JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) mencatat sejarah baru dalam pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia. Pada 8 Juli 2026, perusahaan resmi melakukan first injection bahan kimia berupa polimer (Chemical-Enhanced Oil Recovery/C-EOR) di Lapangan Rama, yang berada di perairan Tenggara Sumatra dan perairan utara Jakarta.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menyatakan bahwa injeksi polimer tersebut merupakan penerapan teknologi C-EOR pertama yang dilakukan pada lapangan migas lepas pantai di Indonesia.

“PT PHE OSES Melakukan First Injeksi Bahan Kimia berupa Polimer yang merupakan salah satu teknology C-EOR dan menjadi yang pertama kali di lakukan di offshore pada Lapangan RAMA yang terletak di perairan tenggara sumatera dan perairan jakarta utara,” ujar Djoko dalam keterangannya, Rabu (9/7).

Djoko menjelaskan, penerapan Chemical-EOR sebelumnya telah dilakukan melalui berbagai pilot project di lapangan darat, antara lain di Lapangan Tanjung, Kalimantan, lapangan minyak Medco di Sumatra, Petrogas di Papua, serta uji coba C-EOR di Lapangan Minas milik PHR menggunakan bahan kimia alkali, surfaktan, dan polimer.

Lapangan Rama mulai berproduksi sejak 1975 dengan puncak produksi mencapai sekitar 60.000 barel minyak per hari (BOPD). Seiring berjalannya waktu, produksi terus mengalami penurunan hingga dilakukan program secondary recovery melalui injeksi air untuk mendorong minyak menuju sumur produksi, yang kemudian diangkat ke permukaan menggunakan Electrical Submersible Pump (ESP). Melalui metode tersebut, produksi sempat bertahan di kisaran 12.600 BOPD.

Namun, saat ini produksi Lapangan Rama kembali turun menjadi sekitar 3.500 BOPD sehingga diperlukan penerapan tertiary recovery melalui teknologi Chemical-EOR menggunakan polimer.

“Program ini harus dilakukan oleh PHE Oses sebagai pelaksanaan KKP (komitmen kerja pasti) yang telah dituangkan dalam Kepmen dan KBH antara SKK & PHE Oses,” kata Djoko.

Ia menjelaskan, teknologi C-EOR dipilih karena relatif tidak membutuhkan tambahan ruang yang besar pada fasilitas platform eksisting. Polimer cukup ditempatkan dalam kontainer sebelum diinjeksikan ke dalam reservoir.

Selain itu, dari sisi potensi cadangan, Lapangan Rama masih memiliki peluang peningkatan produksi yang signifikan. Selama sekitar 50 tahun berproduksi, recovery factor (RF) lapangan tersebut baru mencapai sekitar 38 persen, sehingga masih terdapat sekitar 62 persen minyak yang tersisa di dalam re

“Berdasarkan hasil pilot, C-EOR ini dpt meningkatkan RF sebesar 8.63% atau diharapkan produksi meningkat dari 3500 bopd menjadi +/- 10.000 BOPD,” ujar Djoko.