JAKARTA — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengungkap dominasi pelaku usaha muda dalam pengembangan ekosistem bioenergi nasional. Dari total 180 kontrak aktif pengadaan biomassa yang telah dijalankan perusahaan, sekitar 60 persen pelakunya berasal dari kalangan milenial dan Generasi Z.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengatakan, keterlibatan anak muda tumbuh seiring masifnya pengembangan rantai pasok biomassa untuk kebutuhan cofiring PLTU. Hal ini disampaikan Hokkop dalam Seminar Series Dies Natalis ke-28 Institut Teknologi PLN (ITPLN).
“Dari 180 perusahaan itu, 60 persennya milenial dan Gen Z. Mereka bikin pelet, kumpulin cangkang, bahkan ada yang ekspor,” ujar Hokkop dalam keterangannya, Kamis(28/5/2026).
Menurut dia, selama tiga tahun terakhir PLN EPI telah menggelontorkan pengadaan biomassa hingga 2,5 juta ton melalui 180 kontrak aktif. Jumlah itu dinilai sangat besar karena setara pasokan satu kontrak batu bara skala besar.
“Kalau batu bara, 2,5 juta ton itu biasanya cukup satu kontrak saja. Tapi biomassa ini melibatkan 180 perusahaan. Artinya ekonomi rakyat bergerak,” katanya.
Hokkop menyebut model bisnis biomassa kini berkembang menyerupai ekosistem startup. PLN EPI membangun konsep rantai pasok berbasis main hub dan subhub yang mengintegrasikan pengumpulan limbah, pengolahan, pengeringan, hingga pengujian kualitas sebelum dikirim ke pembangkit listrik.
Selain itu, PLN EPI juga mulai mengembangkan platform digital biomassa berbasis marketplace di Adipala, Cilacap. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat menjual limbah kayu atau biomassa langsung melalui ponsel.
“Nanti tinggal foto kayunya, sistem akan estimasi jenis, kadar kalori, jarak, sampai harga dengan AI. Setelah itu bisa langsung dijual dan diambil,” kata Hokkop.
Ia mengatakan, pengembangan bioenergi tak hanya berdampak pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di daerah. PLN EPI bahkan membuka peluang bagi talenta digital untuk mengembangkan sistem digitalisasi rantai pasok biomassa.
Saat ini PLN EPI telah membangun dua fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan menyiapkan pembangunan fasilitas baru di Kijing, Dumai, Lebak, Lamongan, hingga Belawan. Dalam empat tahun ke depan, perusahaan menargetkan pembangunan 22 fasilitas produksi biomassa di berbagai wilayah Indonesia.
PLN EPI memperkirakan nilai ekonomi biomassa akan terus meningkat. Jika implementasi cofiring mencapai 10 juta ton atau sekitar 10 persen kebutuhan pembangkit, nilai ekonominya diproyeksikan mencapai Rp11 triliun.
“Baru 2,5 juta ton saja nilainya sudah hampir Rp3 triliun. Kalau 10 juta ton, potensi ekonominya Rp11 triliun,” kata Hokkop.
Selain menciptakan nilai ekonomi, program biomassa juga diproyeksikan menyumbang penerimaan negara melalui pajak hingga Rp1,25 triliun.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor III Institut Teknologi PLN, Purnomo menegaskan sektor energi nasional masih menghadapi tantangan besar berupa trilema energi, yakni keamanan pasokan, pemerataan akses, dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut dia, Indonesia tetap harus memastikan listrik tersedia secara andal dan dapat diakses seluruh masyarakat, termasuk wilayah terpencil yang membutuhkan investasi sangat mahal untuk elektrifikasi.
“Rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai sekitar 99%, namun masih ada tantangan untuk mencapai 100% masyarakat bisa menikmati listrik, karena sebaran masyarakat sehingga membutuhkan investasi yang sangat tinggi,” kata Purnomo.
Di sisi lain, ungkapnya, pemerintah juga harus memenuhi komitmen pengurangan emisi karbon sesuai Paris Agreement dan target net zero emission 2060 yang telah diratifikasi Indonesia.


Komentar Terbaru