JAKARTA – Transformasi Indonesia sebagai salah satu pusat produksi bahan baku baterai kendaraan listrik tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya cadangan nikel, tetapi juga oleh kemampuan industri menerapkan prinsip keberlanjutan. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia semakin diarahkan melalui penguatan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari kegiatan pertambangan nikel, pengolahan dan pemurnian, produksi bahan baku baterai, manufaktur sel baterai, hingga perakitan kendaraan listrik, seluruh mata rantai industri terus diperkuat guna menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat industri EV dunia.
Optimisme tersebut bukan tanpa modal, sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia Indonesia punya posisi paling strategis. Untuk itu insiatif untuk mengembangkan ekosistem EV patut untuk terus didorong. Untungnya aktor utama dalam mengejar cita-cita adalah MIND ID Group.
Dengan penguasaan lebih dari 40% cadangan nikel dunia, Indonesia memiliki kapasitas untuk mendukung kebutuhan industri baterai dalam jangka panjang. Hal ini memberikan keyakinan bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi pemasok utama dalam rantai pasok global. Pekerjaan berikutnya yang harus disiapkan adalah pengolahannya, karena ketersediaan cadangan saja tidaklah cukup. Nilai strategis dari nikel sangat bergantung pada kemampuan untuk mengolahnya menjadi material dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan industri baterai.
Jangan lupakan juga ketersediaan cadangan Tembaga, Mangan, dan Alumunium yang jadi bahan baku dalam pembuatan baterai EV.
MIND ID menjadi penggerak utama pengembangan ekosistem nikel untuk industri EV di Indonesia. Pengembangan dilakukan melalui sejumlah anak usaha dan perusahaan patungan sehingga mencakup rantai pasok dari tambang hingga baterai.
Maroef Sjamsoeddin, Direktur Utama MIND ID mengungkapkan sebagai perusahaan pertambangan terintegrasi, manajemen menterjemahkannya secara konsisten melalui agenda hilirisasi yang telah berjalan dan terus diperkuat di seluruh grup MIND ID. Komitmen tersebut akan terus diwujudkan dalam proyek-proyek pengolahan mineral dan pemurnian logam, serta penguatan ketahanan energi.
Dia menegaskan melalui integrasi hulu hingga hilir, MIND ID memastikan bahwa mineral strategis menciptakan nilai tambah dan kontribusi langsung bagi negara.
“Salah satu fokus utama saat ini adalah pengembangan ekosistem industri EV battery, yang mencakup penambangan bijih nikel sebagai mineral strategis, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian pengembangan material baterai di Halmahera Timur, dan pembangunan pabrik baterai sel dan baterai pack di Karawang,” kata Maroef di komplek parlemen beberapa waktu lalu.
Beberapa entitas MIND ID yang terlibat dalam integrasi dari hulu ke hilir yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM yang mengelola sumber daya nikel di beberapa wilayah seperti di Pomalaa dan Konawe Utara Sulawesi Tenggara, Tanjung Buli Maluku Utara, dan Pulau Gag di Papua Barat Daya. Produksi bijih nikel ANTM mencapai 16,11 juta wet metric ton (wmt) pada 2025 atau naik 62% dari tahun sebelumnya. Volume penjualan pun berada di rekor tertinggi untuk lebih dari satu dekade, mencapai 14,58 juta wmt.
Selanjutnya ada PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Perusahaan yang baru saja diakuisisi MIND ID beberapa tahun lalu ini merupakan salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Tidak hanya memproduksi tapi Vale kini juga menggarap tiga proyek besar yang jadi fondasi utama dalam pengembangan ekosistem nikel untuk EV.
Pertama adalah proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa,lalu IGP Bahodopi, dan IGP Sorowako Limonite. PT Vale akan membangun fasilitas pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, tiga proyek tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 240.000 ton MHP per tahun, menjadikan Vale sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan industri bahan baku baterai di Indonesia. Proyek terbesar berada di IGP Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan kapasitas produksi 120.000 ton MHP per tahun dan didukung tambang dengan kapasitas sekitar 28 juta ton bijih limonit dan saprolit per tahun. Proyek tersebut dikembangkan bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Company sebagai bagian dari upaya membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik yang terintegrasi.
Selanjutnya IGP Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun. Fasilitas ini akan memperoleh pasokan dari tambang dengan kapasitas sekitar 16 juta ton bijih limonit dan saprolit per tahun. Proyek ini dikembangkan melalui kemitraan strategis dengan GEM Co., Ltd.
