JAKARTA – Limbah pertanian di Indonesia diklaim berpotensi besar menjadi bahan bakar pesawat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuktikannya lewat pengembangan katalis SBA-15 yang mampu mengonversi biomassa nonpangan menjadi bioavtur dengan efisiensi tinggi.
Dalam uji coba, tingkat konversi bahan baku mencapai 99% dan 62% di antaranya menjadi prekursor bioavtur. Setelah tahap akhir, hampir seluruh produk masuk dalam rentang hidrokarbon bahan bakar penerbangan.
“Selain efisiensi tinggi, katalis ini stabil dan bisa dipakai berulang,” ungkap Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN, Indriyati dalam pertemuan ilmiah ORNAMAT #89, Selasa (21/7).
Indriyati menjelaskan katalis mesopori berbasis SBA-15 untuk meningkatkan efisiensi produksi bioavtur berbasis biomassa.
Katalis ini dimodifikasi melalui metode sulfatasi menggunakan amonium sulfat. Struktur pori berukuran meso di dalamnya dinilai mampu mempercepat reaksi katalitik untuk mengubah senyawa turunan biomassa menjadi hidrokarbon energi tinggi.
“Keseimbangan antara tingkat keasaman, luas permukaan, dan kemudahan akses ke struktur pori menjadi faktor penting,” jelas Indriyati.
Penelitian katalis untuk bioavtur oleh BRIN merupakan hasil kolaborasi dengan Korea Institute of Science and Technology (KIST), Universitas Indonesia, dan Universitas Padjadjaran.
BRIN mengungkap pemanfaatan limbah pertanian, kehutanan, dan perkebunan ini sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular. Dengan begitu, petani tidak hanya menghasilkan pangan, tapi juga energi.
“Sektor penerbangan masih jadi penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Dibutuhkan bahan bakar berkelanjutan,” kata Indriyati.
Menurutnya, penelitian ini membuka peluang baru dalam pengembangan bioavtur berbasis biomassa yang memiliki kualitas lebih baik. Selain menghasilkan tingkat konversi yang tinggi, penelitian ini juga memberikan peluang menghasilkan prekursor bioavtur dengan rantai karbon yang lebih panjang, yang merupakan karakteristik penting dalam pembuatan bahan bakar pesawat.
“Ke depan, BRIN akan terus mengembangkan material katalis agar memiliki stabilitas, ketahanan, dan kinerja yang lebih baik melalui penyempurnaan struktur pori, peningkatan daya tahan katalis, serta pemanfaatan bahan baku yang mendukung prinsip ekonomi sirkular,” ujarnya.(RA)

Komentar Terbaru