JAKARTA – Tim Metallurgy PT Amman Mineral Nusa Tenggara Tbk (AMNT) atau AMMAN sukses ciptakan inovasi penerapan Controlled Potential Sulfidisation (CPS) dengan menambahkan teknologi sensor Oxidation Reduction Potential (ORP).

ORP ini jadi sangat vital perannya karena dalam operasi, bijih mineral yang diolah bisa berasal dari bijih segar langsung dari proses penambangan maupun dari stockpile (bijih yang telah ditambang dan disimpan untuk kebutuhan produksi).

Tantangan muncul ketika tim mengolah bijih stockpile karena bijih tersebut mengalami oksidasi, sehingga tingkat perolehan tembaga cenderung menurun saat bijih tersebut diolah di pabrik flotasi. Jika dibiarkan, penurunan recovery ini pada akhirnya ikut menggerus nilai ekonomi bijih stockpile dari waktu ke waktu.

Didit bersama tim metallurgy AMMAN fokus pada solusi untuk meningkatkan perolehan tembaga (recovery). Semakin tinggi tingkat perolehan, semakin banyak kandungan tembaga dalam bijih mineral yang berhasil diolah menjadi produk konsentrat, dan semakin sedikit yang terbuang sebagai limbah/tailing.

Sebagai putra daerah Sumbawa Barat, Didit mengaku bahwa inovasi ini lahir dari budaya bekerja yang sangat kondusif.

“Di AMMAN, kami didorong untuk terus termotivasi menjadi lebih baik lagi dan tidak cepat puas. Budaya kerja yang sangat mendukung, seperti semangat kerja sama dan dukungan para pimpinan juga menjadi kunci untuk melahirkan inovasi ini. Perusahaan memberikan ruang luas bagi kami untuk terus berinovasi menciptakan sistem yang paling efektif. Bagi saya, ini adalah bukti bahwa semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global,” cerita Didit dalam keterangannya, Senin (25/5).

ORP berhasil meningkatkan recovery atau perolehan tembaga secara signifikan. Hebatnya, performa tinggi ini justru dibarengi dengan penurunan konsumsi bahan kimia hingga 18,3%. Inovasi ini membuat operasional jadi lebih efisien dan produktif, di mana teknologi mampu mengoptimalkan sumber daya sekaligus menekan biaya operasional.

Controlled Potential Sulfidisation (CPS) merupakan proses yang berperan dalam meningkatkan kemampuan mineral tembaga agar bisa dipisahkan dan diambil secara lebih efektif dalam proses flotasi.

Tim metallurgy menambahkan teknologi sensor ORP yang digunakan untuk memonitor kondisi kimia lumpur hasil pengolahan (slurry) secara langsung dan seketika (real-time), membuat data jadi lebih akurat, sehingga dapat memastikan dosis reagen pengaktif (NaHS) yang ditambahkan ke dalam slurry tersebut tepat.

Ibarat memasak dengan bumbu yang harus pas, penambahan reagen ini juga harus tepat, sehingga mineral tembaga yang sebelumnya sulit diproses kini lebih mudah diperoleh dalam proses flotasi. Proses flotasi merupakan proses di mana mineral yang mengandung tembaga atau emas dibuat menempel pada gelembung udara, lalu naik ke permukaan sehingga bisa dipisahkan dari material yang tidak bernilai.

 

Pengakuan Internasional di MetPlant 2026

Keberhasilan inovasi ini dituliskan dalam sebuah karya ilmiah yang dipresentasikan di MetPlant 2026 yang berlangsung di Adelaide, Australia. MetPlant merupakan salah satu konferensi metalurgi bergengsi di dunia pengolahan mineral, tempat para pakar global berkumpul untuk bertukar informasi dan praktik terbaik dalam desain dan operasi pabrik mineral.

Didit dan rekan-rekannya yang mewakili AMMAN mendapatkan pengakuan luar biasa, di mana karya ilmiah tersebut mendapat penghargaan ‘Best Paper’. Hal ini membuktikan bahwa kualitas inovasi dari tanah dan putra Sumbawa Barat diakui dengan sangat baik di level internasional. (RI)