Adapun IGP Sorowako Limonite di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, juga ditargetkan menghasilkan 60.000 ton MHP per tahun. Berbeda dengan dua proyek lainnya, fasilitas ini memanfaatkan sekitar 11,5 juta ton bijih limonit per tahun yang berasal dari lapisan overburden di wilayah operasi Sorowako. Pengembangan proyek ini sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral yang sebelumnya belum dimanfaatkan dalam proses produksi nikel matte.
Tidak hanya sampai di pengolahan dan produksi bahan baku. MIND ID tidak mau setengah-setengah mendorong ekosistem EV yang ditunjukkan dengan terlibat langsung dalam perakitan baterai EV melalui PT Aneka Tambang Tbk bersama Indonesia Battery Corporation dan perusahaan joint venture CATL, Brunp, dan Lygend (Konsorsium ANTAM-IBC-CBL) yang membentuk Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB). Proyek ini akan memiliki kapasitas produksi baterai kendaraan listrik sebesar 6,9 Giga Watt Hour (GWh) yang kemudian akan ditingkatkan menjadi 15 GWh. Hal ini akan mengokohkan posisi Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara.
“15 GWh ini sama dengan kalau kita konversi ke baterai mobil, itu kurang lebih sekitar 250 ribu sampai 300 ribu mobil,” ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Ekosistem ini mulai dari pertambangan nikel di Halmahera Timur hingga produksi baterai kendaraan listrik di Karawang. Berdasarkan data Kementerian ESDM, pembanguna ekosistem baterai EV dimulai di kawasan industri energi baru Feni Haltim (FHT) Halmahera Timur mencakup lima subproyek utama, yaitu pertambangan nikel senilai US$500 juta dengan kapasitas 10 juta ton per tahun. RKEF (Rotary Klin Electric Furnace) senilai US$1,4miliar dengan kapasitas 88 ribu tonFeNi per tahun. HPAL (High Pressure Acid Leach) senilai US$ 1,9 miliar dengan kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun.
Dari sisi midstream IBC bersama mitranya mambangun pabrik yang memproduksi material baterai Katoda precursor dan Cathode Active Material (CAM) senilai US$600 juta dengan kapasitas per tahun sebesar 16 ribu ton Ni Nikel Sulfat, 30 ribu ton Ni Prekursor, dan 30 ribu ton Ni Material Aktif Katoda. Serta fasilitas daur ulang baterai senilai US$200 juta dengan kapasitas 20 ribu ton per tahun. Fasilitas tersebut ditargetkan rampung pada 2028.
Sementara untuk pabrik di Karawang, Provinsi Jawa Barat, yakni Proyek Sel Baterai sekitar US$1,2 miliar atau setara Rp19,2 triliun dengan kapasitas 15 GWh.
Secara keseluruhan, proyek ini mencakup rencana investasi hingga hampir US$6 miliar dengan potensi penciptaan 35 ribu lapangan kerja secara langsung dan tidak langsung, serta berkontribusi US$42 miliar kepada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setiap tahunnya.
Ini menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem EV tidak hanya mempersiapkan masa depan peradaban Indonesia tapi juga menopang perekonomian Indonesia.
Pabrik baterai yang dibangun oleh CATIB tersebut saat ini sudah memasuki tahap akhir dan rencananya bakal mulai beroperasi pada akhir Juli 2026. Pada tahap awal pabrik baterai listrik ini memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 6,9 GWh yang terdiri dari baterai nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Tahap kedua akan dibangun 8,1 GWh dengan tujuan ekspor.
Indonesia sebenarnya bukan pemain tunggal dalam membentuk ekosistem kendaraan masa depan. Negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam bahkan India juga sudah memulai. Tapi satu hal keunggulan indonesia lainnya yang sulit disaingi oleh negara lain adalah ketersediaan cadangan mineral sebagai bahan baku. Selain itu ada satu bahan baku lain yang melimpah yakni batu bara. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang juga anggota MIND ID, tengah mengembangkan hilirisasi batu bara menjadi artificial graphite, yakni material yang berfungsi sebagai anoda dalam baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC). Terlebih, graphite adalah komponen terbesar dalam baterai EV berdasarkan bobot material, melampaui nikel, mangan, maupun kobalt. Satu unit kendaraan listrik membutuhkan 40 hingga 80 kilogram graphite, yang mewakili 20–30% dari total berat material baterai. Asal tahu saja hanya beberapa negara sekarang yang mampu memasok dan memenuhi kebutuhan graphite global, ini menimbulkan risiko geopolitik bagi keberlanjutan industri EV global. Dengan fasilitas artificial graphite ini, Indonesia bakal memiliki posisi tawar yang semakin kuat di dunia.
