa Barat.
Forum tersebut dihadiri Presiden FSPPB Arie Gumilar, aktivis energi Ugan Gandar, pengamat energi nasional. Ketua Umum SP PDSL, serta perwakilan Serikat Pekerja konstituen FSPPB untuk membahas masa depan bisnis pengeboran, transformasi Pertamina Subholding Upstream, ketahanan energi, serta posisi strategis PDSI dalam ekosistem hulu migas nasional.

Presiden FSPPB Arie Gumilar menegaskan bahwa FSPPB mendukung setiap langkah transformasi Pertamina sepanjang dilakukan berdasarkan rasionalitas bisnis serta diarahkan untuk membuat Pertamina semakin kuat, efisien, produktif, terintegrasi, dan memiliki daya saing yang semakin tinggi.
“Streamlining tidak boleh berhenti pada pengurangan struktur atau peleburan entitas. Ukurannya adalah apakah transformasi tersebut menghasilkan Pertamina yang lebih kuat, lebih efisien, lebih produktif, lebih andal, serta mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan, negara, dan rakyat Indonesia,” ujar Arie.
Menurut FSPPB, pengeboran merupakan salah satu kapabilitas paling strategis dalam mata rantai bisnis hulu migas.
Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya migas yang dimiliki Indonesia. Sumber daya tersebut harus dapat ditemukan, dibuktikan, dikembangkan, dibor, diproduksikan, dan dijaga keberlanjutannya melalui kemampuan teknologi serta sumber daya manusia yang memada
Karena itu, kemampuan pengeboran harus dipandang sebagai strategic capability, bukan sema mata fungsi penunjang atau komponen biaya dalam kegiatan hulu migas.
Menjaga Intellectual Capital Pengeboran Nasional
FSPPB menilai salah satu aset terpenting yang dimiliki PDSI bukan hanya rig dan peralatan pengeboran, tetapi juga intellectual capital yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun.
Kapabilitas tersebut meliputi pengalaman operasional, engineering, budaya HSSE, penguasaan teknologi pengeboran, project management, pemahaman karakteristik berbagai lapangan migas, hingga akumulasi lessons learned dari berbagai operasi pengeboran di Indonesia.
Pengetahuan tersebut dibangun melalui perjalanan panjang dan diwariskan dari satu generasi insan drilling kepada generasi berikutnya.
“Yang harus kita jaga bukan hanya rig atau aset fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah ekosistem pengetahuan dan kompetensi yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun. Engineering capability, pengalaman operasi, teknologi, HSSE culture, dan insan drilling adalah strategic intellectual capital bangsa,” tegas Arie.
Keberadaan Indonesia Drilling Training Center (IDTC) menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan kapabilitas tersebut.
Melalui pelatihan, asesmen, sertifikasi, serta pengembangan kompetensi yang terstruktur, IDTC memiliki posisi strategis dalam memastikan regenerasi dan kesiapan insan pengeboran untuk mendukung operasi yang aman, andal, efisien, serta semakin kompleks di masa depan.
Skala Operasi Menjadi Kekuatan Strategis
Selain kompetensi sumber daya manusia, PDSI memiliki kekuatan dalam skala operasinya.
Dengan armada 58 unit rig. PDSI memiliki kapasitas untuk mendukung operasi pengeboran baik onshore maupun offshore di berbagai wilayah operasi.
Skala tersebut memberikan peluang untuk menciptakan economies of scale, meningkatkan utilisasi aset, memperkuat standardisasi operasi dan HSSE, meningkatkan efisiensi biaya, mempercepat mobilisasi, serta mengintegrasikan penerapan teknologi dan digitalisasi.
Dalam perspektif FSPPB, konsolidasi kapabilitas pengeboran ke dalam satu entitas yang memiliki fokus, kompetensi, skala, dan pengalaman justru dapat menjadi instrumen penting dalam mencapai tujuan streamlining Pertamina.
“Efisiensi bukan berarti menghilangkan capability. Efisiensi adalah bagaimana capability yang kita miliki dikonsolidasikan, dioptimalkan, dan dibuat semakin produktif. Dengan skala yang kuat, PDSI mempunyai ruang besar untuk menjadi center of excellence pengeboran Pertamina sekaligus Indonesia,” ujar Arie.
FSPPB memandang konsep National Drilling Champion bukan semata-mata mengenai besarnya perusahaan atau banyaknya aset yang dikelola.
National Drilling Champion adalah kemampuan nasional yang mampu menyediakan solusi pengeboran yang: aman, andal, efisien, kompetitif, technologically advanced, adaptif, terintegrasi, dan mampu beroperasi pada berbagai tingkat kompleksitas lapangan.
PDSI juga diharapkan terus memperkuat kemampuan one stop drilling solution, integrated project management, associated drilling services, teknologi pengeboran, digital drilling, serta kemampuan menangani operasi di wilayah yang semakin kompleks.
Dalam jangka panjang, kapabilitas tersebut tidak hanya harus mampu memenuhi kebutuhan Pertamina Group dan industri migas Indonesia, tetapi juga memiliki daya saing untuk berkembang di pasar internasional.
“National Drilling Champion bukan tentang membesarkan satu perusahaan untuk kepentingan perusahaan itu sendiri. Ini adalah tentang membangun dan menjaga strategic national capability,” kata Arie
“Negara yang ingin memiliki ketahanan energi harus memiliki kemampuan menemukan cadangan, mengebor, mengembangkan lapangan, dan menjaga produksinya. Semakin kuat kemampuan drilling Pertamina, semakin kuat pula kemampuan Indonesia menjaga keberlanjutan produksi migas dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain,” lanjutnya.
FSPPB menegaskan dukungannya terhadap transformasi Pertamina dan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses streamlining Subholding Upstream.
Namun setiap desain transformasi harus didasarkan pada kajian bisnis yang objektif, transparan, terukur, serta mempertimbangkan operational excellence dan kepentingan jangka panjang Pertamina.
Transformasi juga harus memastikan tidak terjadi hilangnya kompetensi, fragmentasi knowledge, penurunan operational capability, maupun melemahnya kemampuan strategis yang selama ini telah dibangun.
“Kami mendukung perubahan yang membuat Pertamina semakin baik. Tetapi transformasi harus memperkuat capability, bukan justru menghilangkannya. Kompetensi yang sudah dibangun puluhan tahun harus menjadi fondasi untuk membawa Pertamina naik kelas,” tegas Arie.
Menurut FSPPB, penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion juga sejalan denga tantangan hulu migas Indonesia ke depan.
Upaya meningkatkan produksi nasional akan membutuhkan aktivitas eksplorasi dan pengeboran yang semakin agresif, termasuk pengembangan lapangan mature, eksplorasi new frontier, deepwater, unconventional resources, serta wilayah dengan tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.
Karena itu, Indonesia membutuhkan perusahaan pengeboran nasional yang memiliki technology ownership, operational excellence, skilled workforce, financial strength, serta kemampuan project execution kelas dunia.
“Visinya harus lebih jauh. PDSI jangan hanya menjadi drilling company Pertamina. Kita harus membangun PDSI menjadi National Drilling Champion Indonesia yang suatu saat berdiri sejajar dengan perusahaan drilling kelas dunia,” pungkas Arie.
FSPPB meyakini penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperkuat Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang terintegrasi, meningkatkan produksi migas, menjaga ketahanan energi, sekaligus memastikan bahwa kemampuan strategis pengelolaan energi tetap dimiliki dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia.(RA)




Komentar Terbaru