JAKARTA – Energy Development Corp. (EDC) menyatakan tidak sedang melakukan pembahasan mengenai proposal senilai US$5 miliar dari perusahaan Indonesia, PT Barito Renewables Energy (BREN), untuk mengakuisisi produsen panas bumi tersebut, meskipun tawaran yang datang tanpa permintaan awal itu tidak serta-merta ditolak, ujar seorang eksekutif EDC.

“Tentu saja, jika ada perusahaan yang mengajukan penawaran, Anda tidak akan langsung menolaknya begitu saja. Untuk saat ini, tidak ada pembahasan apa pun,” kata Presiden dan Chief Operating Officer EDC, Jerome H. Cainglet, dikutip bussinessworld (31/7).

Pernyataan Cainglet muncul setelah First Gen Corp.—perusahaan yang dipimpin oleh grup Lopez—mengungkapkan bahwa BREN telah mengajukan penawaran senilai US$5 miliar yang bersifat tidak mengikat dan tanpa permintaan awal untuk mengakuisisi EDC, anak perusahaan mereka yang bergerak di bidang energi terbarukan. BREN merupakan unit bisnis energi terbarukan dari konglomerat Indonesia Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk. Perusahaan ini memegang saham mayoritas di Star Energy Geothermal, produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia.

Cainglet mengatakan bahwa EDC tidak memiliki kewajiban untuk menanggapi tawaran tersebut karena proposal itu diajukan tanpa permintaan sebelumnya. EDC adalah produsen energi panas bumi terbesar di Filipina, yang menyumbang sekitar seperlima dari kapasitas terpasang energi terbarukan negara tersebut dengan total lebih dari 1.400 megawatt (MW) yang berasal dari aset panas bumi, angin, tenaga air (hidro), dan tenaga surya.

Filipina memiliki kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.952 MW, menjadikannya produsen listrik panas bumi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Indonesia. Cainglet menyatakan bahwa proposal tersebut tidak akan memengaruhi produksi panas bumi negara itu karena aset pembangkit listrik EDC akan tetap menjadi bagian dari sistem kelistrikan nasional, terlepas dari siapa pemiliknya.

Saat dikonfirmasi mengenai Manila Electric Co. (Meralco) yang juga mengincar EDC, Chairman dan Chief Executive Officer Manuel V. Pangilinan mengatakan bahwa perusahaan energi terbarukan tersebut akan melengkapi portofolio energi bersih Meralco yang terus berkembang.

“Ini adalah energi terbarukan, jadi mungkin akan menjadi tambahan yang bagus bagi portofolio energi terbarukan MGEN (Meralco PowerGen Corp.),” ujar Pangilinan.

MGEN, unit bisnis pembangkit listrik milik Meralco, mengelola portofolio sebesar 5.068 MW di Filipina dan Singapura, yang mencakup aset pembangkit listrik termal, gas alam, tenaga surya, serta sistem penyimpanan energi baterai.

Namun, Pangilinan mengatakan bahwa Meralco belum melakukan pembicaraan apa pun dengan grup Lopez. “Kita akan menghadapinya saat tiba waktunya nanti,” ujar Pangilinan.(RA)