Manfaatkan Momentum
Pasar kendaraan listrik Indonesia merupakan salah satu pasar paling prospektif di kawasan Asia Tenggara karena alami pertumbuhan pesat. Penjualan EV roda empat melonjak dari 272 unit pada 2021 menjadi 114.413 unit pada 2025, sementara penjualan EV roda dua mencapai 77.078 unit pada 2024. Namun, dari sekitar 104 ribu EV roda empat yang terjual pada 2025, hanya sekitar 30% yang dirakit di dalam negeri (CKD), sedangkan sisanya masih diimpor dalam bentuk CBU. Jadi masih sedikit perakitan dilakuakn di dalam negeri. Selain itu, baterai berbasis NMC baru menguasai 4% pasar, sementara LFP mendominasi hingga 96%. Ini jadi peluang besar bagi Indonesia untuk membangun industri baterai dan kendaraan listrik yang terintegrasi, memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral dan batu bara, sekaligus memenuhi pasar domestik dan memperluas ekspor ke kawasan.

Tren penjualan kendaraan listrik dalam lima tahun terakhir di Indonesia (Sumber : MIND ID)
Dalam industri baterai EV dunia ada dua kimia katoda yang digunakan yakni Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Pada baterai NMC, katoda tersusun dari kombinasi nikel, mangan, dan kobalt yang terikat dalam struktur oksida litium. Rasio ketiga elemen ini menentukan varian NMC, yang saat ini terdiri dari dua varian yakni NMC 622 dan NMC 955.
NMC 622 paling banyak digunakan dengan komposisi 50% nikel, 22,5% mangan, 22,5% kobalt, dan 5% litium. Varian ini menawarkan keseimbangan yang telah terbukti antara densitas energi, stabilitas termal, dan umur siklus. Sementara untuk NMC 955 adalah generasi lanjut dengan kadar nikel yang jauh lebih tinggi. Jika dilihat dari keseluruhan komposisi baterai berdasarkan bobot (%wt), nikel dan karbon masing-masing menyumbang 25%, diikuti besi 12%, aluminium 18%, tembaga 12%, kobalt 3%, mangan 3%, dan litium 3%. Peningkatan kadar nikel pada NMC 955 secara langsung mendongkrak densitas energi yang mencapai 150–260 Wh/kg.
Sebaliknya, katoda LFP sama sekali tidak mengandung nikel, kobalt, atau mangan. Komposisinya adalah litium 5%, besi 47,5%, dan fosfat 47,5%. Indonesia sendiri perlu impor litium dan fosfat jika mau mendorong LFP. Inilah yang menjelaskan mengapa LFP secara struktural lebih murah tetapi tidak memberi Indonesia leverage material yang sama.
Dari sisi biaya, katoda menyumbang sekitar 40% dari total biaya produksi baterai, menjadikannya komponen paling mahal. Karena itu, efisiensi produksi katoda sangat menentukan daya saing industri baterai. Saat ini, harga baterai NMC sekitar US$62/kWh, lebih tinggi dibandingkan LFP sebesar US$40/kWh, terutama akibat penggunaan nikel berkadar tinggi dan kobalt. Meski lebih mahal, NMC memiliki densitas energi lebih tinggi sehingga lebih kompetitif untuk kendaraan listrik berperforma tinggi.
Sudaryanto, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Material Energi BRIN, menyampaikan bahwa kunci pengembangan kendaraan listrik terletak pada baterai. Ia menekankan perlunya baterai berkapasitas besar, waktu pengisian singkat, dan usia pakai lebih panjang untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat serta mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
“Bahan baku baterai seperti litium, nikel, mangan, dan kobalt merupakan material kritis yang perlu dikelola secara efisien. Karena itu, diperlukan riset untuk mengembangkan material alternatif, meningkatkan efisiensi bahan baku, serta menerapkan ekonomi sirkular agar rantai pasok baterai tetap berkelanjutan,” ungkap Sudaryanto belum lama ini di Jakarta.
Upaya menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kemampuan seluruh rantai industri menerapkan praktik produksi yang bertanggung jawab sehingga mampu menjawab tuntutan pasar global. MIND ID tidak hanya berperan sebagai motor, tapi sebagai orkestrator yang memastikan potensi bahan baku baterai EV bisa termonetisasi dengan maksimal dan bertanggung jawab. (RI)


Komentar Terbaru