JAKARTA – Babak baru penggunaan bahan Bakar nabati di Indonesia akhirnya dimulai. Pemerintah pada Rabu (9/7) meluncurkan BBM Biosolar B50 atau campuran biodiesel sebanyak 50% dengan solar.
Program ini secara resmi akan diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto di rest area KM 57, Karawang, Jawa Barat.
Implementasi mandatori biodiesel menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak 2021. Realisasi pemanfaatan biodiesel tercatat sebesar 9,3 juta kiloliter (kl) pada 2021 (B30), meningkat menjadi 10,4 juta kiloliter pada 2022, kemudian mencapai 12,3 juta kl pada 2023 dan 13,2 juta kl pada 2024 melalui penerapan B35.
Pada 2025, pemerintah menerapkan mandatori B40 dengan realisasi pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan domestik hingga Desember 2025 mencapai 14,2 juta kl. Capaian tersebut setara dengan 105,2 persen dari target sebesar 13,5 juta kl, serta berkontribusi pada penurunan impor solar sekitar 3,3 juta kl. Selain berhasil memotong volume impor solar fosil secara signifikan, menghemat devisa negara sebesar Rp130,21 triliun, dan memangkas emisi karbon hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.
Pemerintah menegaskan dengan makin bertambahnya penggunaan biodiesel, maka impor minyak mentah untuk produksi solar bisa dikurangi, bahkan untuk impor produk solar bisa distop.
Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM menyatakan bahwa peningkatan mandatori biodiesel yang didukung oleh penguatan kapasitas kilang, termasuk RDMP Balikpapan, telah membawa Indonesia pada kondisi surplus pasokan solar. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menargetkan penghentian impor solar pada 2026.
“Dengan produksi sekarang di Pertamina yang RDMP di Balikpapan, akumulasi konsumsi B40 totalnya sekarang kita surplus kurang lebih sekitar 1,4 juta kiloliter,” ujar Bahlil.


Komentar Terbaru